Usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market membawa ancaman serius. Bank Danamon memproyeksikan kebijakan ini berisiko memicu tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah hingga 2027.
Dalam kajiannya, Danamon memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp 18.100 hingga Rp 18.300 per dolar AS sepanjang Oktober hingga awal November 2026. Nilai tukar kemudian diprediksi berangsur menguat ke kisaran Rp 17.900 sampai Rp 18.000 per dolar AS pada penghujung tahun 2026, didorong oleh pengetatan kebijakan moneter serta perbaikan kondisi global.
Kendati demikian, ketidakpastian seputar keputusan MSCI masih menghantui pergerakan mata uang Garuda. Berikut adalah proyeksi pergerakan rupiah berdasarkan kuartal:
| Periode | Proyeksi Kurs Rupiah per Dolar AS |
|---|---|
| Kuartal I-2027 | Rp 17.936 – Rp 18.200 |
| Kuartal II-2027 | Rp 18.000 – Rp 18.400 |
| Kuartal III-2027 | Rp 17.900 – Rp 18.300 |
| Kuartal IV-2027 | Rp 17.700 – Rp 18.000 |
Danamon mengingatkan bahwa pemulihan tersebut dapat terganjal apabila terjadi penurunan kepercayaan investor yang berkepanjangan, pelepasan portofolio asing yang lebih luas, atau kembalinya tekanan ekonomi global.
“Pengecualian yang berkepanjangan, pengurangan portofolio yang lebih luas, atau tekanan global yang kembali muncul akan melemahkan jalur pemulihan ini,” ungkap Danamon, Jumat (16/10/2026).
Potensi Tekanan dari Pasar Saham
Pasar saham dinilai sebagai transmisi utama yang mengalirkan tekanan ke sektor ekonomi yang lebih luas. Apabila status Indonesia benar-benar diturunkan, aksi jual dari investor asing berpotensi tidak terhindarkan.
Potensi pelepasan saham oleh asing diperkirakan berada di kisaran US$ 2,9 miliar hingga US$ 5,8 miliar, dengan skenario dasar senilai US$ 4,3 miliar. Angka ini merupakan simulasi bersyarat dan bukan bentuk kepastian arus keluar modal.
Dalam skenario terburuk, pelepasan aset oleh investor pasif maupun aktif dapat berujung pada konversi dana ke valuta asing yang direpatriasi ke negara asal. Perubahan perilaku investor domestik yang mendiversifikasi aset ke mata uang asing demi menekan risiko portofolio juga turut menambah tekanan terhadap rupiah.
Lonjakan Suku Bunga dan Biaya Pendanaan
Kebutuhan pendanaan eksternal Indonesia masih tinggi, dengan defisit transaksi berjalan yang diprediksi berada di level 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan naik menjadi 1,6% pada 2027. Guna menjaga daya tarik aset rupiah di tengah potensi keluarnya modal, Bank Indonesia (BI) diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6% pada Oktober 2026, lalu mencapai 6,25% di akhir tahun dan bertahan sepanjang 2027.
“Suku bunga yang lebih tinggi akan melengkapi intervensi valuta asing dan langkah-langkah lindung nilai sementara pihak berwenang menangani masalah tata kelola pasar yang mendasari penilaian MSCI,” urai Danamon.
Dampak pelemahan ini turut menjalar ke sektor riil melalui kenaikan biaya bahan baku impor serta beban utang valuta asing bagi korporasi tanpa lindung nilai memadai. Imbal hasil surat berharga negara (SBN) serta premi risiko obligasi korporasi juga berpotensi terkerek naik.
“Risiko makroekonomi yang berkelanjutan adalah kenaikan biaya pembiayaan yang terus-menerus dan melemahnya investasi,” imbuh Danamon.
Jadwal Konsultasi dan Perbaikan Tata Kelola
MSCI resmi mengumumkan masa konsultasi terkait usulan reklasifikasi ini pada 15 Oktober 2026. Saat ini Indonesia masih memegang status Emerging Market, di mana masukan publik diterima hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat diumumkan pada 30 Juni 2027.
Langkah perbaikan transparansi kepemilikan saham, pembentukan harga, serta penegakan aturan menjadi kunci krusial untuk mengembalikan kepercayaan investor institusional global dan membatasi dampak jangka panjang terhadap perekonomian.
“Oleh karena itu, perbaikan yang kredibel dalam transparansi kepemilikan, pembentukan harga, dan penegakan hukum akan sangat penting untuk memulihkan permintaan institusional dan membatasi konsekuensi ekonomi jangka panjang dari guncangan tersebut,” tandas Danamon.









