Keuangan

3 Faktor Utama yang Pengaruhi Credit Score Pekerja Muda

Pekerja muda wajib tahu tiga faktor utama yang memengaruhi credit score agar pengelolaan keuangan masa depan tetap sehat dan terencana.

3 Faktor Utama yang Pengaruhi Credit Score Pekerja Muda
Credit Score (Sumber: Clik)

Generasi muda yang baru memasuki dunia kerja dan memperoleh penghasilan sendiri perlu memahami riwayat kredit atau credit score. Di tengah pesatnya layanan keuangan digital, pemahaman ini penting agar keputusan keuangan saat ini tidak berdampak buruk pada kondisi keuangan di masa depan.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) pada 11 Agustus 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46%, sedangkan indeks inklusi keuangan 80,51%. Pada kelompok usia 18–25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat 73,22% dan inklusi keuangan 89,96%. Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai produk dan risikonya.

Riwayat kredit merupakan sistem informasi yang dapat menjadi pertimbangan lembaga keuangan dalam menilai kelayakan seseorang memperoleh pembiayaan. Karena itu, masyarakat disarankan membiasakan diri membayar tagihan tepat waktu dan mengelola pinjaman sesuai kemampuan.

Faktor yang Memengaruhi Credit Score

Berdasarkan informasi dari Pegadaian pada Minggu (18/10/2026), terdapat tiga hal utama yang menentukan skor kredit seseorang:

  • Riwayat pembayaran tagihan.
  • Besarnya kewajiban utang yang dimiliki.
  • Frekuensi pengajuan kredit baru.

Masyarakat disarankan untuk memeriksa laporan kredit secara berkala dan segera menghubungi lembaga terkait apabila menemukan informasi yang tidak sesuai.

Kebiasaan menjaga kesehatan finansial dapat dimulai dari langkah sederhana. Sebagai ilustrasi, seorang pekerja muda berpenghasilan Rp 3 juta per bulan memiliki cicilan Rp 600 ribu, biaya kebutuhan sehari-hari Rp 1,5 juta, serta menyisihkan Rp 300 ribu untuk tabungan.

Pekerja tersebut masih harus mengatur sisa penghasilannya untuk keperluan transportasi, dana darurat, dan pengeluaran lain. Oleh sebab itu, daftar pengeluaran sebaiknya disusun sebelum memutuskan mengambil cicilan tambahan. Batas maksimal kredit juga tidak boleh dijadikan tolok ukur untuk kemampuan berbelanja.

Tips Mengelola Kredit dan Keuangan

Pembayaran cicilan dianjurkan untuk dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo. Penggunaan pengingat pada kalender dapat membantu mencegah terjadinya keterlambatan.

Bagi individu yang memiliki banyak pinjaman, kewajiban yang sudah jatuh tempo harus diprioritaskan terlebih dahulu. Pengajuan utang baru sebaiknya dihindari sampai kemampuan membayar benar-benar dipastikan aman.

Apabila menghadapi kendala dalam pelunasan, langkah bijak yang bisa diambil adalah segera mendatangi atau menghubungi lembaga pemberi pinjaman untuk mendiskusikan opsi penyelesaian. Masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan informasi debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK guna memeriksa catatan kredit atas nama masing-masing.

Pada akhirnya, menjaga riwayat kredit bukan sekadar upaya agar pengajuan pinjaman berikutnya disetujui. Kebiasaan finansial yang sehat berawal dari kemampuan memilah antara kebutuhan dan keinginan, serta memastikan setiap kewajiban finansial sejalan dengan kemampuan membayar. Melalui langkah yang konsisten, kalangan pekerja muda dapat membangun fondasi keuangan yang lebih matang sejak dini.