Ekonomi

El Nino Ancam Produksi Beras 2026, Hasil Panen Diprediksi Turun Hingga 5 Persen

El Nino berpotensi menekan produksi beras Indonesia hingga 5 persen pada 2026. Pemerintah menyiapkan tambahan beras SPHP untuk menjaga harga.

El Nino Ancam Produksi Beras 2026, Hasil Panen Diprediksi Turun Hingga 5 Persen
Foto: vecteezy.com/sasirin pamai

Produksi beras nasional menghadapi tantangan akibat fenomena El Nino yang memicu kondisi kemarau lebih kering dan berkepanjangan. Dampaknya diperkirakan mulai terlihat pada 2026, ketika hasil produksi beras Indonesia berpotensi menyusut 3-5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika kondisi tersebut berlanjut hingga awal 2027, penurunan produksi dikhawatirkan semakin besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan potensi produksi beras sepanjang Januari-November 2026 mencapai 32,34 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 33,28 juta ton. Kondisi ini menjadi perhatian karena penurunan hasil panen berpotensi memengaruhi pasokan dan stabilitas harga beras di dalam negeri.

Produksi Beras Tertekan, Luas Panen Menyusut

Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS amatan Agustus 2026 yang dirilis pada 1 Oktober 2026, produksi beras Januari-November diperkirakan turun 2,82 persen atau sekitar 940 ribu ton.

Penurunan tersebut sejalan dengan proyeksi produksi gabah kering giling (GKG) yang berkurang dari 57,76 juta ton menjadi 56,13 juta ton. Luas panen juga diperkirakan menyusut 2,98 persen, dari 10,88 juta hektare menjadi 10,56 juta hektare.

Tekanan lebih besar diperkirakan terjadi pada September-November 2026. Produksi beras dalam periode tersebut diproyeksikan hanya mencapai 7,06 juta ton, turun 11,95 persen dibandingkan 8,02 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dwi Andreas Santosa, menjelaskan bahwa El Nino dapat memengaruhi pola monsun dan menyebabkan musim hujan datang lebih lambat. Akibatnya, jadwal tanam padi utama berpotensi bergeser dari Oktober menuju November atau Desember.

Menurut Andreas, keterlambatan musim tanam tersebut dapat mengurangi produksi tahun ini. Dampaknya berpotensi lebih besar pada 2027 apabila pergeseran waktu tanam terus berlanjut.

Luas Pertanaman Padi Menjadi Perhatian

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa proporsi luas pertanaman padi atau standing crop pada Agustus 2026 tercatat 28,07 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 34,15 persen.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi luas panen dalam beberapa bulan berikutnya karena jumlah tanaman yang memasuki fase menjelang panen turut berkurang.

Pemerintah Perkuat Penyaluran Beras SPHP

Untuk mengantisipasi tekanan harga, pemerintah mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Perum Bulog.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut penyaluran kuota awal 828 ribu ton beras SPHP telah mencapai 100 persen per 23 September 2026. Pemerintah kemudian memberikan tambahan kuota 74 ribu ton untuk periode Oktober-November.

Hingga 8 Oktober 2026, penyaluran tambahan tersebut mencapai 33.500 ton atau 45,24 persen. Pemerintah juga menyepakati tambahan 200 ribu ton beras SPHP hingga akhir Desember 2026.

Langkah ini ditujukan untuk menjaga ketersediaan beras sekaligus meredam tekanan harga di daerah. Dengan potensi penurunan produksi akibat El Nino, kelancaran distribusi dan ketepatan penyaluran bantuan pangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar beras nasional.