Topik.id — Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia meraih medali emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah menundukkan China dengan skor 3-2 dalam final yang berlangsung di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang, Kamis (24/9/2026). Sempat tertinggal 0-2, Indonesia membalikkan keadaan melalui kemenangan Alwi Farhan, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, dan Moh Zaki Ubaidillah pada tiga partai terakhir.
Keberhasilan tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang Indonesia di nomor beregu putra Asian Games. Sebelum edisi 2026, medali emas terakhir Merah Putih dari nomor ini diraih pada Asian Games 1998 di Bangkok. Indonesia sebelumnya tercatat menjadi juara pada 1962, 1970, 1978, 1994, dan 1998.
Perjalanan menuju emas kali ini berlangsung dramatis. China sempat berada di posisi yang sangat menguntungkan setelah merebut dua pertandingan pertama. Indonesia kemudian bangkit dan memaksa final berlangsung hingga partai kelima.
Jonatan Christie Belum Mampu Buka Poin Indonesia
Indonesia menurunkan Jonatan Christie pada pertandingan pertama menghadapi Shi Yu Qi. Namun, Jonatan kesulitan mengembangkan permainan sejak gim pembuka.
Shi Yu Qi mampu memberikan tekanan dan mengendalikan tempo pertandingan. Jonatan akhirnya harus mengakui keunggulan lawannya dalam dua gim langsung dengan skor 13-21, 18-21. Hasil itu membuat Indonesia tertinggal 0-1.
Jonatan sebenarnya sempat menunjukkan perlawanan lebih kuat pada gim kedua. Ia bahkan mampu unggul 11-7 saat interval sebelum Shi Yu Qi perlahan mengejar, menyamakan kedudukan 14-14, dan membalikkan situasi hingga menutup pertandingan.
Fajar/Fikri Kalah dalam Duel Tiga Gim
Tekanan semakin besar ketika Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri turun pada pertandingan kedua menghadapi Liang Wei Keng/Wang Chang.
Pertarungan berlangsung jauh lebih ketat. Fajar/Fikri sempat memperoleh game point pada gim pertama ketika unggul 20-18. Namun, Liang/Wang meraih empat angka berturut-turut untuk merebut gim tersebut 22-20.
Pasangan Indonesia merespons dengan merebut gim kedua 21-19 sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke gim penentuan. Liang/Wang kemudian lebih konsisten pada gim ketiga dan menang 21-14.
Fajar/Fikri pun menyerah 20-22, 21-19, 14-21, membuat Indonesia berada dalam situasi sulit karena tertinggal 0-2.
China hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk memastikan medali emas.
Alwi Farhan Mulai Kebangkitan Indonesia
Dalam kondisi tidak boleh lagi kehilangan pertandingan, Alwi Farhan turun menghadapi Li Shi Feng.
Alwi membuka harapan Indonesia melalui pertarungan sengit. Gim pertama berjalan sampai setting sebelum Alwi mengamankannya dengan skor 23-21. Li membalas pada gim kedua lewat kemenangan 21-15.
Memasuki gim penentuan, Alwi tampil lebih berani. Ia unggul 11-7 saat interval dan mampu mempertahankan momentum hingga mencapai match point 20-15.
Smash Alwi yang gagal dikembalikan Li akhirnya menyelesaikan pertandingan dengan skor 23-21, 15-21, 21-16. Indonesia memangkas ketertinggalan menjadi 1-2 sekaligus kembali membuka peluang mengejar emas.
Kemenangan Alwi menjadi titik balik. Setelah dua kekalahan beruntun pada awal final, Indonesia kembali mendapatkan momentum.
Leo/Daniel Selamatkan Indonesia dari Kekalahan
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kemudian mendapatkan tugas berat menghadapi He Ji Ting/Liu Yi pada pertandingan keempat.
Gim pertama menjadi salah satu fase paling menegangkan dalam final. Leo/Daniel bahkan sempat berada dalam posisi kritis ketika tertinggal 17-20. Namun, pasangan Indonesia mampu membalikkan keadaan dan merebut gim pembuka dengan skor 23-21.
Momentum itu terbawa ke gim kedua. Leo/Daniel tampil jauh lebih dominan dan unggul 11-5 saat interval sebelum terus menjauh.
Mereka akhirnya menang 23-21, 21-10 dalam pertandingan berdurasi sekitar 44 menit. Kemenangan tersebut membuat Indonesia menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Dari kondisi tertinggal dua pertandingan, Indonesia berhasil memaksa China menjalani partai terakhir sebagai penentu medali emas.
Ubed Jadi Penentu Emas Indonesia
Partai kelima mempertemukan Moh Zaki Ubaidillah atau Ubed dengan Weng Hong Yang. Seluruh hasil final pun bergantung pada pertandingan tunggal putra ketiga tersebut.
Ubed datang ke lapangan dengan tekanan besar. Bukan hanya menentukan kemenangan atas China, hasil pertandingan ini juga menentukan warna medali Indonesia setelah kedudukan sama kuat 2-2.
Pebulu tangkis muda Indonesia tersebut akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya dengan mengalahkan Weng Hong Yang. Kemenangan Ubed membuat Indonesia menuntaskan comeback dan menutup final dengan skor 3-2.
Ubed sendiri sebelumnya sudah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan pada babak perempat final. Saat Indonesia dan Malaysia juga berada dalam kedudukan 2-2, ia menjadi penentu dengan mengalahkan Eogene Ewe 21-11, 21-11 untuk mengantar Indonesia ke semifinal.
Kali ini tanggung jawab yang diterimanya jauh lebih besar. Kemenangan pada pertandingan terakhir langsung memastikan medali emas beregu putra Asian Games 2026 untuk Indonesia.
Indonesia Akhiri Penantian 28 Tahun
Emas di Aichi-Nagoya memiliki arti besar bagi bulu tangkis Indonesia. Merah Putih terakhir menjadi juara beregu putra Asian Games pada 1998, ketika turnamen berlangsung di Bangkok.
Dengan demikian, keberhasilan pada 2026 mengakhiri penantian selama 28 tahun untuk kembali berdiri di podium tertinggi nomor beregu putra.
Final melawan China juga memperlihatkan daya juang Indonesia. Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri memang belum berhasil menyumbangkan angka pada dua partai pembuka, tetapi Alwi Farhan menghidupkan harapan, Leo/Daniel membawa pertandingan kembali seimbang, sebelum Ubed menyelesaikan comeback pada laga terakhir.
Hasil final beregu putra Asian Games 2026:
- Jonatan Christie vs Shi Yu Qi: 13-21, 18-21
- Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri vs Liang Wei Keng/Wang Chang: 20-22, 21-19, 14-21
- Alwi Farhan vs Li Shi Feng: 23-21, 15-21, 21-16
- Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin vs He Ji Ting/Liu Yi: 23-21, 21-10
- Moh Zaki Ubaidillah vs Weng Hong Yang: Ubed menang dan memastikan Indonesia unggul 3-2
Indonesia 3-2 China — medali emas beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi milik Merah Putih.
