— Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengubah batas bawah harga saham di pasar reguler dan tunai dari Rp 50 menjadi Rp 1. Perubahan ini diprediksi akan membawa dampak positif dan negatif bagi saham-saham gocap, termasuk PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang telah lebih dari tiga bulan diperdagangkan di level Rp 50.

Uji coba rencana perubahan batas harga minimum saham ini akan dilaksanakan pada 22 dan 29 Agustus 2026 bersama anggota bursa. Setelah tahapan pengujian selesai, BEI menargetkan implementasi perubahan ini mulai 7 September 2026. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa tujuan penghapusan batasan harga minimum Rp 50 adalah untuk memberikan akses likuiditas dan price discovery yang lebih baik.

BEI telah menggelar diskusi dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) pada 19 Agustus lalu, serta menjalin komunikasi dengan investor global. Saat ini, BEI masih menghimpun masukan dari pelaku pasar dan mengukur kesiapan platform perdagangan anggota bursa.

Dampak Ganda bagi GOTO

Merujuk data Stockbit, saat ini terdapat 46 saham yang harganya mandek di level Rp 50 per saham. Dari puluhan saham tersebut, GOTO menjadi satu-satunya saham big caps yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menilai bahwa penghapusan batas harga minimum Rp 50 berpotensi menjadi sentimen positif bagi GOTO. Perubahan ini diharapkan membuka kembali ruang price discovery dan mengakhiri kondisi saham yang terkunci di level Rp 50. Namun, Nafan mengingatkan bahwa pemberlakuan ketentuan baru ini tidak otomatis membuat sahamnya bullish. Pergerakan harga GOTO nantinya akan sangat ditentukan oleh keseimbangan penawaran dan permintaan.

Faktor penopang GOTO lainnya adalah rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 3,5 triliun dan perbaikan kinerja operasional. “Namun, pasar tetap perlu melihat apakah kekuatan demand mampu mengimbangi potensi tekanan jual setelah floor harga Rp 50 dihapus,” ungkap Nafan.

Di sisi lain, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, melihat potensi penurunan lanjutan GOTO ke bawah Rp 50. Menurutnya, perubahan batas bawah tidak memperbaiki masalah utama, melainkan hanya menghilangkan proteksi artifisial. “Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu pemegang saham, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang,” jelas Wafi.

Wafi menambahkan bahwa masalah utama GOTO adalah likuiditas, seperti yang disorot oleh FTSE dan MSCI sehingga mendepak GOTO dari indeksnya. Secara fundamental, GOTO justru memperlihatkan perbaikan dengan laba bersih yang dicatatkan dua kuartal berturut-turut pada triwulan I dan II tahun 2026. Ia memprediksi investor ritel yang lelah menunggu tanpa opsi exit akan melakukan capitulation selling ketika batas bawah Rp 50 per saham resmi dihilangkan. Di sisi lain, investor yang percaya pada cerita pemulihan GOTO kemungkinan akan melakukan averaging down.

Perilaku Investor Institusi

Wafi juga memetakan respons investor institusi. Bagi investor berbentuk passive fund, perubahan aturan ini tidak relevan karena keputusan investasi mereka disetir oleh perubahan konstituen indeks yang menjadi benchmark, bukan mekanisme perdagangan. Sebagaimana diketahui, MSCI mendepak GOTO dari indeks MSCI Global Standard pada rebalancing Agustus 2026, yang berlaku mulai 1 September 2026. Akibatnya, investor passive fund dipastikan akan melakukan forced sell saham GOTO.

Sementara itu, active fund cenderung bersikap wait-and-see dengan waspada. “Penghapusan batas bawah harga saham adalah perubahan struktur pasar, bukan sinyal perbaikan fundamental. Mereka akan memantau katalis spesifik perusahaan seperti reverse split ketimbang bereaksi hanya karena kebijakan batas bawah semata,” tutur Wafi.

Data menunjukkan, banyak investor institusi berbentuk active fund yang saat ini menanggung unrealized loss atau “nyangkut” di GOTO. Per 12 Agustus 2026, lebih dari 25 investor institusi active fund memiliki rata-rata harga perolehan (average cost basis) jauh di atas harga pasar saat ini.

SVF GT Subco Singapore Pte Ltd dan Alibaba Group Holding Ltd menjadi pemegang saham institusi terbesar dengan porsi di atas 5%. SVF GT Subco menggenggam 7,99% saham dengan average cost basis Rp 70,53, sementara Alibaba Group memegang 7,76% saham dengan average cost basis Rp 342,17. Dengan harga saat ini Rp 50 per saham, SVF GT Subco mencatatkan unrealized loss sebesar Rp 1,87 triliun dan Alibaba Group Rp 25,87 triliun.

Investor institusi global lainnya seperti Blackrock Inc dan Vanguard Group Inc juga tercatat memiliki average cost basis di atas Rp 50. Blackrock memiliki saham di harga rata-rata Rp 91,68 per saham, sedangkan Vanguard Group Inc sebanyak 34.568.177.333 saham di Rp 97,77. Dengan asumsi harga saham Rp 50 per saham, Blackrock mencatatkan unrealized loss Rp 1,57 triliun dan Vanguard Rp 1,65 triliun.

Beberapa nama besar lain yang masuk daftar pemegang saham GOTO ialah Southeastern Asset Management, Norges Bank, Credit Agricole Group, FMR LLC, HSBC Holdings PLC, State Street Corp, UBS AG, dan Schroders PLC. Tiga perusahaan dalam negeri yang juga “nyangkut” di GOTO adalah Indo Premier Sekuritas, BNI Sekuritas, dan Trimegah Asset Management, dengan average cost basis masing-masing Rp 59,44, Rp 85,77, dan Rp 76,83 per saham.