Ketidakpastian ekonomi global mendorong investor mencari pilihan aset di luar instrumen keuangan konvensional. Jam tangan eksklusif, tas bermerek, hingga batu permata pun semakin menarik perhatian karena kelangkaan dan potensi kenaikan nilainya.
Namun, tingginya harga jual sejumlah koleksi di rumah lelang tidak otomatis menjadikan barang mewah sebagai investasi yang menguntungkan. Data pasar menunjukkan kinerja aset koleksi sangat beragam, bergantung pada jenis barang, kondisi, harga pembelian, serta permintaan dari kolektor.
Rekor Lelang Tidak Menjamin Keuntungan
Salah satu penjualan yang mencuri perhatian terjadi pada Juli 2025. Tas Hermès Birkin milik mendiang penyanyi dan aktris Jane Birkin terjual melalui Sotheby’s Paris dengan harga US$10,1 juta atau sekitar Rp150 miliar. Transaksi tersebut mencatatkan rekor sebagai tas tangan termahal yang pernah dilelang.
Meski demikian, harga fantastis itu merupakan kasus khusus dan tidak menggambarkan keseluruhan pasar. Mengutip Money Control, Jumat (16/10/2026), indeks investasi barang mewah Knight Frank menunjukkan kenaikan 38,6% selama 10 tahun, setara imbal hasil tahunan sekitar 3,3%.
Dalam periode lima tahun, kenaikan indeks hanya mencapai 2,2% secara kumulatif. Bahkan, pasar barang mewah secara keseluruhan terkoreksi 0,4% pada 2025 setelah mengalami lonjakan selama pandemi.
Jam Tangan dan Tas Memiliki Kinerja Berbeda
Kategori jam tangan mencatat pertumbuhan 5,1% pada 2025 dan naik 9% dalam lima tahun. Namun, performanya sangat bergantung pada model. Harga Rolex tercatat meningkat 4,6%, sedangkan Patek Philippe melonjak 12,1%.
Model populer seperti Nautilus dan Aquanaut memiliki daya tarik tersendiri. Sebaliknya, sejumlah model yang kurang diminati menghadapi tekanan ketika jumlah barang yang ditawarkan melebihi permintaan.
Sementara itu, tas Hermès Birkin dan Kelly relatif bertahan dengan penurunan harga hanya 0,2% pada 2025. Pasar tas bekas juga menunjukkan perubahan selera, dengan sebagian pembeli mulai mempertimbangkan produk yang memperlihatkan tanda pemakaian alami.
Biaya dan Likuiditas Perlu Diperhitungkan
Laporan Boston Consulting Group dan Altagamma terhadap lebih dari 10.000 konsumen menunjukkan desain, kualitas pengerjaan, daya tahan, dan status produk menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Sebanyak 70% responden mengaku membatalkan pembelian barang mewah dalam setahun terakhir karena menilai harganya tidak sebanding dengan manfaat.
Berbeda dari saham yang dapat memberikan dividen atau obligasi berbunga, barang koleksi mengandalkan kenaikan harga jual. Pemilik juga harus memperhitungkan biaya penyimpanan, asuransi, pemeriksaan keaslian, dan komisi lelang.
Karena itu, jam tangan maupun tas mewah dapat menjadi bagian dari diversifikasi aset, tetapi tidak menjamin keuntungan. Investor perlu memahami pasar, memilih koleksi secara cermat, dan mempertimbangkan sulitnya menjual kembali barang tersebut.









