— Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, terus mengembangkan kawasan hutan mangrove di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam. Kawasan seluas sekitar 60 hektare tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi tujuan wisata, tetapi juga sebagai kawasan konservasi dan ruang pembelajaran mengenai ekosistem pesisir.

Pengembangan ekowisata mangrove dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan fungsi lingkungan dan potensi ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah menilai keberadaan berbagai jenis mangrove serta satwa lokal di kawasan tersebut dapat menjadi daya tarik sekaligus sarana edukasi bagi warga dan wisatawan yang datang.

Mangrove Kampung Baru Jadi Laboratorium Alam

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Penajam Paser Utara, Safwana, mengatakan kawasan mangrove Kampung Baru dirancang sebagai laboratorium alam. Konsep tersebut menempatkan pelestarian ekosistem sebagai bagian utama dalam pengembangan kawasan wisata.

Menurut dia, keberadaan hutan mangrove memiliki fungsi penting bagi lingkungan pesisir. Karena itu, pengembangan kawasan tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga diarahkan untuk memperkenalkan pentingnya menjaga keberadaan mangrove.

Keaslian spesies yang masih ditemukan di kawasan tersebut menjadi salah satu modal untuk membangun wisata berbasis edukasi. Masyarakat dan pengunjung nantinya dapat mengenal lebih dekat ekosistem mangrove sekaligus memahami manfaatnya bagi wilayah pesisir.

Bekantan dan Burung Lokal Jadi Daya Tarik

Selain vegetasi mangrove, kawasan tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati yang dapat mendukung konsep wisata edukasi. Sejumlah satwa endemik lokal, termasuk bekantan dan berbagai jenis burung, menjadi bagian dari ekosistem yang hendak diperkenalkan kepada pengunjung.

Keberadaan satwa tersebut dapat menjadi materi pembelajaran mengenai hubungan antara hutan mangrove dan kehidupan satwa di kawasan pesisir. Pengelolaan yang berorientasi konservasi juga diharapkan dapat menjaga habitat satwa agar tetap berlangsung secara alami.

Konsep ini membuat pengembangan Kampung Baru tidak hanya mengandalkan panorama alam sebagai daya tarik wisata. Lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati menjadi bagian penting dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Jembatan Titian Disiapkan untuk Akses Wisatawan

Untuk mendukung aktivitas wisata, pemerintah daerah merencanakan pembangunan sejumlah fasilitas secara bertahap. Salah satu infrastruktur yang disiapkan adalah jembatan titian dengan panjang sekitar 100 hingga 200 meter.

Jembatan tersebut dirancang membentuk huruf T pada bagian ujungnya. Selain berfungsi sebagai jalur untuk menikmati kawasan mangrove, pembangunan jembatan juga dirancang untuk membuka akses penyeberangan wisatawan menuju Pulau Gusung.

Keberadaan jalur tersebut diharapkan membuat kawasan mangrove lebih mudah dijangkau sekaligus memberikan ruang bagi pengunjung untuk menikmati ekosistem pesisir tanpa mengganggu fungsi utama kawasan.

Fasilitas Pendukung Akan Dikembangkan Bertahap

Pengembangan kawasan mangrove juga mencakup sejumlah fasilitas penunjang. Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara merencanakan penyediaan lahan parkir, kawasan kuliner, serta fasilitas yang berkaitan dengan keamanan pengunjung.

Pembangunan dilakukan secara bertahap agar pengembangan wisata tetap dapat berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan fungsi konservasi. Penataan fasilitas menjadi penting agar peningkatan jumlah pengunjung tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.

Dengan konsep tersebut, kawasan mangrove Kampung Baru diharapkan dapat menjadi destinasi yang menggabungkan unsur wisata, pendidikan, dan pelestarian alam.

Potensi Wisata Sekaligus Tambahan PAD

Pemkab Penajam Paser Utara melihat pengembangan ekowisata mangrove juga memiliki peluang ekonomi bagi daerah. Aktivitas wisata yang dikelola dengan baik dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung, termasuk sektor kuliner dan jasa wisata.

Di sisi lain, pengembangan destinasi tersebut berpotensi memberikan tambahan pendapatan asli daerah (PAD). Namun, fungsi konservasi tetap menjadi bagian utama dalam pengelolaan kawasan seluas sekitar 60 hektare itu.

Pemerintah daerah berharap hutan mangrove Kampung Baru dapat berkembang menjadi salah satu ciri khas pariwisata edukasi di Penajam Paser Utara. Pengelolaan yang berkelanjutan diharapkan mampu menjaga ekosistem sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.