PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mencatatkan peningkatan kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama 2026. Perusahaan yang bergerak di bidang produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tersebut membukukan pendapatan Rp14,83 triliun hingga 30 September 2026, tumbuh 34,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan pendapatan turut mengangkat perolehan laba perseroan. Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,59 triliun, meningkat 58,43% secara tahunan. Sementara itu, laba periode berjalan secara keseluruhan tercatat Rp1,75 triliun atau naik 71,26% dibandingkan 9M25 setelah penyesuaian proforma.
Penjualan CPO dan Produk Turunan Dorong Pendapatan
Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir September 2026, SSMS memperoleh pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp14,83 triliun. Jumlah tersebut bertambah Rp3,83 triliun dari capaian Rp11 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Kontribusi utama berasal dari penjualan komoditas kelapa sawit beserta produk olahannya. Portofolio yang dipasarkan perusahaan mencakup CPO, RBD palm olein, crude palm kernel oil, dan palm kernel. Penjualan kepada pihak ketiga menjadi bagian dominan dalam aktivitas pendapatan, dengan distribusi yang mencakup pasar ekspor maupun domestik.
Peningkatan aktivitas penjualan tersebut membuat biaya produksi ikut bertambah. Beban pokok penjualan SSMS tercatat Rp8,89 triliun, naik 22,95% dibandingkan Rp7,23 triliun pada periode Januari-September 2025. Meski demikian, kenaikan beban tersebut masih berada di bawah laju pertumbuhan pendapatan.
Kondisi itu tercermin dari laba bruto yang meningkat 57,65% menjadi Rp5,95 triliun. Pada periode pembanding, perseroan membukukan laba bruto sebesar Rp3,77 triliun. Dengan demikian, selisih pertumbuhan antara pendapatan dan beban pokok penjualan memberikan ruang bagi perusahaan untuk mencatatkan peningkatan keuntungan kotor.
Laba Usaha SSMS Naik Menjadi Rp2,76 Triliun
Kinerja positif juga terlihat pada tingkat operasional. SSMS mencatatkan laba usaha Rp2,76 triliun selama 9M26, bertambah Rp830,51 miliar atau tumbuh 43,11% dibandingkan Rp1,93 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Setelah memperhitungkan beban keuangan serta bagian keuntungan dari entitas asosiasi, laba sebelum pajak penghasilan badan mencapai Rp2,33 triliun. Angka tersebut meningkat 52,20% dari posisi Rp1,53 triliun pada 9M25.
Di sisi lain, beban pajak penghasilan badan juga mengalami kenaikan. Perseroan mencatatkan beban pajak Rp575,09 miliar, lebih tinggi 44,94% dibandingkan Rp396,79 miliar pada periode sebelumnya.
Dengan memperhitungkan seluruh komponen tersebut, laba periode berjalan SSMS mencapai Rp1,75 triliun. Dari jumlah itu, sebesar Rp1,59 triliun merupakan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Total Aset SSMS Bertambah Rp5,12 Triliun
Dari sisi neraca, total aset SSMS per 30 September 2026 mencapai Rp18,71 triliun. Nilai tersebut meningkat 37,72% atau bertambah Rp5,12 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp13,58 triliun.
Salah satu komponen yang memengaruhi perubahan aset adalah saldo bank yang dibatasi penggunaannya senilai Rp3,2 triliun. Dana tersebut berkaitan dengan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Aset lancar perusahaan tercatat sebesar Rp11,10 triliun, meningkat dari Rp5,90 triliun pada 31 Desember 2025. Sementara itu, aset tidak lancar berada di angka Rp7,60 triliun per akhir September 2026.
Perubahan komposisi aset tersebut menunjukkan bertambahnya nilai sumber daya yang tercatat dalam laporan keuangan SSMS sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.









