TOPIK.ID — Situasi kekeringan yang melanda berbagai kawasan kembali menjadikan ketersediaan air hujan sebagai hal krusial. Di tengah bayang-bayang cuaca kering yang berpotensi diperparah oleh fenomena El Niño, umat Muslim diimbau untuk memperbanyak panjatan doa serta memohon pertolongan kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan.
Air memegang fungsi vital bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi. Selain menjadi pasokan utama air bersih bagi masyarakat, curah hujan sangat dibutuhkan guna mempertahankan cadangan air tanah, sektor pertanian, peternakan, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Apabila hujan tak kunjung turun dalam rentang waktu yang lama, situasi tersebut berpotensi memicu bencana kekeringan. Lahan pertanian menjadi gersang, debit sumber air menyusut, dan warga di sejumlah daerah mulai menemui kendala dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Di sisi lain, fenomena El Niño kerap diidentifikasi sebagai pemicu peningkatan potensi cuaca yang lebih kering di Indonesia. Situasi ini menuntut masyarakat untuk mengambil langkah-langkah pencegahan, termasuk membiasakan penghematan pemakaian air serta melindungi kelestarian sumber daya air yang ada.
Bagi umat Islam, upaya lahiriah dalam menghadapi kekeringan tersebut juga dapat disempurnakan melalui ikhtiar batin dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Doa Memohon Hujan Saat Kekeringan
Tradisi Islam menyediakan tuntunan bacaan doa khusus yang dapat diamalkan tatkala suatu wilayah dilanda kemarau panjang dan sangat mendambakan datangnya air hujan.
Salah satu referensi teks doa permohonan hujan termuat dalam buku 5 Shalat Pembangun Jiwa karya Nasrudin Abd Rohim, yakni:
اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ
Latin:Allahummasqinaa ghoitsan mughiitsan mariyyan sarii’an naafi’an ghoiro dhoorrin, ’aajilan ghoiro aajilin.
Artinya:“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat.”
Redaksi doa tersebut memuat harapan agar curah hujan yang kelak turun tidak sekadar lebat, melainkan juga membawa kebermanfaatan luas tanpa menimbulkan malapetaka.
Alternatif Doa Singkat Permohonan Hujan
Selain bacaan tersebut, terdapat pula format doa yang lebih ringkas dan fleksibel untuk diamalkan saat seseorang ingin memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Latin:Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa.
Artinya:“Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”
Panjatan tersebut dapat disuarakan kapan pun suatu kawasan mengalami krisis air akibat kemarau atau saat pasokan air hujan benar-benar mendesak demi mencukupi hajat hidup warga dan lingkungan sekitar.
Teladan Rasulullah SAW dan Salat Istisqa
Memanjatkan permohonan agar diturunkan hujan bukanlah praktik asing di dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW tercatat pernah berdoa secara khusus kepada Allah SWT tatkala para sahabat dihadapkan pada masa-masa kekeringan.
Di samping memperbanyak doa secara mandiri, kaum Muslimin juga mengenal ibadah sunnah yang dinamakan salat Istisqa, yakni ritual salat khusus yang dikerjakan dengan niat memohon turunnya hujan dari Sang Pencipta.
Rangkaian doa meminta hujan ini dapat dilafalkan secara intensif seusai menunaikan salat Istisqa ataupun pada momentum-momentum yang diyakini mustajab untuk berdoa.
Anjuran Bersyukur Saat Hujan Turun
Begitu curah hujan yang dinanti-nantikan akhirnya menyapa bumi, umat Islam dianjurkan untuk menyambutnya dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Salah satu lafaz puji-pujian yang dianjurkan untuk diucapkan ketika hujan mulai turun mencakup:
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Latin:Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih.
Artinya:“Diturunkan kepada kami hujan berkat anugerah Allah dan rahmat-Nya.”
Kalimat tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa air hujan merupakan bentuk karunia serta limpahan kasih sayang murni dari Allah SWT.
Merujuk pada riwayat hadis Muslim, Rasulullah SAW juga mendidik para pengikutnya untuk senantiasa menyandarkan peristiwa turunnya hujan kepada anugerah dan rahmat Allah semata, alih-alih menghubungkannya dengan kekuatan benda-benda langit.
Sinergi Doa dan Aksi Nyata Hadapi El Niño
Fenomena dinamika iklim seperti El Niño memegang peranan signifikan dalam mengubah peta cuaca di Indonesia, yang kerap berujung pada penurunan volume curah hujan di berbagai daerah sekaligus mendongkrak potensi kekeringan.
Kendati demikian, mitigasi kekeringan tidak bisa hanya diandalkan lewat jalur spiritual semata. Warga tetap diwajibkan mengaplikasikan tindakan riil di lapangan, seperti berhemat dalam pemakaian air, merawat kelestarian sumber mata air, mempergunakan air secara efektif, serta mencermati setiap pembaruan data dan peringatan iklim yang dikeluarkan instansi berwenang.
Pengamalan doa dan ikhtiar fisik tersebut sepatutnya berjalan beriringan. Manakala musim kemarau melanda, umat Islam dapat memanjatkan permohonan hujan kepada Allah SWT sembari terus berkomitmen menjaga ketersediaan air serta kelestarian alam sekitar.
