Standard Chartered menggelar Indonesia Treasury Leadership Forum (TLF) 2026 di Jakarta pada Selasa (13/10). Forum tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan tahunan yang telah berlangsung di 24 pasar global, sekaligus menandai pelaksanaan pertama program tersebut di seluruh pasar ASEAN.
Acara ini mempertemukan para pelaku industri untuk membahas perubahan lanskap keuangan, mulai dari perkembangan pembayaran digital hingga strategi perusahaan menghadapi pergeseran rantai pasok. Indonesia dipilih sebagai lokasi terakhir dalam rangkaian tur ASEAN, dengan sejumlah isu strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan bisnis dan pengelolaan keuangan perusahaan.
Indonesia Menjadi Penutup Tur Global Standard Chartered
Head of Transaction Banking & Cash Management Singapore & ASEAN sekaligus Global Head of Cash Structured Solutions Development Standard Chartered, Ankur Kanwar, menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan forum di Jakarta.
Ia mengatakan, rangkaian TLF tahun ini telah membawa perspektif dan pengalaman dari berbagai pasar ke Indonesia. Menurut Ankur, penyelenggaraan di seluruh pasar ASEAN untuk pertama kalinya menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
Indonesia menjadi pemberhentian terakhir setelah forum digelar di berbagai wilayah dunia. Penutupan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membahas tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menjalankan operasional keuangan di tengah perubahan teknologi dan kondisi ekonomi.
Integrasi Pembayaran Digital dan Keamanan Siber
Salah satu pembahasan utama forum menyoroti perkembangan pembayaran digital, aset digital, serta keamanan siber. Sistem pembayaran real-time, dompet digital, dan kode QR dinilai telah berkembang pesat di Indonesia maupun kawasan ASEAN.
Meski demikian, perusahaan masih menghadapi tantangan untuk mengintegrasikan proses pembayaran dan notifikasi langsung ke dalam alur kerja operasional. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pengiriman berkas pembayaran atau pesan API secara manual kepada bank.
Para panelis juga menekankan bahwa perlindungan transaksi tidak hanya menjadi tanggung jawab perbankan. Bank dapat menyediakan sistem peringatan dan pengelolaan informasi keamanan, tetapi perusahaan tetap perlu memperkuat kontrol internal untuk mengurangi risiko serangan siber.
Treasury Berperan Strategis Menghadapi Ketidakpastian
Panel kedua membahas perubahan jalur perdagangan dan restrukturisasi rantai pasok global. ASEAN dinilai memiliki peluang untuk menarik investasi berkat posisinya di antara Tiongkok dan India serta pertumbuhan pasar domestik yang dinamis.
Investor kini mempertimbangkan lebih dari sekadar lokasi pembangunan pabrik. Kualitas kebijakan, tata kelola, sistem keuangan, dan stabilitas makroekonomi turut menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi usaha.
Dalam kondisi tersebut, fungsi treasury tidak lagi terbatas pada pekerjaan administratif. Tim treasury memiliki peran strategis dalam menghubungkan arah bisnis dengan kebutuhan keuangan, termasuk pengelolaan likuiditas, arus kas, dan mitigasi risiko.
Ankur menutup forum dengan menekankan pentingnya kesiapan menghadapi disrupsi. Menurutnya, perusahaan memang tidak dapat mengendalikan setiap perubahan, tetapi dapat mempersiapkan diri agar mampu melewati tantangan dan mengubahnya menjadi peluang.






