Wujudkan energi rendah karbon, Indonesia kolabs dengan Inggris

Ardi Nugraha

Indonesia dan Inggris memiliki mekanisme kerja sama 'Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia' (MENTARI) telah diperpanjang hingga tahun 2027.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Menteri Keamanan Energi dan Net Zero Inggris H.E Mr Graham Stuart MP | foto: ekon.go.id
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menerima kunjungan Menteri Keamanan Energi dan Net Zero Inggris H.E Mr Graham Stuart MP di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (7/08/2023). 

Kedua Menteri menyinggung kerja sama transisi energi rendah karbon untuk akselerasi target Net Zero Emission (NZE) 2060, termasuk pengembangan energi baru dan terbarukan. 

Indonesia dan Inggris memiliki mekanisme kerja sama 'Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia' (MENTARI) yang baru-baru ini diperpanjang hingga tahun 2027 kedepan.

Pertemuan kedua menteri membahas isu mengenai perdagangan komoditas pertanian Indonesia – UK, petani kecil dan sertifikasi, serta komitmen terhadap perdagangan sektor pertanian dan isu perubahan iklim, termasuk perkembangan Forest Agriculture, Commodities, and Trade (FACT) Dialogue.

Total nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Inggris pada tahun 2022 mencapai jumlah USD2.7 miliar. Angka tersebut mengalami peningkatan 4.9% dari total perdagangan kedua negara pada tahun 2021. 

Perdagangan pada komoditas pertanian antara Indonesia dan UK pada tahun 2021 sampai 2022 menunjukkan tren positif dengan peningkatan sebesar 10,59%.

Pada kesempatan tersebut, Menko Airlangga menyampaikan beberapa komitmen Indonesia pada perdagangan komoditas pertanian dan perubahan iklim termasuk upaya kebijakan perkebunan keberlanjutan Indonesia dalam menanggapi kebijakan European Union Deforestation-free Regulation (EUDR), yang baru-baru ini dikeluarkan Uni Eropa.

"Penting bagi Inggris untuk mengetahui dan mengakui sepenuhnya standar keberlanjutan nasional sehingga menciptakan kondisi menuju akses pasar yang lebih baik untuk produk yang diproduksi secara berkelanjutan ke Inggris," jelas Menko Airlangga dalam keterangan resminya, Selasa (8/8/2023).

Flagship kerjasama kedua negara dalam mengelola kayu dan produk kayu secara legal dan berkelanjutan tercermin melalui kesepakatan Forest Law Enforcement, Governance, and Trade - Voluntary Partnership Agreement (FLEGT - VPA) yang secara resmi telah berlaku sejak Desember 2018.

Pertemuan juga membahas mengenai langkah yang akan ditempuh ke depan dalam kerangka keketuaan bersama Indonesia dan Inggris pada FACT Dialogue, yang merupakan negara produsen dan konsumen sektor perkebunan dan kehutanan sebagai upaya address isu terkait sektor tersebut.

Dalam hal itu, terutama mengenai aspek keberlanjutan dalam rangka pengurangan emisi secara global. Downstream isu tematik dari FACT Dialgoue yaitu Transparency and Traceability, Smallholder Support, Trade and Market Development, dan Research, Development, and Innovation.

Keketuaan bersama Indonesia dalam forum dialog ini akan berakhir pada akhir tahun 2023, selanjutnya kedua negara sedang mempersiapkan tindak lanjut dari FACT Dialogue pasca kepemimpinan Indonesia.

"Pemerintah Inggris mengapresiasi kerja sama Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sebagai Co-chair FACT Dialogue dan mengharapkan forum dialog non-negosiasi ini dapat terus menjadi forum bagi negara produsen dan konsumen komoditas perkebunan dan kehutanan untuk membahas aspek keberlanjutan," jelas Co-chair Inggris untuk FACT Dialogue, Minister Stuart.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Konten berbasis data.
Kategori konten paling banyak dibaca.
News Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks