Bisnis

Laba Alamtri Resources (ADRO) Melonjak 71,27% Jadi Rp 9,3 Triliun Hingga September 2026

Alamtri Resources mencatat laba bersih Rp 9,3 triliun hingga September 2026, naik 71,27%. Pendapatan dan aset ADRO juga meningkat.

Laba Alamtri Resources (ADRO) Melonjak 71,27% Jadi Rp 9,3 Triliun Hingga September 2026
Foto: Dok. Alamtri

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), emiten yang dikaitkan dengan pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, mencatatkan pertumbuhan laba signifikan selama sembilan bulan pertama 2026. Perseroan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 516,55 juta atau sekitar Rp 9,3 triliun berdasarkan kurs konversi dalam laporan keuangan perusahaan.

Pencapaian tersebut meningkat 71,27% dibandingkan laba bersih pada periode Januari-September 2025 sebesar US$ 301,59 juta. Sejalan dengan pertumbuhan laba, pendapatan usaha ADRO juga mengalami kenaikan, disertai peningkatan sejumlah komponen aset dan liabilitas perusahaan.

Pendapatan ADRO Naik Menjadi US$ 1,9 Miliar

Pertumbuhan laba bersih Alamtri Resources ditopang oleh peningkatan pendapatan usaha. Hingga akhir September 2026, pendapatan perusahaan mencapai US$ 1,9 miliar, naik dari US$ 1,34 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan pendapatan tersebut turut mendorong laba bruto menjadi US$ 776,29 juta. Pada Januari-September 2025, ADRO mencatatkan laba bruto sebesar US$ 463,52 juta.

Perbaikan juga terlihat pada laba sebelum pajak penghasilan. Angka tersebut meningkat menjadi US$ 728,94 juta dari sebelumnya US$ 421,18 juta.

Dengan capaian laba tersebut, laba per saham ADRO ikut meningkat. Perseroan mencatat laba per saham sebesar US$ 0,01794 pada akhir September 2026, lebih tinggi dibandingkan US$ 0,01022 per saham pada September 2025.

Total Aset Alamtri Resources Bertambah 20%

Di luar pertumbuhan kinerja laba, posisi keuangan ADRO juga mengalami perubahan. Total aset perusahaan meningkat US$ 1,37 miliar atau sekitar 20%, dari US$ 6,81 miliar pada laporan keuangan akhir 2025 menjadi US$ 8,18 miliar pada laporan keuangan September 2026.

Manajemen menjelaskan, salah satu penyebab peningkatan tersebut berasal dari kenaikan persediaan sebesar US$ 394 juta atau 340%. Nilainya bertambah dari US$ 116 juta menjadi US$ 510 juta, terutama akibat peningkatan persediaan aluminium ingot.

Komponen investasi lain-lain juga mengalami pertumbuhan sebesar US$ 317 juta atau 51%. Nilainya naik dari US$ 626 juta pada akhir 2025 menjadi US$ 943 juta pada September 2026.

Peningkatan investasi tersebut terutama berasal dari perubahan nilai wajar aset keuangan melalui penghasilan komprehensif lain sebesar US$ 231 juta serta penambahan unit penyertaan pada dana investasi senilai US$ 105 juta.

Selain itu, aset tetap ADRO bertambah US$ 544 juta atau 23%, dari US$ 2,36 miliar menjadi US$ 2,9 miliar. Manajemen mengaitkan kenaikan ini dengan peningkatan aset hak guna.

Liabilitas Naik akibat Sewa dan Pembiayaan Proyek Smelter

Seiring bertambahnya aset, total liabilitas Alamtri Resources juga mengalami peningkatan. Hingga September 2026, liabilitas perusahaan mencapai US$ 2,576 miliar, naik US$ 763 juta atau 42% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$ 1,813 miliar.

Kenaikan terbesar berasal dari liabilitas sewa yang bertambah US$ 660 juta atau 866%. Nilainya meningkat dari US$ 76 juta menjadi US$ 736 juta, terutama karena adanya perjanjian sewa baru untuk bangunan dan peralatan.

Utang bank juga mengalami kenaikan sebesar US$ 347 juta atau 47%. Posisi utang tersebut bertambah dari US$ 745 juta menjadi US$ 1,092 miliar.

Menurut manajemen, peningkatan utang bank berkaitan dengan penarikan tambahan fasilitas pinjaman untuk membiayai proyek smelter aluminium. Dengan demikian, pertumbuhan aset dan liabilitas ADRO turut mencerminkan peningkatan kebutuhan pendanaan perusahaan selama periode berjalan.