Indonesia mendorong penguatan kerja sama ekonomi dengan China untuk mempercepat hilirisasi industri dan meningkatkan peran pengusaha nasional dalam rantai pasok. Kemitraan ini dinilai penting agar investasi asing tidak hanya mendatangkan modal dan teknologi, tetapi juga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian domestik.
Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, Noor Sona Maesana Mushonnif, menyampaikan hal tersebut dalam Global South Dialogue: China–Indonesia Roundtable Forum di Jakarta, Senin (19/10/2026). Ia menilai kolaborasi kedua negara dapat menjadi salah satu pendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Kebutuhan Investasi Indonesia Tembus Rp13.000 Triliun
Sona menjelaskan, Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp13.000 triliun selama periode perencanaan 2025–2029 untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Besarnya kebutuhan tersebut membuka peluang bagi investor internasional untuk membangun kerja sama yang lebih luas dengan pelaku usaha dalam negeri.
Menurutnya, kualitas investasi menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. Realisasi investasi diharapkan mampu memperbesar kapasitas industri, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, serta memperluas kesempatan bagi pengusaha nasional untuk berkembang bersama mitra asing.
Hubungan ekonomi Indonesia dan China selama ini telah terjalin di sejumlah sektor strategis, antara lain pengolahan mineral, manufaktur, serta rantai pasok baterai kendaraan listrik. Nilai investasi kumulatif China di Indonesia sepanjang 2021–2025 tercatat mencapai sekitar US$34,44 miliar.
Capaian tersebut dinilai menjadi landasan untuk memperluas kolaborasi ke sektor lain yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Hilirisasi Membuka Peluang di Berbagai Sektor
Selain sektor mineral dan manufaktur, kerja sama Indonesia-China berpotensi dikembangkan dalam bidang energi terbarukan, ekonomi digital, kesehatan, ketahanan pangan, serta hilirisasi perkebunan, perikanan, dan kelautan.
Sona menekankan, pengembangan sektor-sektor tersebut perlu diikuti dengan peningkatan keterlibatan perusahaan nasional. Dengan begitu, manfaat investasi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha domestik dan tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar.
Ia menilai penguatan industri nasional membutuhkan hubungan yang lebih erat antara investor, perusahaan besar, dan pemasok lokal. Kemitraan tersebut harus disertai peningkatan kualitas produk, keterampilan tenaga kerja, serta kemampuan pelaku usaha memenuhi standar industri.
UMKM Didorong Masuk Rantai Pasok Industri
Salah satu langkah yang disoroti Sona adalah membuka akses lebih luas bagi pengusaha nasional dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjadi pemasok industri.
Peluang itu dapat mencakup penyediaan barang, jasa pemeliharaan, layanan logistik, hingga komponen produksi. Perusahaan besar diharapkan menjelaskan kebutuhan dan standar yang harus dipenuhi, sedangkan pemasok lokal memperoleh pendampingan agar mampu memenuhi persyaratan tersebut.
Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam negeri sekaligus memperkuat rantai pasok industri. Investasi pun berpeluang memberikan dampak lebih luas melalui penciptaan kesempatan usaha dan pengembangan keterampilan tenaga kerja.
Kemitraan Jangka Panjang Jadi Prioritas
Sona menegaskan, kerja sama Indonesia dan China perlu dibangun berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, serta manfaat bersama. Hubungan kedua negara diharapkan tidak berhenti pada pencapaian nilai investasi, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif.
Menurutnya, keterhubungan antara investasi, teknologi, kebutuhan industri, dan kemampuan pengusaha nasional menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat kolaborasi tersebut.
Dengan memperkuat keterlibatan perusahaan lokal dalam proyek investasi, Indonesia diharapkan dapat mempercepat hilirisasi sekaligus membangun fondasi industri yang lebih tangguh menuju Indonesia Emas 2045.









