— PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan kinerja keuangan yang kuat pada semester I-2026. Pendapatan perusahaan tercatat naik 8,8% menjadi US$1 miliar, sementara laba bersih melonjak 15,6% menjadi US$106 juta. Kinerja positif ini diperkirakan akan memanaskan saham ITMG dengan target harga yang tinggi.

Menurut Phintraco Sekuritas, peningkatan pendapatan ini didorong oleh segmen coal mining dan trading yang tumbuh 10,2%. Secara kuartalan, pendapatan ITMG ditopang oleh kenaikan Average Selling Price (ASP) menjadi US$81 per ton dari sebelumnya US$78 per ton, sejalan dengan tren harga batu bara yang lebih tinggi.

Meskipun volume penjualan mengalami penurunan akibat strategi ITMG untuk mempertahankan inventori sementara, penjualan domestik mencapai US$175 juta atau 17% dari total pendapatan pada semester I-2026. Angka ini meningkat dari kuartal sebelumnya, ditopang oleh penjualan kepada PLN. Sementara itu, ekspor menyumbang 83% dari total pendapatan.

Negara tujuan utama ekspor adalah China, dengan nilai US$271 juta (27% dari total pendapatan) pada semester I-2026. Selain itu, penjualan ekspor ke Jepang mencapai US$268 juta (27% dari total pendapatan) dan Filipina sebesar US$104 juta (10% dari total pendapatan), demikian catatan Phintraco pada Senin (24/8/2026).

Secara operasional, Phintraco mencatat produksi batu bara ITMG turun dari 10,4 juta ton menjadi 9,9 juta ton pada semester I-2026. Penurunan ini terjadi akibat ketidakpastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada awal tahun. Namun, secara kuartalan, produksi meningkat 13% menjadi 5,3 juta ton pada kuartal II, dengan kontribusi terbesar dari tambang Bharinto Ekatama (BEK) sebanyak 1,9 juta ton.

Seiring dengan peningkatan volume penjualan secara tahunan dan realisasi harga batu bara yang lebih tinggi, beban royalti kepada pemerintah juga meningkat 7% menjadi US$111 juta pada semester I tahun ini. Phintraco Sekuritas sendiri mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ITMG dengan fair value yang sama dari pembaruan sebelumnya, yaitu Rp30.900, yang menyiratkan potensi kenaikan sebesar 22%.