Pasar modal Indonesia menghadapi periode penuh ketidakpastian menjelang pengumuman hasil peninjauan indeks MSCI pada 11 November 2026. Keputusan tersebut dijadwalkan berlaku efektif mulai 1 Desember 2026 dan berpotensi memengaruhi arah perdagangan saham di dalam negeri.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana memperkirakan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut. Di tengah situasi tersebut, saham sektor komoditas seperti ADRO, PTBA, dan MEDC masuk dalam daftar emiten yang dinilai memiliki peluang untuk dicermati investor.
Sentimen MSCI Membayangi Pergerakan IHSG
Menurut Hendra, hasil evaluasi MSCI akan menjadi salah satu penentu arah pasar dalam waktu dekat. Respons IHSG nantinya sangat bergantung pada keputusan yang diumumkan serta sejauh mana hasil tersebut sesuai dengan perkiraan pelaku pasar.
Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Pada Jumat (30/10/2026), transaksi di pasar reguler BEI mencatatkan net sell asing sebesar Rp 176 miliar. Jika dihitung sejak awal tahun, total penjualan bersih investor asing telah mencapai Rp 126 triliun.
Hendra menilai derasnya arus dana keluar tersebut berkaitan dengan persoalan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia. Transparansi, kualitas tata kelola, dan kepastian regulasi menjadi sejumlah aspek yang masih menjadi perhatian investor.
“Kondisi tersebut mencerminkan persoalan kepercayaan investor terhadap transparansi, tata kelola, dan kepastian regulasi pasar modal Indonesia,” kata Hendra di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
IHSG Berpeluang Menguji Area 4.980
Dari sisi teknikal, Hendra melihat IHSG masih berada dalam fase bearish. Indeks diperkirakan berpotensi bergerak menuju 4.980. Apabila tekanan jual membuat level tersebut terlewati, area 4.907 menjadi sasaran penurunan berikutnya.
Kemungkinan IHSG merosot hingga 4.000 juga belum sepenuhnya hilang. Akan tetapi, skenario tersebut memerlukan tekanan berlapis, mulai dari hasil evaluasi MSCI yang tidak menguntungkan, peningkatan arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, hingga penurunan kepercayaan investor.
Di sisi lain, keputusan MSCI yang lebih moderat dapat memberikan ruang bagi IHSG untuk mengalami technical rebound. Peluang pemulihan juga dapat terbuka apabila otoritas menunjukkan langkah nyata dalam memperbaiki transparansi pasar modal.
Hendra turut mengingatkan bahwa tekanan harga tidak otomatis menunjukkan memburuknya kondisi fundamental emiten. Perusahaan dengan arus kas memadai, tingkat utang terjaga, serta keuntungan yang stabil dinilai mempunyai daya tahan lebih baik.
Target Harga ADRO, PTBA, dan MEDC
Di tengah gejolak pasar, Hendra memberikan perhatian kepada tiga saham sektor energi dan pertambangan. Ketiganya dinilai memiliki karakter bisnis yang dapat menjadi pertimbangan investor, meskipun tetap menyimpan risiko masing-masing.
Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memperoleh rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 2.600. Diversifikasi usaha menjadi salah satu faktor pendukung, sedangkan pelaksanaan proyek dan kebutuhan belanja modal perlu diperhitungkan.
Untuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Hendra menetapkan target Rp 3.500 dengan rekomendasi speculative buy. Kepemilikan aset batu bara dan peluang pembagian dividen menjadi pertimbangan, sementara normalisasi harga komoditas berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan.
Adapun PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) direkomendasikan speculative buy dengan sasaran harga Rp 1.550. Aktivitas usaha minyak dan gas menjadi penopang, tetapi perubahan harga energi, pergerakan nilai tukar, serta beban utang tetap perlu diperhatikan.
Hendra menyarankan investor tidak terburu-buru mengambil posisi. Pembelian secara bertahap, disertai penyediaan likuiditas dan pengendalian risiko, menjadi strategi yang dapat diterapkan selama ketidakpastian pasar masih berlangsung.









