Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS Hari Ini 23 Oktober

Rupiah diitutup melemah ke kisaran Rp18.080 per dolar AS pada Jumat, 23 Oktober 2026, di tengah tekanan harga minyak dan sentimen global.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS Hari Ini 23 Oktober
aryawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) (Sumber: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026). Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp18.080 per dolar AS, melanjutkan tekanan yang terjadi sepanjang pekan dan bertahan di atas level Rp18.000.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Trading Economics, rupiah berada di sekitar Rp18.080 per dolar AS pada Jumat. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan mata uang domestik selama tiga sesi berturut-turut di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp18.060 per dolar AS pada Kamis (22/10/2026), melemah 38 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan Rabu yang berada di posisi Rp18.022 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah pelemahan dolar AS secara global. Indeks dolar bergerak mendekati level terendah dalam tiga pekan setelah imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat mengalami penurunan.

Meski dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, faktor domestik dan ketidakpastian ekonomi global masih membebani pergerakan rupiah.

Harga minyak dan sentimen global tekan rupiah

Pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat turut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah dunia serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi domestik.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan telah mencapai sekitar 112 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena Indonesia masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi sebagian konsumsi dalam negeri.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, sebelumnya menyoroti tingginya premi risiko domestik sebagai salah satu faktor yang menekan rupiah. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Selain itu, pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih diwarnai ketegangan. Situasi tersebut turut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset keuangan di negara berkembang.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga menilai meningkatnya sikap menghindari risiko atau risk-off di pasar global dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.

Menurut Lukman, sejumlah faktor yang menjadi perhatian investor mencakup perkembangan sektor kecerdasan buatan (AI), eskalasi konflik di Timur Tengah, serta kondisi fiskal Prancis.

Bank Indonesia pertahankan suku bunga 5,75 persen

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen turut menjadi perhatian pasar keuangan.

Kebijakan tersebut diambil ketika rupiah masih menghadapi tekanan dari pergerakan dolar AS, harga komoditas energi, dan ketidakpastian kondisi ekonomi internasional.

Sementara itu, pelaku pasar global menantikan keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama, termasuk Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank Sentral Jepang (BOJ).

Arah suku bunga bank sentral tersebut menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menempatkan dana pada berbagai instrumen keuangan dan mata uang.

Pergerakan rupiah pada 21–23 Oktober 2026

Rupiah mengalami tekanan selama tiga hari perdagangan terakhir. Berikut perkembangan nilai tukar berdasarkan data pasar spot Bloomberg dan kisaran perdagangan Jumat dari Trading Economics.

TanggalNilai tukar per USDKeterangan
21 Oktober 2026Rp18.022Penutupan
22 Oktober 2026Rp18.060Penutupan
23 Oktober 2026Sekitar Rp18.080Pergerakan perdagangan

Pada perdagangan Jumat pagi, rupiah dibuka melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp18.074 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi sebelumnya memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat, dalam rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS.

Pergerakan rupiah hingga akhir pekan tetap dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, harga minyak, dan kondisi investasi domestik. Pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama untuk menentukan strategi perdagangan berikutnya.