Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot dibuka melemah 100 poin atau 0,56 persen ke posisi Rp18.038 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap mata uang domestik dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI hingga meningkatnya kebutuhan dolar AS. Menurut dia, kombinasi persoalan eksternal dan domestik berpotensi membuat rupiah menghadapi tekanan lanjutan sampai akhir Oktober 2026.
Usulan Perubahan Status MSCI Menambah Tekanan
Salah satu faktor yang disoroti Ibrahim adalah langkah MSCI yang memulai konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Rencana tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap arus investasi asing karena perubahan status dapat memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global. MSCI sebelumnya juga menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, ketentuan free float, serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal.
Ibrahim menilai persoalan reformasi pasar modal menjadi perhatian penting bagi investor internasional. Ketidakpastian terkait proses tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap aset Indonesia, termasuk nilai tukar rupiah.
Sentimen Politik dan Keyakinan Konsumen Ikut Disorot
Selain faktor pasar keuangan, Ibrahim turut menyinggung perhatian investor terhadap perkembangan politik dalam negeri, termasuk ramainya isu gugatan mengenai ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Tekanan sentimen juga muncul setelah indeks keyakinan konsumen Indonesia turun menjadi 118,1 pada September 2026, dari 118,5 pada Agustus 2026.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah menambah tantangan bagi kebutuhan energi dan permintaan valuta asing. Ibrahim menyebut kebutuhan dolar untuk pembayaran utang jatuh tempo serta pembagian dividen perusahaan tercatat turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
Intervensi BI Berpotensi Mengurangi Cadangan Devisa
Bank Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing. Namun, menurut Ibrahim, intervensi yang berkelanjutan berpotensi meningkatkan penggunaan cadangan devisa apabila tekanan terhadap rupiah terus berlangsung.
Ia menilai keputusan BI untuk tidak menaikkan suku bunga dapat membuat stabilisasi nilai tukar lebih bergantung pada langkah intervensi. Meski demikian, perkembangan cadangan devisa Oktober 2026 masih perlu menunggu data resmi.
Rupiah Berisiko Menuju Rp18.500 per Dolar AS
Melihat berbagai tekanan tersebut, Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah masih dapat berlanjut hingga akhir Oktober 2026. Ia bahkan mengantisipasi nilai tukar berpotensi menembus Rp18.500 per dolar AS.
Proyeksi tersebut merupakan pandangan analis, bukan kepastian pergerakan pasar. Perkembangan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi respons Bank Indonesia, arus modal asing, kebutuhan dolar domestik, serta perubahan sentimen global.









