— Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan awal pekan dengan mencatatkan koreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan global dan sentimen geopolitik turut mewarnai pergerakan pasar keuangan pada Senin (21/9/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah di level Rp17.825 per dolar AS atau terdepresiasi sebesar 0,54%. Posisi ini melanjutkan tren negatif sejak awal perdagangan pagi yang dibuka melemah 0,28% di kisaran Rp17.780 per dolar AS.

Selama sesi perdagangan hari ini, pergerakan mata uang lokal tercatat berada dalam rentang harian antara Rp17.740 hingga Rp17.840 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang memantau kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia terpantau menguat 0,11% ke posisi 100,334 pada pukul 15.00 WIB.

Faktor Global dan Kebijakan The Fed

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan lanjutan dolar AS di pasar global. Indeks DXY bertahan di atas level 100 setelah mencatatkan kenaikan lebih dari 1% pada pekan lalu.

Penguatan tersebut dipicu oleh keputusan The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan serta memberikan sinyal potensi penyesuaian lanjutan. Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan bulan Oktober, di mana CME FedWatch mencatat probabilitasnya telah mencapai 55%.

Selain kebijakan bank sentral AS, pasar juga merespons ketegangan di Timur Tengah serta kenaikan imbal hasil obligasi global. Eskalasi terjadi menyusul laporan serangan terhadap beberapa titik di Riyadh, Arab Saudi, menjelang akhir pekan.

Tanggapan Bank Indonesia

Bank Indonesia menyatakan bahwa tensi geopolitik turut memberikan tekanan eksternal terhadap pergerakan rupiah sepanjang hari ini.

“Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).

Erwin menambahkan, tingginya harga minyak berpotensi memicu risiko inflasi global serta menekan prospek fiskal. Dari faktor domestik, kebutuhan valuta asing dari korporasi importir serta aksi pelepasan portofolio aset di pasar dalam negeri turut memperberat langkah rupiah.

“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” ujar Erwin.

Guna meredam tekanan tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengawal stabilitas nilai tukar melalui langkah-langkah stabilisasi, baik di pasar domestik maupun luar negeri.