Topik.id — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati investor asing dalam periode 18-21 Agustus 2026. Dalam sepekan tersebut, tercatat adanya net buy investor asing senilai Rp 409,05 miliar, menempatkan BBCA di urutan kedua setelah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Pergerakan positif ini berlanjut dalam dua bulan terakhir, yaitu Juli hingga Agustus 2026. Total akumulasi net buy investor asing untuk saham BBCA mencapai Rp 2,14 triliun selama periode 1 Juli hingga 21 Agustus 2026. Kondisi ini merupakan kebalikan dari bulan-bulan sebelumnya di tahun yang sama, di mana saham BCA secara konsisten mencatatkan net sell asing.
Di tengah minat investor yang tinggi, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga bersiap membagikan dividen interim kedua untuk tahun buku 2026 sebesar Rp 3,07 triliun atau Rp 25 per saham. Keputusan ini telah disetujui oleh dewan komisaris berdasarkan hasil rapat direksi pada 19 Agustus 2026.
Jadwal penting terkait dividen interim ini mencakup cum date di pasar reguler dan negosiasi pada 28 Agustus 2026, serta penetapan daftar pemegang saham yang berhak pada 1 September 2026 pukul 16.00 WIB. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 16 September 2026.
Di antara para penerima dividen, terdapat sejumlah entitas terafiliasi Grup Djarum, yaitu PT Dwimuria Investama Andalan, PT Caturguwiratna Sumapala, dan PT Tricipta Mandhala Gumilang. Dwimuria Investama Andalan, yang menguasai 54,94% saham BBCA, berpotensi menerima sekitar Rp 1,69 triliun. Sementara itu, Caturguwiratna dan Tricipta Mandhala masing-masing berpotensi meraup dividen Rp 31,54 miliar dan Rp 32,83 miliar.
Selain itu, konglomerat Anthoni Salim, yang memiliki 1,15% saham BBCA, diperkirakan akan menerima dividen interim sebesar Rp 35,4 miliar.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyatakan bahwa pembagian dividen interim ini mempertimbangkan posisi permodalan yang solid, likuiditas memadai, pengembangan bisnis, serta kualitas aset yang terjaga. Ia menambahkan bahwa nilai dividen interim yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya mencerminkan kinerja solid perseroan pada semester I-2026 dan diharapkan menjadi apresiasi bagi investor.
Seluruh dividen interim yang dibagikan pada tahun buku 2026 akan diperhitungkan dalam dividen final perseroan yang akan diajukan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun 2027.
Sebelumnya, BCA mencetak laba bersih (bank only) sebesar Rp 35,3 triliun selama Januari-Juli 2026, sejalan dengan ekspektasi analis. Laba bersih ini tumbuh 2% secara tahunan (year on year/yoy).
Pada Juli 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 5,1 triliun, naik 5% yoy dan 12% secara bulanan (month on month/mom). Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBCA pada Juli 2026 meningkat 4% yoy menjadi Rp 7,1 triliun, meskipun secara kumulatif 7M26 NII hanya tumbuh 0,3% yoy akibat tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
NIM BBCA tercatat membaik menjadi 5,5% pada Juli 2026, namun secara kumulatif 7M26 masih turun 20 basis poin (bps) yoy. Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) pada Juli 2026 tumbuh 9% mom ditopang oleh pendapatan non-bunga (non-interest income/non-II) yang meningkat 10% yoy.
Dari sisi pendanaan, rasio current account savings account (CASA) atau dana murah terus membaik menjadi 85,4% pada Juli 2026, didukung oleh pertumbuhan dana murah sebesar 11% yoy, jauh melampaui pertumbuhan deposito berjangka yang justru turun 5% yoy.
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BBCA dengan target harga Rp 8.700, mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027. Risiko utama yang diidentifikasi adalah perlambatan pertumbuhan kredit dan memburuknya kondisi ekonomi makro.
Ikuti Topik.id

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.