Market

Rupiah Anjlok ke Rp17.938 per Dolar AS Hari Ini 15 Oktober, Ini Faktor Pemicunya

Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.938 per dolar AS akibat tekanan dari evaluasi MSCI, konflik Timur Tengah, dan kenaikan inflasi AS.

Rupiah Anjlok ke Rp17.938 per Dolar AS Hari Ini 15 Oktober, Ini Faktor Pemicunya
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 15 Oktober (Sumber: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww)

Mata uang Garuda kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 35 poin atau 0,20 persen dan ditutup pada level Rp17.938 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi Rp17.903 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi di tengah bayang-bayang ketidakpastian global serta meningkatnya tekanan pada pasar keuangan domestik. Sejumlah sentimen utama turut menekan pergerakan rupiah, mulai dari antisipasi evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), eskalasi konflik di Timur Tengah, hingga data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi.

Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Investor

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap mata uang lokal bersumber dari kekhawatiran pelaku pasar menjelang evaluasi MSCI yang dijadwalkan pada November 2026.

Para investor saat ini tengah memantau jalannya reformasi pasar modal di Tanah Air, termasuk potensi pergeseran klasifikasi pasar serta keberlangsungan kebijakan pembekuan perdagangan pada saham-saham tertentu.

“Bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43% pada akhir September, sementara investor mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, dan perkembangan reformasi pasar modal. Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Dinamika tersebut membuat pengelola dana global bersikap lebih waspada dalam menanamkan modalnya pada instrumen keuangan domestik, yang pada akhirnya turut meningkatkan volatilitas pasar.

Konflik Timur Tengah Tambah Tekanan terhadap Rupiah

Selain faktor internal pasar modal, situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah turut memperberat langkah rupiah. Ketegangan ini memicu kekhawatiran baru atas kelangsungan pasokan energi global.

Kelompok Houthi dilaporkan melancarkan serangan menyasar kantor pusat perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco. Di sisi lain, Iran dikabarkan menyiapkan strategi anyar untuk mengincar kapal-kapal komersial yang melintasi jalur perairan strategis Selat Hormuz.

Potensi terganggunya jalur distribusi minyak dunia ini dikhawatirkan dapat menjaga harga minyak tetap tinggi. Bagi perekonomian Indonesia, kondisi ini berisiko mendongkrak biaya impor energi serta kebutuhan valuta asing.

Inflasi Amerika Serikat Naik Jadi 3,7 Persen

Dari kancah internasional, sentimen negatif juga datang dari rilis data ekonomi Amerika Serikat periode September 2026 yang menunjukkan lonjakan inflasi.

Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS tercatat mengalami kenaikan secara bulanan sebesar 0,6 persen. Angka ini lebih tinggi ketimbang catatan Agustus yang berada di level 0,4 persen, meski sejalan dengan proyeksi pasar.

Secara tahunan, inflasi AS terkerek naik menjadi 3,7 persen dari periode sebelumnya di angka 3,4 persen, melampaui estimasi ekonom yang mematoknya pada 3,5 hingga 3,6 persen.

Sementara itu, inflasi inti yang menyisihkan komponen pangan dan energi tercatat naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar yang mengarah ke 0,2 persen sekaligus menyamai laju pertumbuhan bulan sebelumnya.

Kondisi inflasi yang tetap tinggi berpeluang mendorong bank sentral AS, Federal Reserve, untuk mempertahankan suku bunga acuan ketat dalam durasi yang lebih panjang.

Langkah tersebut berpotensi menopang berlanjutnya penguatan dolar AS di pasar global. Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan tiga isu utama tersebut: evaluasi MSCI, arah konflik geopolitik, serta kebijakan moneter The Fed.