Ekonomi

BPS Petakan Perkiraan Panen Padi Tiga Bulan ke Depan, Pemerintah Siaga Hadapi Ancaman El Nino

BPS memetakan potensi panen padi hingga tiga bulan ke depan sebagai peringatan dini bagi pemerintah untuk mengantisipasi dampak El Nino.

BPS Petakan Perkiraan Panen Padi Tiga Bulan ke Depan, Pemerintah Siaga Hadapi Ancaman El Nino
Photo: Addin Anugrah Siwi)

Badan Pusat Statistik (BPS) menyiapkan data perkiraan panen padi untuk periode hingga tiga bulan mendatang. Informasi tersebut diharapkan membantu pemerintah mengambil langkah antisipasi terhadap ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño yang berpotensi mengganggu produksi beras nasional.

Pemetaan dilakukan dengan memantau perkembangan tanaman padi di berbagai wilayah Indonesia. Melalui data tersebut, pemerintah dapat memperkirakan area yang segera memasuki masa panen sekaligus mengidentifikasi lahan yang berisiko terdampak kemarau. Meski begitu, proyeksi panen tidak menjadi jaminan seluruh tanaman dapat dipanen sesuai perkiraan.

BPS Pantau Fase Pertumbuhan Tanaman Padi

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Statistik Sumber Daya Hayati BPS, Eko Marsoro, menjelaskan bahwa perkiraan waktu panen disusun berdasarkan fase pertumbuhan tanaman yang ditemukan di lapangan. Tanaman pada fase vegetatif awal atau V1 diperkirakan baru dipanen sekitar tiga bulan kemudian, sedangkan fase V2 berpotensi memasuki panen dalam dua bulan.

Sementara itu, tanaman yang telah memasuki fase generatif diperkirakan lebih dekat dengan masa panen, yakni sekitar satu bulan. Adapun lahan yang masih dalam tahap persiapan membutuhkan waktu lebih panjang sebelum menghasilkan padi.

Eko menyampaikan penjelasan tersebut di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Menurut dia, informasi perkembangan tanaman ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan untuk menjaga pasokan beras.

Survei KSA Libatkan 282.000 Titik Sampel

Data perkiraan panen tersebut bersumber dari Survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Dalam survei ini, petugas BPS mengamati sekitar 282.000 titik sampel yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Pengamatan tersebut digunakan untuk menghitung luas panen sekaligus melihat kondisi aktual pertanaman. Hasilnya memberikan gambaran mengenai sebaran lahan berdasarkan tahap pertumbuhan, mulai dari fase vegetatif hingga tanaman mendekati masa panen.

Informasi itu juga membantu pemerintah memperkirakan potensi ketersediaan hasil pertanian dan menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih awal.

Data Panen Jadi Peringatan Dini Kekeringan

Eko mengingatkan bahwa perkiraan luas panen masih dapat berubah akibat berbagai faktor. Kondisi cuaca ekstrem, kemarau berkepanjangan, serta serangan hama dan penyakit tanaman dapat menghambat pertumbuhan hingga menyebabkan gagal panen.

Karena itu, BPS menempatkan data KSA sebagai sistem peringatan dini atau early warning system. Pemerintah dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan langkah penyelamatan tanaman sebelum dampak kekeringan semakin luas.

BPS juga menyampaikan laporan hasil survei kepada Kementerian Pertanian setiap bulan. Data itu dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan perbaikan jaringan irigasi dan penyaluran pompa air ke kawasan pertanian yang rawan kekeringan.

Melalui pemanfaatan data tersebut, pemerintah diharapkan mampu mengantisipasi risiko produksi sejak dini. Langkah mitigasi yang tepat diperlukan agar tanaman yang sedang dibudidayakan tetap berpeluang menghasilkan panen di tengah ancaman El Niño.