Market

Harga CPO di Malaysia Melonjak ke Level Tertinggi, Kontrak November 2026 Naik 60 Ringgit

Harga CPO Malaysia menguat tajam pada Jumat, 16 Oktober 2026, ditopang permintaan India, kenaikan minyak nabati global, dan kekhawatiran pasokan.

Harga CPO di Malaysia Melonjak ke Level Tertinggi, Kontrak November 2026 Naik 60 Ringgit

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat signifikan pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Kenaikan ini didorong oleh pergerakan positif harga minyak nabati di China dan Chicago, ditambah kekhawatiran terhadap prospek produksi minyak sawit Indonesia.

Penguatan juga mendapat dukungan dari meningkatnya kebutuhan impor, terutama dari India yang menjadi salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia. Kombinasi sentimen tersebut mengangkat mayoritas kontrak berjangka CPO Malaysia dan mendorong harga mencapai posisi tertinggi dalam tiga pekan.

Kontrak CPO Menguat di Seluruh Periode

Data Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan kontrak CPO November 2026 naik 60 Ringgit Malaysia menjadi 4.536 Ringgit Malaysia per ton. Kenaikan juga terjadi pada kontrak Desember 2026 yang bertambah 57 Ringgit Malaysia ke level 4.676 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak Januari 2027, harga meningkat 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.769 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 turut menguat 37 Ringgit Malaysia ke posisi 4.852 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak Maret 2027 naik 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.926 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak April 2027 mencatat kenaikan lebih terbatas, yakni 17 Ringgit Malaysia, sehingga mencapai 4.984 Ringgit Malaysia per ton.

Mengutip data TradingView, harga berjangka minyak sawit Malaysia sempat melonjak lebih dari 3 persen hingga menembus 4.750 Ringgit Malaysia per ton. Pergerakan tersebut sekaligus membalikkan pelemahan sebelumnya dan membawa harga ke level tertinggi dalam tiga pekan.

Prospek Produksi Indonesia Jadi Perhatian

Pelaku pasar turut mencermati proyeksi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 51,7 juta ton pada 2027, lebih rendah dibandingkan proyeksi 53,7 juta ton pada tahun ini.

Selain produksi, ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan turun hampir 15 persen secara tahunan. Peningkatan penggunaan minyak sawit untuk kebutuhan biodiesel dan pangan dalam negeri menjadi salah satu faktor yang berpotensi membatasi pasokan untuk pasar ekspor.

Prospek berkurangnya pasokan dari Indonesia tersebut memberikan dukungan tambahan bagi harga CPO di pasar internasional.

Permintaan India Menguat, Persediaan Masih Membayangi

Dari sisi permintaan, survei kargo memperlihatkan pengiriman minyak sawit Malaysia selama 1–10 Oktober meningkat 33,5–37,7 persen dibandingkan periode yang sama pada September. Kebutuhan untuk menyambut festival di India ikut mendorong aktivitas pembelian.

Meski demikian, pelaku pasar masih menghadapi risiko dari persediaan minyak sawit Malaysia yang berada di rekor tertinggi. Perhatian juga tertuju pada data pertumbuhan ekonomi China yang dijadwalkan terbit pekan depan.

Perkembangan ekonomi negara tersebut penting bagi pasar karena China termasuk konsumen utama minyak sawit dunia. Di tengah sejumlah faktor yang saling berlawanan, harga CPO berhasil mencatat kenaikan mingguan untuk pekan kedua secara beruntun.