— Rencana ekspansi dan investasi Nvidia senilai Rp80,5 triliun di Batam menjadi perhatian bagi sejumlah emiten energi yang lebih dahulu membangun proyek energi terbarukan di kawasan tersebut. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) termasuk perusahaan yang memiliki proyek energi hijau di klaster Batam-Bintan.

Kehadiran proyek energi terbarukan tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung apabila rencana pengembangan pusat data berskala besar di Batam terealisasi. Kawasan tersebut memiliki sejumlah faktor yang dibutuhkan industri data center, mulai dari lahan, listrik, energi rendah emisi, hingga akses air dan konektivitas regional.

Batam Dinilai Punya Daya Tarik untuk Data Center

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, melihat posisi Batam cukup strategis untuk menarik investasi pusat data. Selain ketersediaan lahan dan infrastruktur energi, wilayah tersebut memiliki kedekatan geografis dengan Singapura.

Batam juga terhubung dengan jaringan kabel bawah laut yang mendukung kebutuhan konektivitas data. Kondisi itu membuat kawasan Batam-Bintan memiliki akses yang relatif dekat dengan ekosistem pusat data dan pasar digital Asia Tenggara.

Menurut Jason, kebutuhan terhadap energi hijau juga semakin penting bagi operator data center global. Permintaan tersebut berkaitan dengan target net zero yang mendorong perusahaan teknologi mencari pasokan listrik rendah emisi yang dapat diverifikasi.

Kondisi tersebut membuat proyek energi terbarukan yang telah dikembangkan ADRO, MEDC, dan ARKO menjadi relevan dalam melihat potensi perkembangan ekosistem data center di Batam.

MEDC Kembangkan Proyek Surya Berkapasitas Besar

MEDC menjadi salah satu emiten yang telah mengembangkan proyek energi terbarukan di kawasan Batam. Melalui konsorsium Pacific Medco Solar Energy, perusahaan mengoperasikan proyek Bulan Solar PV.

Proyek tenaga surya tersebut memiliki kapasitas sekitar 2 GWp dan menjadi salah satu proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas besar di kawasan Batam-Bintan.

Kehadiran proyek tersebut memberikan tambahan infrastruktur energi terbarukan di kawasan yang berpotensi menjadi lokasi pengembangan pusat data. Namun, sejauh mana kapasitas tersebut dapat terhubung dengan kebutuhan investasi baru tetap bergantung pada struktur proyek dan skema pasokan energi yang nantinya ditetapkan.

ADRO dan ARKO Juga Masuk Ekosistem Energi Hijau

ADRO melalui Adaro Solar International juga telah memperoleh alokasi kapasitas ekspor. Perseroan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS yang dilengkapi sistem penyimpanan energi berbasis baterai di klaster Batam-Bintan.

Sementara itu, ARKO melalui anak usaha tidak langsungnya, Endorshine Energy Solutions, telah mendapatkan pembiayaan untuk proyek PLTS yang sudah beroperasi secara komersial di kawasan tersebut.

Rangkaian proyek tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi rendah emisi di Batam telah berlangsung sebelum munculnya rencana investasi Nvidia.

Bagi ketiga emiten, kondisi ini dapat menjadi peluang apabila kebutuhan listrik hijau untuk industri data center berkembang. Namun, potensi tersebut tetap bergantung pada realisasi investasi dan bentuk kerja sama yang akan terbentuk.

Rencana Nvidia Masih Menunggu Kepastian

Jason menilai rencana Nvidia di Batam dapat menjadi konfirmasi tambahan terhadap prospek kawasan tersebut sebagai lokasi pengembangan infrastruktur digital dan energi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa rencana investasi tersebut belum dapat dianggap sebagai kesepakatan definitif.

Sampai saat ini, struktur investasi dan jadwal pelaksanaan masih perlu ditunggu. Termasuk kemungkinan keterlibatan operator energi lokal dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur proyek.

Dengan kondisi tersebut, investor masih perlu mencermati perkembangan lebih lanjut sebelum mengaitkan langsung proyek energi ADRO, MEDC, dan ARKO dengan ekspansi Nvidia.

Kontrak Listrik Menjadi Faktor yang Perlu Dicermati

Selain perkembangan investasi pusat data, kepastian kontrak pasokan listrik juga menjadi faktor penting bagi emiten energi di Batam-Bintan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kontrak dengan offtaker untuk proyek ekspor listrik ke Singapura.

Kepastian offtaker akan menentukan keberlanjutan sejumlah proyek energi yang telah dikembangkan di kawasan tersebut. Faktor ini juga berdiri sendiri dan tidak secara otomatis berkaitan dengan potensi keterlibatan perusahaan dalam ekosistem data center domestik.

Dengan demikian, rencana investasi Nvidia dapat membuka perhatian baru terhadap pengembangan energi hijau di Batam. Namun, prospek ADRO, MEDC, dan ARKO tetap perlu dilihat berdasarkan perkembangan proyek, kepastian kontrak, skema investasi, serta realisasi kebutuhan energi di kawasan tersebut.