— Harga Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif menjadi tiga pekan berturut-turut, dengan pasar merespons meningkatnya persediaan sawit Malaysia dan penurunan ekspor.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO September 2026 turun 48 ringgit Malaysia menjadi 4.550 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober melemah 46 ringgit menjadi 4.670 ringgit per ton, sementara kontrak November merosot 71 ringgit ke 4.814 ringgit per ton.

Pasokan Sawit Malaysia Jadi Beban Utama

Tekanan terhadap harga CPO semakin kuat setelah data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperlihatkan peningkatan pasokan pada Agustus 2026. Persediaan CPO Malaysia tercatat naik 7,48% secara bulanan menjadi 2,82 juta ton.

Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam delapan bulan dan menunjukkan bahwa pasokan di salah satu produsen sawit terbesar dunia masih cukup besar. Pada saat yang sama, ekspor justru bergerak berlawanan arah dengan penurunan 7,5% menjadi 1,29 juta ton.

Produksi CPO Malaysia juga meningkat 1,39% menjadi 1,82 juta ton. Kombinasi produksi yang lebih tinggi, stok yang membesar, dan ekspor yang melemah menciptakan tekanan terhadap keseimbangan pasar.

Kontrak CPO Jangka Panjang Ikut Tertekan

Pelemahan tidak hanya terjadi pada kontrak terdekat. Kontrak Desember 2026 turun 89 ringgit menjadi 5.944 ringgit per ton. Sementara kontrak Januari 2027 terpangkas 98 ringgit ke 5.056 ringgit dan kontrak Februari 2027 merosot 100 ringgit menjadi 5.148 ringgit per ton.

TradingView mencatat harga CPO masih bergerak di bawah 4.900 ringgit Malaysia per ton dengan sentimen pasar cenderung bearish. Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran investor bahwa tekanan pasokan belum segera mereda.

Indikasi pelemahan ekspor juga terlihat memasuki September. Berdasarkan data surveyor kargo, pengiriman minyak sawit Malaysia pada 10 hari pertama September turun sekitar 11,7%-17,5% dibandingkan periode yang sama pada Agustus.

Kenaikan Harga Minyak Mentah Beri Penahan

Meski tekanan pasokan cukup kuat, CPO masih memperoleh dukungan dari pergerakan minyak mentah dunia. Harga Brent yang kembali menembus US$100 per barel membuat minyak sawit relatif lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel.

Faktor tersebut dapat membatasi ruang penurunan CPO karena kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan daya tarik bahan bakar nabati. Namun, kekuatan katalis tersebut masih harus berhadapan dengan kondisi fundamental pasokan sawit yang membesar.

Cuaca Mulai Jadi Faktor yang Dipantau

Perkembangan cuaca di kawasan produsen juga mulai diperhitungkan pelaku pasar. Kondisi lebih kering dengan curah hujan rendah di Indonesia dan Malaysia selama sekitar enam pekan terakhir berpotensi memengaruhi produktivitas perkebunan apabila berlangsung lebih lama.

Risiko terhadap produksi tersebut dapat menjadi penopang harga dalam beberapa waktu ke depan. Namun untuk saat ini, pasar masih lebih fokus pada tingginya stok dan lemahnya ekspor Malaysia.

Dengan tekanan tersebut, kontrak CPO mencatat pelemahan sekitar 0,9% sepanjang pekan dan menuju penurunan mingguan ketiga secara beruntun.