Regional

Mengenal Surili, Primata Langka yang Bayinya Diselamatkan dari Kebakaran Gunung Ciremai

Mengenal surili, primata endemik Jawa yang dilindungi. Simak ciri fisik, habitat, makanan, perilaku, dan status konservasinya.

Mengenal Surili, Primata Langka yang Bayinya Diselamatkan dari Kebakaran Gunung Ciremai
Bayi Surili yang diselamatkan dari kebakaran Gunung Ciremai (Sumber: RRI)

Surili merupakan salah satu primata endemik Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan dan penyusutan habitat hutan. Satwa bernama ilmiah Presbytis comata ini dikenal memiliki bulu abu-abu, wajah gelap, jambul khas di bagian kepala, serta ekor panjang yang membantunya menjaga keseimbangan saat bergerak di pepohonan.

Keberadaan surili kembali menjadi perhatian setelah seekor bayi primata tersebut berhasil diselamatkan relawan dari kebakaran hutan di kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Kamis (22/10/2026).

Bayi surili ditemukan dalam kondisi lemas di dahan pohon yang terdampak kebakaran. Berkat pertolongan relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), satwa tersebut akhirnya dapat dipertemukan kembali dengan induknya pada Jumat (23/10/2026).

Peristiwa itu memperlihatkan pentingnya menjaga habitat satwa liar, terutama spesies yang kehidupannya sangat bergantung pada keberadaan pohon dan tutupan hutan.

Surili termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan Indonesia. Dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), surili jawa berstatus Vulnerable atau rentan terhadap kepunahan berdasarkan penilaian tahun 2022.

Lantas, seperti apa karakteristik surili, di mana habitatnya, apa makanannya, dan mengapa satwa ini perlu dilindungi?

Apa itu surili?

Surili adalah primata dari famili Cercopithecidae yang termasuk kelompok monyet Dunia Lama.

Satwa ini memiliki nama ilmiah Presbytis comata dan dikenal secara internasional sebagai Javan surili, Javan leaf monkey, atau grizzled leaf monkey.

Surili merupakan satwa endemik Jawa, artinya secara alami spesies ini hanya ditemukan di Pulau Jawa dan tidak memiliki populasi asli di wilayah lain.

Persebarannya terutama mencakup Jawa bagian barat serta sejumlah kawasan hutan di Jawa Tengah.

Berbeda dengan monyet ekor panjang yang relatif mudah ditemukan di berbagai lingkungan, surili lebih bergantung pada habitat berhutan dengan tutupan tajuk yang mendukung aktivitasnya.

Sebagian besar waktu surili dihabiskan di atas pohon untuk mencari makanan, beristirahat, dan bergerak bersama kelompoknya.

Karakteristik tersebut membuat keberadaan hutan menjadi kebutuhan utama bagi kelangsungan hidup surili.

Ciri-ciri fisik surili yang mudah dikenali

Surili memiliki penampilan khas yang membedakannya dari jenis primata lain di Pulau Jawa.

Pada individu dewasa, warna bulu umumnya abu-abu dengan variasi dari abu-abu terang hingga gelap, bergantung pada populasi dan wilayah persebarannya.

Bagian dada, perut, serta sisi dalam lengan dan kaki biasanya memiliki warna lebih terang dibandingkan bagian punggung.

Wajah surili berwarna gelap dengan mata kecokelatan dan jambul rambut yang tampak menonjol di bagian kepala.

Tubuhnya cenderung ramping, sementara kaki dan lengannya mendukung pergerakan di antara cabang pepohonan.

Surili dewasa memiliki bobot sekitar 6–8 kilogram.

Panjang tubuhnya berkisar 43–60 sentimeter, sedangkan ekornya dapat mencapai sekitar 56–72 sentimeter berdasarkan panduan identifikasi mamalia dilindungi yang diterbitkan pemerintah.

Ekor panjang tersebut bukan digunakan untuk mencengkeram dahan, melainkan membantu menjaga keseimbangan saat surili melompat atau bergerak di atas pohon.

Warna dan bentuk tubuh ini membantu mengenali surili, meskipun identifikasi satwa liar sebaiknya tetap memperhatikan karakteristik spesies secara menyeluruh.

Habitat surili berada di hutan Pulau Jawa

Habitat alami surili berada di kawasan hutan tropis Pulau Jawa, terutama wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah.

Surili dapat ditemukan di hutan dataran rendah, hutan pegunungan, hutan primer, serta hutan sekunder yang masih memiliki tutupan vegetasi memadai.

Secara historis, spesies tersebut pernah tercatat hidup dari kawasan rendah hingga ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut.

Namun, berkurangnya kawasan hutan menyebabkan banyak populasi surili kini lebih banyak bertahan di kantong-kantong habitat pegunungan yang terpisah.

Beberapa kawasan konservasi yang menjadi habitat surili antara lain Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Populasi surili juga ditemukan di sejumlah kawasan hutan lainnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Satwa ini lebih menyukai lapisan tajuk tengah hingga atas, tempat pepohonan saling terhubung dan menyediakan jalur pergerakan.

Ketersediaan pohon besar menjadi penting karena surili menggunakan percabangan untuk berpindah tanpa harus sering turun ke tanah.

Ketika hutan terfragmentasi, pergerakan antarkelompok juga menjadi semakin terbatas.

Apa makanan utama surili?

Surili termasuk primata pemakan daun atau folivora.

Makanan utamanya berupa daun, khususnya daun muda yang menjadi bagian penting dari pola makannya.

Selain daun, surili juga mengonsumsi bunga, buah, dan biji dari berbagai jenis tumbuhan hutan.

Penelitian mengenai pola makan surili menunjukkan bahwa proporsi daun dalam makanannya cukup dominan, terutama pada populasi yang hidup di kawasan pegunungan.

Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, salah satu penelitian mencatat daun muda menyumbang sekitar 65 persen dari komposisi makanan surili yang diamati.

Komposisi tersebut dapat berbeda bergantung pada lokasi, ketinggian, musim, dan ketersediaan sumber makanan.

Surili memiliki sistem pencernaan yang beradaptasi untuk mengolah bahan tumbuhan berserat tinggi.

Lambungnya memiliki beberapa ruang yang membantu proses fermentasi makanan dengan dukungan mikroorganisme.

Karena memiliki kebutuhan nutrisi dan sistem pencernaan khusus, surili tidak dapat disamakan dengan monyet yang mengonsumsi beragam jenis makanan.

Pemberian makanan sembarangan kepada surili, terutama bayi yang masih menyusu, dapat membahayakan kesehatannya.

Perilaku surili, hidup berkelompok dan aktif pada siang hari

Surili merupakan satwa arboreal, yakni hewan yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan.

Selain itu, surili tergolong hewan diurnal karena aktif pada siang hari dan beristirahat pada malam hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, surili melakukan berbagai aktivitas seperti mencari makan, berpindah antarpohon, beristirahat, serta berinteraksi dengan anggota kelompok.

Surili umumnya hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri atas satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa, dan anak-anak.

Pada kondisi tertentu, kelompok juga dapat memiliki lebih dari satu jantan dewasa.

Ukuran kelompok berbeda-beda bergantung pada kondisi habitat dan ketersediaan makanan.

Penelitian di kawasan Gunung Slamet, Jawa Tengah, pernah mencatat kelompok surili yang terdiri atas dua hingga 14 individu.

Surili juga menggunakan suara untuk berkomunikasi.

Jantan dewasa dapat mengeluarkan panggilan keras yang terdengar dari jarak jauh untuk menandai wilayah, menjaga hubungan dengan kelompok, atau merespons keberadaan kelompok lain.

Komunikasi tersebut membantu surili mempertahankan kehidupan sosial di tengah kawasan hutan yang luas.

Bayi surili sangat bergantung pada induknya

Seperti primata lainnya, bayi surili membutuhkan perlindungan dan pengasuhan dari induk selama tahap awal kehidupannya.

Induk surili umumnya melahirkan satu anak setelah masa kehamilan sekitar lima hingga enam bulan.

Pada awal kehidupan, bayi akan bergantung pada induknya untuk mendapatkan susu, kehangatan, serta perlindungan.

Saat bergerak di pepohonan, bayi biasanya menempel pada tubuh bagian depan induk.

Penelitian mengenai surili menunjukkan bahwa masa menyusui dapat berlangsung hingga sekitar satu tahun sebelum anak semakin mandiri.

Anggota kelompok betina lainnya juga dapat membantu pengasuhan bayi, suatu perilaku yang dikenal sebagai allomothering.

Karena ketergantungan tersebut, bayi surili yang terpisah dari induk berada dalam kondisi rentan.

Risikonya semakin besar apabila pemisahan terjadi akibat gangguan habitat, termasuk kebakaran hutan.

Kisah bayi surili yang diselamatkan dari kebakaran Gunung Ciremai

Peristiwa penyelamatan bayi surili di Gunung Ciremai menjadi contoh nyata ancaman terhadap satwa yang hidup di kawasan hutan.

Pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, Darsa atau Dodo, relawan Masyarakat Peduli Api asal Desa Padabeunghar, menemukan bayi surili di kawasan Puncak Dulang.

Ketika itu, Dodo bersama relawan lainnya sedang berusaha memadamkan kebakaran hutan pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut.

Ia mendengar suara dari arah pepohonan sebelum menemukan seekor bayi surili yang berada sendirian di dahan pohon terdampak api.

Satwa tersebut ditemukan dalam keadaan lemah dan telah terpapar asap kebakaran.

Dodo kemudian membawanya ke tempat yang lebih aman untuk mendapatkan pertolongan darurat.

Setelah kondisinya membaik, para relawan berupaya mencari kelompok surili di kawasan hutan yang belum terbakar.

Pencarian akhirnya membuahkan hasil pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

Bayi surili berhasil dipertemukan kembali dengan induknya sekitar 300 meter dari lokasi awal penemuan.

Menurut keterangan Dodo, induk surili datang menghampiri setelah mendengar suara bayinya, kemudian membawa anak tersebut kembali bersama kelompok.

Keberhasilan penyelamatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dapat memisahkan satwa dari kelompoknya dan mengganggu habitat alami mereka.

Apakah surili termasuk hewan yang dilindungi?

Surili termasuk satwa dilindungi di Indonesia.

Nama ilmiah Presbytis comata tercantum dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Dalam lampiran peraturan tersebut, spesies ini tercatat dengan nama Indonesia lutung surili.

Status perlindungan nasional berarti pengambilan, pemeliharaan, serta perdagangan surili tidak dapat dilakukan secara bebas dan harus mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.

Perlindungan ini diberikan karena keberadaan surili di alam memerlukan upaya konservasi, terutama berkaitan dengan tekanan terhadap populasi dan habitatnya.

Di tingkat internasional, perdagangan surili juga termasuk dalam pengaturan CITES Appendix II.

Artinya, perdagangan internasional spesies ini berada di bawah pengawasan dan pengaturan untuk mencegah pemanfaatan yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya.

Status konservasi surili menurut IUCN

International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan surili jawa dalam kategori Vulnerable atau rentan berdasarkan penilaian terbaru yang tersedia, yakni tahun 2022.

Status rentan berarti spesies tersebut menghadapi risiko kepunahan yang tinggi di alam liar.

Penilaian IUCN memperkirakan jumlah populasi surili jawa berada pada kisaran 5.000–12.000 individu, dengan sekitar 2.300–5.500 individu dewasa.

Angka tersebut merupakan estimasi ilmiah untuk keseluruhan populasi, bukan hasil sensus langsung pada satu tahun tertentu.

IUCN juga mencatat bahwa populasi surili mengalami tren penurunan.

Salah satu persoalan utama adalah terpisahnya populasi ke dalam sejumlah kantong habitat yang tidak lagi saling terhubung.

Kondisi tersebut dapat membatasi pergerakan, interaksi, dan pertukaran genetik antarkelompok.

Perlu diketahui, sejumlah publikasi konservasi lama masih mencantumkan status Endangered atau genting untuk surili.

Namun, penilaian IUCN tahun 2022 yang lebih baru menggunakan kategori Vulnerable. Kedua istilah tersebut menunjukkan tingkat ancaman yang berbeda.

Mengapa surili terancam punah?

Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup surili adalah hilangnya dan menurunnya kualitas habitat hutan.

Perubahan kawasan hutan menjadi permukiman, lahan pertanian, dan perkebunan menyebabkan ruang hidup surili semakin terbatas.

Pemecahan kawasan hutan menjadi bagian-bagian kecil juga membuat kelompok surili terisolasi.

Selain kehilangan habitat, surili menghadapi ancaman akibat gangguan manusia dan perburuan.

Kebakaran hutan menambah risiko karena dapat merusak vegetasi yang menyediakan makanan dan tempat berlindung.

Bagi surili yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan, kerusakan tajuk hutan sangat memengaruhi kemampuan berpindah dan mencari makan.

Kebakaran juga dapat memaksa kelompok surili meninggalkan wilayah jelajahnya untuk mencari lokasi yang lebih aman.

Kasus penyelamatan bayi surili di Gunung Ciremai memperlihatkan bagaimana gangguan tersebut dapat berdampak langsung pada individu yang masih bergantung pada induknya.

Mengapa surili penting bagi ekosistem hutan?

Surili bukan sekadar satwa langka yang perlu dilindungi, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Sebagai pemakan daun, bunga, buah, dan biji, surili menjadi bagian dari hubungan antara tumbuhan dan satwa dalam lingkungan alaminya.

Aktivitas makan surili ikut memengaruhi pertumbuhan vegetasi, sementara konsumsi buah dapat membantu penyebaran biji tumbuhan tertentu.

Keberadaan surili juga mencerminkan pentingnya kawasan hutan yang menyediakan makanan, tempat berlindung, serta jalur pergerakan bagi primata arboreal.

Upaya melindungi surili berarti turut menjaga habitat yang digunakan banyak jenis satwa lain.

Karena itu, kegiatan konservasi tidak cukup hanya berfokus pada perlindungan individu satwa.

Pelestarian kawasan hutan, pencegahan perburuan, serta pengurangan risiko kebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan populasi surili.

Apa yang harus dilakukan jika menemukan surili terluka?

Masyarakat yang menemukan surili terluka, terjebak, atau terpisah dari kelompoknya sebaiknya tidak langsung membawa pulang satwa tersebut untuk dipelihara.

Surili merupakan satwa dilindungi dengan kebutuhan pakan dan perawatan khusus.

Penanganan yang tidak tepat dapat menambah tekanan maupun membahayakan kesehatannya.

Apabila menemukan surili dalam keadaan darurat, masyarakat disarankan segera menghubungi petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pengelola taman nasional, atau petugas konservasi setempat.

Petugas berwenang dapat menentukan langkah penanganan sesuai kondisi satwa, termasuk kebutuhan pemeriksaan kesehatan, rehabilitasi, dan pengembalian ke habitat.

Upaya menjaga keselamatan manusia juga harus menjadi prioritas, terutama ketika satwa ditemukan di area kebakaran atau lokasi berbahaya.

Melindungi surili berarti menjaga kelestarian hutan Jawa

Surili menjadi salah satu kekayaan hayati Pulau Jawa yang memiliki peran penting dalam ekosistem hutan.

Primata bernama ilmiah Presbytis comata ini hidup di atas pepohonan, mengandalkan daun sebagai sumber makanan utama, dan memiliki hubungan sosial yang erat dengan kelompoknya.

Namun, penyusutan dan fragmentasi habitat membuat populasinya menghadapi ancaman serius.

Peristiwa penyelamatan bayi surili dari kebakaran Gunung Ciremai memperlihatkan bahwa gangguan terhadap hutan dapat berdampak langsung pada keselamatan satwa liar.

Dengan status sebagai satwa dilindungi dan kategori rentan menurut IUCN, surili membutuhkan perlindungan habitat serta upaya konservasi berkelanjutan.

Menjaga keberadaan surili berarti turut mempertahankan fungsi hutan Pulau Jawa sebagai tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia.