Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Mata uang Garuda turun 4 poin atau 0,02% ke level Rp18.160 per dolar AS di pasar spot.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan terhadap rupiah yang pada perdagangan sebelumnya, Senin (2/11/2026), berada di posisi Rp18.156 per dolar AS.
Meski penurunannya relatif terbatas, rupiah masih menghadapi tekanan dari sentimen pasar keuangan domestik dan perkembangan ekonomi global.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya sentimen penghindaran risiko atau risk-off di pasar saham Indonesia.
Investor juga cenderung berhati-hati menjelang sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk pemilihan umum paruh waktu dan publikasi data ketenagakerjaan.
Di sisi lain, harapan terhadap perkembangan pembicaraan perdamaian di Timur Tengah serta penurunan harga minyak dunia membantu membatasi pelemahan rupiah.
Rupiah melemah di tengah tekanan pasar saham domestik
Pergerakan rupiah pada Selasa berlangsung ketika pasar saham Indonesia mengalami tekanan jual yang cukup besar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,78% ke level 4.904,28 pada perdagangan hari yang sama.
Pelemahan tersebut membawa IHSG kembali berada di bawah level psikologis 5.000 setelah mengalami koreksi hampir 200 poin.
Kondisi pasar saham menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar valuta asing.
Lukman Leong menjelaskan bahwa memburuknya sentimen penghindaran risiko di pasar ekuitas domestik memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk saham dan mata uang negara berkembang.
Tekanan pada pasar saham Indonesia juga berlangsung di tengah perhatian investor terhadap perkembangan penilaian pasar modal domestik setelah munculnya polemik terkait MSCI.
Pada perdagangan sebelumnya, aksi jual bersih investor asing turut menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah.
Kondisi tersebut membuat pasar valuta asing masih sensitif terhadap perubahan sentimen investasi, meskipun pelemahan rupiah pada penutupan Selasa hanya mencapai 0,02%.
Pemilu paruh waktu AS turut menjadi perhatian investor
Selain perkembangan pasar domestik, investor mencermati agenda politik dan ekonomi Amerika Serikat.
Pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections AS berlangsung pada Selasa, 3 November 2026.
Agenda tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar karena hasil pemilu dapat memengaruhi dinamika kebijakan pemerintahan dan hubungan antara eksekutif dengan lembaga legislatif Amerika Serikat.
Investor juga menantikan sejumlah publikasi data ekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian AS.
Salah satu data yang menjadi perhatian adalah laporan lowongan pekerjaan JOLTS yang dijadwalkan dirilis pada Selasa.
Selanjutnya, pasar akan mencermati data perubahan tenaga kerja swasta ADP dan indeks aktivitas sektor jasa ISM Services PMI.
Laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) juga menjadi agenda penting pada akhir pekan.
Data-data tersebut digunakan pelaku pasar untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar serta nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Perkembangan konflik Timur Tengah membatasi tekanan rupiah
Situasi geopolitik Timur Tengah juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar valuta asing.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih diwarnai ketegangan serta upaya diplomasi.
Laporan mengenai serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm di Iran turut menjadi perhatian pasar.
Di tengah ketegangan tersebut, komunikasi untuk mencari penyelesaian konflik masih berlangsung melalui sejumlah pihak yang terlibat dalam proses diplomasi.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi sentimen pasar keuangan internasional.
Meski demikian, harapan terhadap tercapainya kesepakatan perdamaian menjadi faktor yang membantu menahan tekanan terhadap sejumlah aset keuangan.
Lukman Leong menyampaikan bahwa harapan terhadap pembicaraan perdamaian di Timur Tengah dan penurunan harga minyak dunia membatasi pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam.
Pergerakan harga minyak memiliki hubungan dengan kondisi perdagangan dan kebutuhan valuta asing Indonesia, mengingat sebagian kebutuhan energi domestik masih dipenuhi melalui impor.
Karena itu, perubahan harga minyak dunia juga menjadi salah satu perkembangan yang dicermati pelaku pasar.
Inflasi pangan Oktober menjadi perhatian pasar domestik
Selain tekanan eksternal, perkembangan inflasi pangan Indonesia pada Oktober 2026 turut menjadi perhatian pasar.
Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok mencerminkan adanya tekanan pada pasokan dan distribusi pangan.
Gangguan pasokan yang berkaitan dengan fenomena El Niño menjadi salah satu faktor yang disebut memengaruhi produksi serta distribusi komoditas pangan.
Sejumlah komoditas seperti beras, cabai, dan sayuran menghadapi tekanan harga akibat kondisi tersebut.
Inflasi pangan dilaporkan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir, meskipun inflasi umum masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.
Perkembangan harga pangan menjadi perhatian karena berhubungan langsung dengan biaya hidup masyarakat dan daya beli rumah tangga.
Di sisi lain, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih mencatatkan surplus.
Pada September 2026, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar US$3,36 miliar.
Namun, pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor menjadi salah satu perkembangan yang terus dipantau.
Ibrahim menjelaskan bahwa kenaikan impor dapat berkaitan dengan peningkatan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk kegiatan industri.
Meski demikian, pertumbuhan impor yang terus melampaui ekspor dapat mempersempit surplus perdagangan apabila tidak diimbangi peningkatan ekspor.
Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS
Pelemahan rupiah berlangsung ketika sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Yuan China tercatat melemah 0,41%, sedangkan dolar Singapura mengalami penurunan 0,13%.
Ringgit Malaysia juga melemah 0,09%, disusul won Korea Selatan yang terkoreksi 0,03%.
Namun, beberapa mata uang Asia masih mencatatkan penguatan.
Peso Filipina menguat 0,22%, sementara dolar Hong Kong naik 0,02%. Yen Jepang bergerak relatif stagnan.
Pergerakan tersebut memperlihatkan kondisi pasar valuta asing Asia yang bervariasi menjelang sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat.
Di kelompok mata uang utama negara maju, euro menguat 0,06% dan poundsterling Inggris naik 0,07% terhadap dolar AS.
Dolar Kanada juga menguat 0,15%, disusul franc Swiss yang naik 0,24%.
Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,46% terhadap mata uang Amerika Serikat.
Perubahan nilai tukar tersebut berlangsung di tengah penyesuaian posisi investor terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Proyeksi rupiah pada perdagangan berikutnya
Pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan dipengaruhi perkembangan pasar saham domestik, aliran modal asing, serta sejumlah agenda ekonomi global.
Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.160 hingga Rp18.210 per dolar AS.
Proyeksi tersebut merupakan perkiraan analis dan bukan kepastian mengenai pergerakan nilai tukar pada perdagangan berikutnya.
Sementara itu, perkembangan pembicaraan damai di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia masih menjadi faktor yang diperhatikan pasar.
Investor juga akan mencermati hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat serta rilis data ekonomi yang berkaitan dengan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Di dalam negeri, perkembangan IHSG dan arus investasi asing tetap menjadi perhatian setelah pasar saham mengalami koreksi tajam pada perdagangan Selasa.
Rekap kurs rupiah 3 November 2026
Rupiah mengakhiri perdagangan Selasa (3/11/2026) pada level Rp18.160 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Berikut rangkuman nilai tukar rupiah dan pergerakan sejumlah mata uang pada perdagangan tersebut.
| Mata uang | Perubahan terhadap dolar AS |
|---|---|
| Rupiah Indonesia | -0,02% |
| Yuan China | -0,41% |
| Dolar Singapura | -0,13% |
| Ringgit Malaysia | -0,09% |
| Won Korea Selatan | -0,03% |
| Peso Filipina | +0,22% |
| Dolar Hong Kong | +0,02% |
| Yen Jepang | Relatif stagnan |
| Euro | +0,06% |
| Poundsterling Inggris | +0,07% |
| Dolar Kanada | +0,15% |
| Franc Swiss | +0,24% |
| Dolar Australia | -0,46% |
Adapun ringkasan penutupan rupiah di pasar spot adalah sebagai berikut.
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Penutupan Senin, 2 November 2026 | Rp18.156 per dolar AS |
| Penutupan Selasa, 3 November 2026 | Rp18.160 per dolar AS |
| Perubahan | Melemah 4 poin |
| Persentase perubahan | -0,02% |
| Proyeksi analis perdagangan berikutnya | Rp18.160–Rp18.210 per dolar AS |
Dengan penutupan di level Rp18.160 per dolar AS, rupiah masih berada dalam tekanan meskipun pelemahannya pada Selasa relatif terbatas.
Pergerakan nilai tukar selanjutnya akan kembali dipengaruhi perkembangan pasar keuangan domestik, kebijakan moneter Amerika Serikat, dan kondisi geopolitik internasional.








