Teknologi

Aplikasi Kencan Bumble Resmi Diakuisisi Ithaca Holdings Senilai USD 1,3 Miliar

Aplikasi kencan Bumble sepakat diakuisisi Ithaca Holdings senilai Rp 23 triliun dan bersiap menjadi perusahaan privat.

Aplikasi Kencan Bumble

Bumble bersiap menyongsong kepemilikan baru setelah menyetujui kesepakatan akuisisi senilai USD 1,3 miliar atau sekitar Rp 23 triliun dengan Ithaca Holdings. Langkah korporasi ini menandai babak baru bagi platform pencarian jodoh tersebut yang sebelumnya sempat mencatatkan sejarah sebagai salah satu kisah sukses terbesar di industri kencan daring.

Melalui transaksi ini, Bumble akan bertransisi menjadi perusahaan privat (go private) setelah berbulan-bulan menghadapi tantangan berupa penurunan jumlah pelanggan, pelemahan pendapatan, serta desakan kuat untuk melakukan perombakan pengalaman pengguna. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memberikan ruang bagi perusahaan untuk bernapas tanpa tekanan ketat dari pasar publik.

Bermula pada 2014 melalui tangan dingin Whitney Wolfe Herd, Bumble mencuri perhatian industri berkat inovasi khasnya yang memberikan hak istimewa kepada perempuan untuk memulai percakapan terlebih dahulu. Keunikan tersebut berhasil mengangkat popularitas platform hingga mencatatkan penawaran umum perdana saham pada 2021 dengan valuasi menyentuh kisaran USD 14 miliar atau setara Rp 250 triliun.

Kendati demikian, peta persaingan industri kencan digital mengalami pergeseran drastis dalam beberapa tahun terakhir. Bumble mulai kewalahan menghadapi penurunan basis pelanggan berbayar, tren pendapatan yang melandai, serta kejenuhan publik terhadap sistem kencan berbasis usap (swipe) yang mendominasi pasar.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan kuartal kedua 2026, Bumble membukukan pendapatan sebesar USD 211 juta, atau merosot 15,2 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, jumlah pengguna berbayar anjlok hingga 16,4 persen dan kini tersisa di kisaran 3,2 juta pengguna.

Keputusan pelepasan kepemilikan ini diambil setelah panitia independen dari jajaran direksi Bumble merampungkan peninjauan menyeluruh terhadap berbagai alternatif strategi bisnis, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada proposal dari Ithaca Holdings.

“Di Ithaca, kami menemukan mitra yang sejalan dengan visi kami, percaya pada misi kami yang mengutamakan perempuan, dan berkomitmen untuk berinvestasi demi masa depan Bumble,” ujar Wolfe Herd.

Status baru sebagai perusahaan tertutup dinilai bakal memberikan keleluasaan lebih besar bagi manajemen untuk meracik fitur-fitur inovatif serta melakukan transformasi radikal tanpa perlu terbebani laporan triwulanan kepada para pemegang saham publik.

Saat ini, manajemen tengah menguji coba teknologi kecerdasan buatan sekaligus memusatkan perhatian pada upaya mempertemukan para pengguna secara langsung di dunia nyata, sejalan dengan tren perubahan perilaku kalangan muda dalam mencari pasangan.

Salah satu wujud nyata dari strategi tersebut adalah peluncuran fitur bernama Plans pada Juli lalu, yang dirancang untuk mempertemukan para pengguna lewat berbagai kegiatan luring. Wolfe Herd juga sempat membocorkan rencana pengembangan metode interaksi anyar yang berpotensi menggantikan mekanisme usap tradisional.

Tekanan di sektor industri kencan daring ini tidak hanya dialami oleh Bumble seorang diri. Match Group selaku induk usaha dari sederet platform populer seperti Tinder, OkCupid, dan Hinge turut menyaksikan kejatuhan nilai saham yang cukup signifikan dari level tertinggi mereka pada 2021 akibat kesulitan membujuk konsumen agar mau berlangganan.