Topik.id — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berpotensi menghadapi sentimen negatif jangka pendek yang dapat menyeret harga sahamnya kembali ke bawah level Rp 50. Hal ini menyusul rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menurunkan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Joanne Ong, dalam risetnya pada 20 Agustus 2026, menjelaskan bahwa perubahan batas harga tersebut membuka ruang bagi saham GOTO untuk bergerak di bawah Rp 50. Saham GOTO sendiri telah bertahan di level Rp 50 sejak 6 Mei 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa kebijakan penurunan batas minimum harga saham menjadi Rp 1 ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas dan memperbaiki proses pembentukan harga atau price discovery. Kebijakan ini diperkirakan dapat diterapkan paling cepat pada 7 September 2026.
Bagi GOTO, perubahan regulasi ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan. Perseroan berpotensi menghadapi arus dana keluar pasif atau passive outflow setelah sahamnya baru-baru ini dikeluarkan dari indeks MSCI dan FTSE. Dengan pencabutan batas harga Rp 50, saham GOTO memiliki ruang untuk diperdagangkan di bawah level tersebut apabila tekanan jual meningkat.
Di sisi lain, ketidakpastian regulasi yang selama ini membayangi GOTO menunjukkan tanda-tanda mereda. Salah satu isu utama adalah kebijakan komisi platform sebesar 8% yang diumumkan pemerintah pada 1 Mei 2026. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kini disebut tengah memfinalisasi Peraturan Presiden (Perpres) terkait kebijakan tersebut, yang diperkirakan terbit pada akhir Agustus atau awal September 2026.
GOTO sendiri telah menerapkan komisi 8% untuk layanan on-demand service (ODS) roda dua sejak 1 Juli 2026, sejalan dengan kebijakan pemerintah. Regulasi baru ini akan mengatur kerangka tarif untuk layanan transportasi penumpang, kurir dan pengiriman barang, serta layanan pesan-antar makanan.
Dengan adanya kejelasan kerangka regulasi, analis menilai ketidakpastian terkait aturan komisi 8% secara bertahap mulai berkurang. Meskipun menghadapi potensi tekanan jangka pendek akibat penghapusan batas harga Rp 50, Joanne tetap mempertahankan rekomendasi Add untuk saham GOTO dengan target harga Rp 56 per saham.
Target harga Rp 56 menggunakan pendekatan sum-of-the-parts (SOP) dan mencerminkan valuasi sekitar 15 kali estimasi EV/EBITDA tahun 2026, setara dengan kelipatan perdagangan Grab saat ini. Joanne menilai pertumbuhan kuat bisnis fintech GOTO masih berpotensi menopang pertumbuhan laba perseroan, sementara ketidakpastian regulasi diperkirakan terus berkurang.
Target harga tersebut juga masih menghitung kontribusi nilai dari bisnis ODS, meski terdapat ketidakpastian yang tersisa. Dalam skenario paling konservatif, di mana nilai bisnis ODS diasumsikan nol, nilai wajar GOTO diperkirakan sekitar Rp 43 per saham atau setara 10 kali EV/EBITDA tahun 2026. Oleh karena itu, penurunan saham GOTO ke level Rp 43 atau lebih rendah dilihat sebagai peluang menarik untuk strategi buy on weakness.
Sejumlah katalis yang berpotensi mendorong re-rating saham GOTO antara lain pertumbuhan gross transaction value (GTV) yang lebih tinggi dari perkiraan dan peningkatan efisiensi operasional. Sebaliknya, risiko penurunan meliputi penerapan kerangka komisi 8% yang lebih luas di seluruh segmen ODS, pertumbuhan GTV yang lebih lambat dari perkiraan, serta kerugian yang lebih besar dari perkiraan pada usaha patungan e-commerce.
Ikuti Topik.id

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.