TOPIK.ID — PT Gudang Garam Tbk (GGRM) memberikan sinyal mengenai arah kebijakan dividennya dalam Public Expose 2026 yang digelar Kamis (10/9/2026). Perseroan menyebut kondisi pinjaman yang relatif rendah dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan penggunaan kas, termasuk kemungkinan pembagian dividen.
Direktur Gudang Garam (GGRM) Heru Budiman mengatakan perseroan telah membagikan dividen sebesar Rp1,6 triliun untuk tahun buku 2025 atau setara Rp800 per saham. Ke depan, besaran dividen masih akan bergantung pada kebutuhan dana perusahaan dan kondisi bisnis, terutama strategi penetapan harga rokok.
Gudang Garam Buka Peluang Dividen Lebih Besar
Dalam Public Expose Live, Heru menjelaskan posisi pinjaman GGRM saat ini relatif sangat rendah. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk mempertimbangkan pembagian dividen apabila dana yang tersedia tidak diperlukan untuk kebutuhan bisnis.
Namun, peningkatan dividen bukan berarti akan dilakukan secara otomatis. Manajemen harus memperhitungkan kebutuhan modal serta perkembangan industri rokok, termasuk strategi harga yang diterapkan para pesaing.
Heru menjelaskan kenaikan harga rokok menjadi salah satu faktor yang dapat membantu perseroan meningkatkan profitabilitas. Meski demikian, langkah tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kompetitor dan respons konsumen.
Strategi Harga Rokok Jadi Pertimbangan Utama
Menurut manajemen, kenaikan harga rokok tidak dapat ditentukan menggunakan formula sederhana antara kenaikan harga dan penurunan volume. Gudang Garam akan melihat kondisi pasar terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Strategi tersebut menjadi penting karena kenaikan harga yang terlalu tinggi berpotensi membuat produk GGRM menjadi lebih mahal dibandingkan kompetitor. Kondisi itu dapat mendorong konsumen, khususnya segmen menengah ke bawah, berpindah ke merek lain.
Risiko lainnya adalah konsumen yang sudah beralih belum tentu kembali meskipun harga kemudian diturunkan. Karena itu, manajemen tidak hanya mempertimbangkan profitabilitas, tetapi juga mempertahankan basis konsumennya.
Pendapatan Turun, Profitabilitas Justru Membaik
Dari sisi kinerja, pendapatan Gudang Garam pada enam bulan pertama 2026 turun 7,2% menjadi Rp41,17 triliun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi volume penjualan yang merosot 13,6%.
Meski pendapatan dan volume turun, penyesuaian harga jual yang dilakukan bertahap sejak paruh kedua 2025 hingga awal 2026 membantu memperbaiki profitabilitas. Beban cukai, PPN, dan pajak rokok turun 14% seiring penurunan volume.
Dampaknya, margin laba bruto meningkat dari 8,5% menjadi 14,5%. Perseroan juga berhasil memangkas beban usaha sebesar 33,8% serta menurunkan beban bunga seiring berkurangnya pinjaman.
Laba GGRM Tembus Rp3 Triliun pada Semester I 2026
Perbaikan profitabilitas tersebut turut mendorong lonjakan laba. Stockbit Sekuritas mencatat laba bersih GGRM pada kuartal II 2026 mencapai Rp1,4 triliun, dibandingkan hanya Rp13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, laba bersih semester I 2026 mencapai Rp3 triliun, jauh meningkat dibandingkan Rp117 miliar pada semester I 2025.
Kinerja tersebut menjadi modal penting bagi ruang gerak perseroan ke depan. Dengan pinjaman yang rendah dan profitabilitas yang membaik, peluang pembagian dividen tetap terbuka, meski keputusan akhirnya akan bergantung pada kebutuhan dana serta strategi bisnis Gudang Garam.
Ikuti TOPIK.ID
