Market

Harga CPO Kembali Menguat, Permintaan Ekspor Malaysia Melonjak Hingga 37,73 Persen

Harga CPO Malaysia naik hingga 61 Ringgit per ton pada 12 Oktober 2026, didukung ekspor yang menguat dan kenaikan minyak kedelai.

Harga CPO Kembali Menguat, Permintaan Ekspor Malaysia Melonjak Hingga 37,73 Persen

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali bergerak naik di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada Senin (12/10/2026). Penguatan ini didorong oleh kenaikan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) serta peningkatan permintaan ekspor minyak sawit Malaysia pada awal Oktober.

Kenaikan terjadi pada seluruh kontrak berjangka yang diperdagangkan. Meski demikian, pasar masih menghadapi tantangan berupa potensi tingginya persediaan domestik dan peningkatan produksi yang dapat memengaruhi pergerakan harga dalam periode berikutnya.

Seluruh Kontrak CPO Berakhir di Zona Hijau

Mengacu pada data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman November 2026 bertambah 61 Ringgit Malaysia menjadi 4.559 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 juga menguat 45 Ringgit Malaysia ke level 4.682 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk pengiriman Januari 2027, harga kontrak naik 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.787 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Februari 2027 bertambah 13 Ringgit Malaysia ke posisi 4.875 Ringgit Malaysia per ton.

Kenaikan lebih terbatas terlihat pada kontrak Maret 2027. Harga kontrak tersebut meningkat 5 Ringgit Malaysia sehingga mencapai 4.960 Ringgit Malaysia per ton.

Pergerakan serentak di seluruh kontrak menunjukkan adanya dukungan terhadap harga CPO, terutama dari perkembangan permintaan pasar dan pergerakan minyak nabati lainnya.

Lonjakan Ekspor Menopang Harga Minyak Sawit

Dikutip dari Bernama, trader Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menyampaikan bahwa permintaan ekspor yang lebih kuat menjadi salah satu faktor pendukung kenaikan harga. Namun, pelaku pasar tetap mencermati risiko penumpukan stok minyak sawit di dalam negeri.

Data Amspec Agri Malaysia memperlihatkan ekspor minyak sawit Malaysia mencapai 491.954 ton selama 1–10 Oktober 2026. Jumlah itu meningkat 37,73 persen dibandingkan periode yang sama pada September, ketika ekspor tercatat 357.194 ton.

Hasil pemantauan Intertek Testing Services juga menunjukkan tren serupa. Ekspor pada awal Oktober mencapai 525.071 ton, naik 33,51 persen dari 393.295 ton pada periode pembanding bulan sebelumnya.

Peningkatan dari kedua lembaga surveyor tersebut memperlihatkan aktivitas pengiriman minyak sawit Malaysia mengalami penguatan pada awal bulan ini. Kondisi tersebut turut memberikan dukungan bagi harga kontrak berjangka CPO.

Produksi September Ikut Menjadi Perhatian

Di sisi lain, kenaikan pasokan masih menjadi faktor yang diperhitungkan oleh pelaku pasar. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) melaporkan produksi CPO pada September 2026 mencapai 2,11 juta ton, meningkat 16,48 persen.

Pertumbuhan produksi tersebut berpotensi menambah ketersediaan minyak sawit di pasar domestik. Karena itu, perkembangan persediaan akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan setelah harga mengalami penguatan.

Ke depan, arah harga CPO akan dipengaruhi keseimbangan antara permintaan ekspor, perkembangan minyak nabati pesaing, serta kondisi produksi dan stok Malaysia. Data perdagangan berikutnya akan menjadi acuan untuk melihat apakah dorongan dari ekspor mampu mengimbangi kekhawatiran terhadap pasokan.