Upaya pelestarian hutan mangrove terus digencarkan guna melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menjaga stabilitas ekosistem. Selain berfungsi sebagai benteng alami garis pantai, ekosistem mangrove memiliki peran krusial dalam menyerap karbon serta menyediakan ruang hidup bagi berbagai biota laut.
Kegiatan rehabilitasi lingkungan tersebut salah satunya dilaksanakan di kawasan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Aksi ini melibatkan sinergi antara sektor swasta, lembaga pemerhati lingkungan, dan warga setempat.
PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (CCB Indonesia) melalui program “Hijau Desaku” menggandeng organisasi Indonesia Hijau beserta sejumlah mitra untuk menanam sebanyak 6.000 bibit mangrove. Langkah ini diambil guna memperkuat perlindungan kawasan pesisir dan menumbuhkan kepedulian ekologis di tengah masyarakat.
Bibit yang dipilih untuk ditanam merupakan jenis Rhizophora mucronata yang berusia sekitar dua hingga tiga bulan. Dalam proses penanamannya, setiap bibit menggunakan sistem satu ajir agar posisi tanaman tetap kokoh selama fase awal pertumbuhan.
Direktur CCB Indonesia Andreas Basuki menjelaskan bahwa inisiatif rehabilitasi ini tidak sekadar berfokus pada penambahan jumlah pohon di area pantai, melainkan bentuk komitmen nyata terhadap keberlangsungan lingkungan.
“Bagi kami, menanam mangrove bukan sekadar menanam bibit. Di balik setiap bibit Rhizophora mucronata, ada harapan agar pesisir tetap terlindungi, karbon terus diserap dan ekosistem tetap terjaga,” ujarnya.
Andreas menambahkan, manfaat jangka panjang dari keberadaan mangrove sangatlah vital, khususnya dalam meredam dampak abrasi, mengikat karbon, serta mempertahankan keseimbangan alam di wilayah pesisir.
Melalui payung program “Hijau Desaku,” kegiatan ini juga dirancang agar masyarakat sekitar terdorong untuk lebih aktif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan tempat tinggal mereka.
Edukasi Lingkungan Sejak Dini
Di samping aksi penanaman pohon, acara tersebut turut melibatkan 20 anak dari wilayah Muaragembong dalam sesi edukasi lingkungan. Mereka diberikan pemahaman mengenai bahaya abrasi serta urgensi menjaga kawasan pesisir.
Melalui pendekatan edukatif ini, para peserta cilik diharapkan mampu memahami korelasi langsung antara keberadaan hutan mangrove, keamanan wilayah pesisir, dan kelangsungan hidup masyarakat sekitar.
Andreas menilai bahwa pelibatan generasi muda merupakan elemen esensial dalam menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.
“Kami juga berharap anak-anak yang ikut menanam dapat tumbuh dengan kepedulian untuk menjaga lingkungan di wilayahnya,” ucapnya.
Menurutnya, pengalaman terjun langsung ke lapangan memberikan sarana pembelajaran yang efektif bagi anak-anak untuk mengenal alam sejak usia dini. Hal tersebut dinilai sangat mendesak bagi warga pesisir karena perubahan lingkungan dapat berdampak langsung pada aktivitas harian mereka.
Pemeliharaan dan Keberlanjutan Program
Faktor penentu keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada jumlah pohon yang ditanam, melainkan tingkat kelangsungan hidup tanaman setelah penanaman. Oleh karena itu, pengawasan dan pemeliharaan berkala menjadi kunci agar bibit dapat tumbuh optimal dan berfungsi secara ekologis.
Dalam pelaksanaannya di Muaragembong, CCB Indonesia bekerja sama dengan Indonesia Hijau yang diketuai oleh Arifin Adib, serta komunitas Gabungan Tutorial dan Kolaborator (Gabut & Co.) yang menghadirkan Tina Septiani Siregar selaku Ketua Divisi Lingkungan Indonesia Hijau.
Kegiatan penanaman ini juga dihadiri oleh Corporate Secretary CCB Indonesia, Thomas Widianto, unsur Perhutani, serta Bimaspol Muaragembong.
Seluruh lahan yang menjadi lokasi penanaman berada di bawah pengawasan Perhutani, Bimaspol Muaragembong, serta komunitas Gabut & Co. Agenda ini tercatat sebagai aksi penanaman gelombang kedua yang dilakukan oleh CCB Indonesia di wilayah Muaragembong.
Sebelumnya, korporasi telah menyebar 5.000 bibit mangrove di lokasi serupa. Dengan tambahan 6.000 bibit pada kesempatan terbaru ini, total akumulasi penanaman yang telah direalisasikan mencapai 11.000 bibit mangrove.
Kendati demikian, jumlah kuantitas bibit bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Evaluasi berkala terhadap pertumbuhan tanaman tetap dijalankan untuk mengukur tingkat efektivitas pemulihan ekosistem pesisir.
Melalui kolaborasi lintas sektor antara dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, aparat pemerintah, dan warga, program rehabilitasi ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan wilayah pesisir Muaragembong serta membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian alam.









