Bisnis

Sektor Konstruksi Topang Prospek Cerah Batu Bara Metalurgi

Industri baja global dan sektor konstruksi dorong prospek batu bara metalurgi. Indonesia miliki potensi besar lewat cadangan yang masif.

Tambang batubara metalurgi PT Borneo Prima (BP)
Tambang batubara metalurgi PT Borneo Prima (BP) (Sumber: dok. BP)

Sektor konstruksi global memegang peranan vital dalam menyerap pasokan baja dunia, yang secara langsung mengerek kebutuhan terhadap batu bara metalurgi sebagai bahan baku utamanya. Berdasarkan data dari World Steel Association (WSA), produksi baja mentah global sepanjang 2025 menyentuh angka 1,85 miliar ton dengan sektor konstruksi menyumbang sekitar 52% dari total penggunaan baja di seluruh dunia.

Permintaan yang tinggi ini beriringan dengan pasokan dari sejumlah negara produsen utama yang tergolong terbatas. Ketua Komite Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hendra Sinadia, menyatakan bahwa tren industri coking coal atau batu bara metalurgi terpantau positif.

“Prospek industri coking coal atau batu bara metalurgi dinilai positif dan menjanjikan, didorong oleh tingginya permintaan dari industri baja global serta keterbatasan pasokan di beberapa negara produsen utama. Menurut International Energy Agency (IEA), permintaan batu bara metalurgi diproyeksikan stabil pada 2026 dan mengalami sedikit peningkatan pada 2027,” ujar Hendra dalam keterangan rilisnya dikutip di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Merujuk pada data WSA, proyeksi permintaan baja global mengalami kenaikan dari 1,718 miliar ton pada 2025 menjadi 1,722 miliar ton pada 2026. Angka tersebut kemudian diperkirakan kembali naik tipis sebesar 1,7% menjadi 1,752 miliar ton pada 2027.

Perbedaan Fungsi dengan Batu Bara Termal

Batu bara metalurgi difungsikan untuk menghasilkan kokas, yakni material kaya karbon yang krusial dalam proses pembuatan besi melalui tanur tinggi atau blast furnace. Kokas bertindak sebagai penyedia panas, pendorong reaksi kimia pengolahan bijih besi, sekaligus penjaga struktur material.

Guru Besar Pertambangan ITB sekaligus Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, menerangkan bahwa komoditas ini memiliki fungsi yang berbeda dari batu bara termal untuk pembangkit listrik.

“Jadi kalau kita lihat, batu bara metalurgi jadi kokas, kemudian menjadi besi baja. Batu bara termal dibakar masuk ke PLTU, jadi listrik. Batu bara metalurgi dapat menggantikan batu bara termal, tetapi tidak sebaliknya. Itu penting sekali,” kata Irwandy.

Ia menambahkan, secara teknis batu bara metalurgi memang dapat dipakai sebagai bahan bakar PLTU melalui pencampuran agar kalorinya sesuai, namun hal tersebut jarang dilakukan karena harganya yang jauh lebih mahal. Sebaliknya, batu bara termal tidak bisa diaplikasikan untuk memproduksi baja lantaran tidak memiliki sifat coking serta mempunyai kadar abu dan sulfur yang lebih tinggi.

Potensi Cadangan dan Peran Indonesia

Di tengah dinamika tersebut, Indonesia mempunyai peluang emas untuk memperbesar perannya dalam rantai pasok batu bara metalurgi dunia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa pada 2025, Indonesia memiliki sumber daya batu bara metalurgi sekitar 2,12 miliar ton serta cadangan mencapai 490 juta ton, dengan Kalimantan Tengah sebagai salah satu wilayah potensial.

PT Borneo Prima (BP) menjadi salah satu entitas yang menggarap sektor ini melalui operasional tambang di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, di atas lahan konsesi seluas kurang lebih 15.000 hektare.

Chief Financial Officer Borneo Prima, Ilham Nugraha, memaparkan bahwa basis cadangan perusahaan telah memenuhi standar Joint Ore Reserve Committee (JORC) demi menjamin transparansi informasi.

“Borneo Prima memiliki sumber daya (resource) dan cadangan (reserve) yang cukup mencukupi untuk produksi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Hasil JORC kami tahun 2026 itu total reserve kami adalah 87,7 juta ton dengan total resource sekitar 202 juta ton,” jelas Ilham.

Dari sisi spesifikasi, produk dari Borneo Prima memiliki kadar abu yang tergolong rendah di kisaran 4-8% serta kandungan fosfor di bawah 0,005%. Karakteristik ini membuat produk tersebut ideal untuk proses coal blending guna memenuhi kebutuhan teknis produsen baja.

Perusahaan juga mengoperasikan fasilitas pencucian batu bara berkapasitas 1,5 juta ton yang dirancang menerapkan pemulihan air sebesar 99% tanpa limbah cair serta memanfaatkan tenaga surya hibrida.

Dalam berekspansi, Borneo Prima memperoleh dukungan penuh dari IMR Group dari sisi permodalan, keahlian teknis, hingga jaringan pasar global. Director Marketing & Commercial Borneo Prima, Animesh Misra, menyebutkan bahwa skala operasi IMR Group mencakup perdagangan lebih dari 30 juta ton per tahun dengan dukungan lebih dari 500 kapal sewaan setiap tahunnya.

Kedekatan geografis Indonesia dengan pasar utama baja Asia seperti China dan India turut memberikan keunggulan tersendiri bagi produsen nasional untuk memperluas penetrasi pasar global.