— Pergerakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat mengalami penguatan tipis pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi, yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem di kawasan Teluk Meksiko serta memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu pukul 15.10 WIB, posisi harga minyak WTI berada di kisaran US$ 89,5 per barel. Komoditas ini mencatatkan penguatan harian sebesar 0,18%, kendati secara akumulatif dalam sepekan terakhir masih mengalami koreksi 0,97%.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, melihat bahwa pergerakan harga WTI secara teknikal pada timeframe harian masih berada dalam cengkeraman struktur bearish. Meskipun demikian, peluang terjadinya rebound terbuka untuk menguji area resistance atau Sell Limit sebelum tren penurunan kembali berlanjut.

Sebelumnya, pergerakan harga WTI telah menembus area support di kisaran US$ 89 hingga US$ 88 per barel, yang kemudian disusul oleh fase koreksi naik saat ini.

“Pergerakan ini membuka peluang harga menguji area Sell Limit sebagai trigger entry sebelum kembali melanjutkan pelemahan menuju support US$ 86.76-US$ 84.95 per barel,” ujar Geraldo dalam riset yang diterima pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Dari ranah fundamental, sentimen pasar justru memberikan sokongan positif bagi pergerakan harga minyak. Kekhawatiran pasokan mencuat seiring perkembangan sistem cuaca di Teluk Meksiko yang diprediksi berpotensi menjadi badai Atlantik pertama tahun ini, sehingga mengancam aktivitas produksi migas di wilayah tersebut.

Kawasan lepas pantai Teluk Meksiko sendiri memegang peranan penting karena menyumbang sekitar 15% dari total produksi minyak mentah Amerika Serikat serta menyuplai sekitar 5% kebutuhan produksi gas alam AS. Gangguan operasional di area ini langsung menjadi sorotan ketat pasar.

Selain ancaman badai, faktor geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memberikan tekanan psikologis pada pasar energi. Aksi serangan kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran terhadap sejumlah target di Arab Saudi mendongkrak kekhawatiran atas keamanan fasilitas infrastruktur energi serta jalur distribusi minyak.

“Fundamental saat ini memberikan ruang bagi rebound WTI karena risiko gangguan supply kembali meningkat. Namun, selama kenaikan belum mengubah struktur teknikal Daily, rebound masih berpotensi menjadi koreksi sebelum harga kembali melanjutkan tren bearish,” jelas Geraldo.

Sentimen positif lainnya turut ditopang oleh data persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang dilaporkan oleh Reuters. Stok crude AS tercatat mengalami penurunan hingga melampaui 2 juta barel, yang menandakan pengetatan suplai di pasar domestik negeri Paman Sam.

Kendati demikian, laju kenaikan harga minyak global masih tertahan oleh sejumlah faktor penyeimbang. Peningkatan pasokan dari ekspor minyak Timur Tengah serta rencana pelepasan cadangan strategis meredakan kekhawatiran ekstrem akan kelangkaan.

Kantor berita Reuters mencatat volume ekspor minyak dari Timur Tengah sempat kembali pulih ke posisi sebelum perang pada bulan September lalu. Dinamika tarik-menarik sentimen ini membuat pergerakan harga WTI diprediksi tetap volatil dalam beberapa waktu ke depan.