Masa depan selalu menyimpan berbagai kemungkinan yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Perubahan kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, dinamika geopolitik, hingga perubahan kebutuhan masyarakat dapat membentuk cara menjalani kehidupan di masa mendatang.
Meski begitu, masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan. Diperlukan wawasan yang komprehensif bagi semua pihak agar dapat mengambil keputusan yang tepat, dalam memanfaatkan peluang serta mengelola risiko.
Dini Islami, Research Director Ipsos Indonesia, memaparkan Life Insurance Usage and Attitude Study- Economic Outlook 2027 dalam acara FWD Economic Outook 2027 Navigating Tomorrow with Confidence. Studi ini juga menemukan bahwa masyarakat memandang asuransi jiwa tidak lagi semata-mata sebagai instrumen perlindungan, tetapi juga sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Dia mengatakan, kepercayaan terhadap perusahaan, reputasi, ragam produk, dan dukungan agen menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat dalam mempertimbangkan pembelian asuransi jiwa.
“Selain faktor-faktor tersebut, pendekatan yang berfokus pada nasabah dan kemampuan perusahaan dalam menghadirkan pengalaman yang mudah dan relevan juga menjadi peluang untuk memperkuat keterlibatan konsumen,” kata Dini di Jakarta, baru-baru ini.
Sebanyak 58% responden menyatakan motivasi utama mereka memiliki asuransi adalah untuk tujuan investasi, diikuti oleh keinginan menyediakan dana warisan bagi keluarga (41%) dan memperoleh ketenangan batin (39%).
Selain itu, agen asuransi tetap menjadi sumber utama masyarakat untuk mengenal produk asuransi (80%) sekaligus faktor yang paling memengaruhi keputusan pembelian (51%), menegaskan pentingnya peran interaksi manusia dalam perjalanan nasabah.
“Menurut studi kami, konsumen semakin memandang asuransi jiwa sebagai bagian dari perencanaan masa depan, bukan hanya sebagai perlindungan terhadap risiko yang tidak terduga,” ujarnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan memiliki asuransi didorong oleh kebutuhan untuk merencanakan masa depan dengan lebih baik, memberikan rasa tenang, serta mempersiapkan kesejahteraan keluarga dalam jangka panjang. Di saat yang sama, hubungan yang dibangun melalui agen tetap menjadi elemen yang sangat penting dalam proses tersebut.
“Agen berperan sebagai sumber informasi dan mitra tepercaya yang membantu masyarakat memahami pilihan perlindungan yang tersedia, menjawab berbagai pertimbangan mereka, serta mendukung pengambilan keputusan yang sesuai dengan tujuan keuangan dan kebutuhan masing-masing,” ujarnya.
Sebagai informasi FWD Economic Outook 2027 Navigating Tomorrow with Confidence digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada 19 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas berbagai perkembangan ekonomi yang akan membentuk Indonesia pada 2027 sekaligus mengidentifikasi peluang dan strategi yang dapat dilakukan untuk menghadapi ketidakpastian.
Jeffrey Woo, Direktur Utama FWD Insurance mengatakan, perubahan ekonomi tidak hanya berbicara mengenai angka dan indikator, tetapi juga tentang individu dan keluarga yang sedang mengambil keputusan untuk masa depan mereka.
Di FWD Insurance, kebutuhan nasabah selalu menjadi pusat dari apa yang kami lakukan. Komitmen ini kami wujudkan melalui berbagai upaya untuk memahami aspirasi dan kebutuhan masyarakat, termasuk melalui studi bersama Ipsos yang menemukan bahwa perencanaan masa depan dan ketenangan batin menjadi pendorong utama kepemilikan asuransi.
“Studi tersebut juga menunjukkan bahwa agen memegang peranan penting dalam membantu masyarakat memahami manfaat perlindungan dan memengaruhi keputusan pembelian asuransi. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap nasabah, kami dapat terus menghadirkan solusi dan dukungan yang relevan di tengah perubahan,” ujarnya.
Dengan mengusung tema Navigating Tomorrow with Confidence FWD Insurance menunjukkan komitmen untuk terus hadir di tengah dinamika ekonomi dan perubahan yang dihadapi masyarakat. Melalui forum ini, FWD Insurance menghadirkan berbagai perspektif mengenai kondisi ekonomi, tren konsumen, dan perkembangan industri untuk membantu masyarakat memahami perubahan, menangkap peluang, serta mempersiapkan diri menghadapi dinamika ekonomi di masa mendatang.
Pada kesempatan tersebut Iwan Pasila, Deputi Komisioner Pengawas Persuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK menyampaikan, perkembangan industri keuangan di tengah perubahan kondisi ekonomi dan transformasi digital menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi industri asuransi jiwa.
Regulator dan Industri Perasuransian perlu berkolaborasi untuk melakukan penguatan pengelolaan risiko, peningkatan kapasitas, dan peningkatan kemampuan SDM yang ada untuk dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan di tengah tantangan yang ada.
“Upaya ini diharapkan dapat menciptakan industri perasuransian yang lebih sehat, inklusif, inovatif, dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat sekaligus berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Dalam acara ini hadir Ridwan Nasution, Direktur Eksekutif Surveilens, Pemeriksaan an Pengaturan Bank LPS yang mewakili Anggito Abimanyu selaku Ketua Dewan Komisioner LPS.
Dia menegaskan bahwa kepercayaan merupakan modal ekonomi yang nyata dalam mencapai target pertumbuhan 6% pada 2027. “Ketika peningkatan kepercayaan terjadi, risk premium menurun, biaya pembiayaan juga akan menurun, investasi meningkat, dan sumber daya dapat dialokasikan secara lebih produktif,” ujarnya.
Menanggapi kondisi pasar modal Indonesia, dia menilai pasar modal yang kredibel bukan pasar yang selalu naik, melainkan pasar yang transparan, adil, likuid, dan dapat dipercaya ketika harga naik maupun turun.
Terdapat lima visi utama untuk membangun kepercayaan: kredibilitas fiskal dan moneter, percepatan investasi dan reformasi, integritas pasar keuangan, stabilitas perbankan, serta peningkatan produktivitas. LPS juga menyiapkan Program Penjaminan Polis yang direncanakan berlaku mulai 2028. “Kepercayaan tidak dibangun oleh janji, melainkan oleh kinerja,” tegasnya.
Sehubungan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), Lembaga Penjamin Simpanan mendapat mandat untuk menjalankan Program Penjaminan Polis Asuransi.
“Program ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada pemegang polis, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi, dan mendukung pertumbuhan industri yang lebih sehat dan berkelanjutan. Tahun 2027 adalah aktivasi dari Penjaminan Polis Asuransi dan kami berharap seluruh industri asuransi mendukung aktivasi dan implementasi dari Penjamian Polis Asuransi ini,” tambahnya.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global
Dr Agustinus Prasetyantoko M.S.c memaparkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, berbagai risiko dan ketidakpastian yang akan dihadapi perekonomian dunia, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Agustinus menyampaikan bahwa perekonomian global diperkirakan tumbuh 3,4% di tahun 2027. Sementara itu, kawasan Emerging and Developing Asia, yang mencakup Indonesia diperkirakan mencatat pertumbuhan 4,9% pada periode yang sama.
Ia juga menyoroti tingginya tingkat ketidakpastian global yang menjadi tantangan bagi perekonomian dunia.
“Berdasarkan World Uncertainty Index, dunia pada tahun 2026 menghadapi tingkat ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas serta menopang pertumbuhan ekonomi,” ujar Agustinus.
Pandangan tersebut memberikan perspektif mengenai berbagai tantangan dan peluang yang perlu diantisipasi oleh pelaku industri dan masyarakat dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Sebagai perusahaan asuransi jiwa yang berfokus pada nasabah dengan dukungan teknologi, FWD Insurance terus berkomitmen untuk hadir di berbagai kondisi kehidupan masyarakat melalui pilihan solusi perlindungan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Komitmen ini juga diwujudkan melalui pengembangan customer experience, inovasi, kapabilitas digital, edukasi keuangan, dan kemitraan yang terpercaya, sehingga masyarakat dapat mempersiapkan masa depan sekaligus terus menikmati dan merayakan kehidupannya.
“Kami berharap berbagai pemaparan dan wawasan yang dibagikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, pelaku industri, dan dunia usaha dalam memahami perubahan, menangkap peluang, serta mempersiapkan langkah ke depan,” tutup Jeffrey.









