Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot pada pukul 09.05 WIB melemah 45 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp17.948 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, rupiah ditutup turun tipis 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.903 per dolar AS. Pergerakan mata uang domestik berlangsung ketika pelaku pasar mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat dan kemungkinan arah kebijakan suku bunga bank sentral negara tersebut.
Inflasi AS Kembali Menjadi Sorotan Pasar
Mengutip Reuters, dolar AS sempat menyentuh posisi tertinggi dalam 18 bulan pada Rabu setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memunculkan kembali spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada akhir Oktober.
Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyebut inflasi konsumen pada September 2026 meningkat tajam, salah satunya dipengaruhi kenaikan harga bensin. Data tersebut menjadi perhatian investor karena perkembangan inflasi dapat memengaruhi keputusan bank sentral dalam menentukan kebijakan moneter.
Meski sempat menguat, dolar kemudian kehilangan sebagian kenaikannya. Investor kembali mempertimbangkan kemungkinan bahwa The Fed tidak akan memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat atau hawkish.
Indeks dolar AS tercatat berada di level 102,53 pada Rabu sore, naik 0,34 persen. Sebelumnya, indeks tersebut sempat menyentuh 102,94 pada pagi hari waktu New York.
Peluang Suku Bunga The Fed Ditahan Meningkat
Ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed juga mengalami perubahan. Berdasarkan perangkat FedWatch Tool milik CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 65 persen bahwa suku bunga akan dipertahankan dalam pertemuan 27–28 Oktober 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan perkiraan 53 persen pada bulan sebelumnya. Perubahan ekspektasi itu mencerminkan respons pasar terhadap data ekonomi terbaru dan penilaian investor terhadap langkah bank sentral AS berikutnya.
Bagi pasar valuta asing, keputusan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan dolar serta mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Euro dan Poundsterling Ikut Melemah
Sejumlah mata uang utama juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Euro turun 0,41 persen menjadi US$1,1152, sekaligus menyentuh level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar dan 16 bulan terhadap poundsterling Inggris.
Poundsterling melemah 0,59 persen ke US$1,3177. Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,08 persen ke posisi 158,16 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa dinamika dolar dan ekspektasi kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian utama pelaku pasar global.









