— Mata uang garuda kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan hari Senin, 12 Oktober 2026. Posisi nilai tukar rupiah melemah dan kembali berada di kisaran level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data perdagangan sore hari ini, rupiah ditutup melemah 14 poin ke posisi Rp 17.913 per dolar AS. Pada sesi penutupan sebelumnya, mata uang lokal tersebut berada di level Rp 17.899 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa rupiah melemah meski ketegangan geopolitik di Eropa Timur mulai mereda.

Perkembangan itu setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow.

Sementara itu, ketegangan kembali memanas di Timur Tengah setelah kelompok militan Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 jiwa dan melukai lebih dari 300 korban.

Pelemahan rupiah juga terjadi seiring dengan pernyataan terbaru dari pejabat The Fed terkait peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan bahwa untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target, diperlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Dari faktor domestik, pergerakan rupiah turut dibayangi oleh sikap pasar yang masih menanti pengumuman MSCI mengenai ancaman degradasi ke Frontier Market serta potensi pembekuan atau freeze yang terus menghantui pasar saham Indonesia.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Penjualan Eceran Agustus 2026 yang menunjukkan adanya perbaikan kinerja penjualan eceran. Indeks Penjualan Riil atau IPR periode tersebut tercatat di angka 226,5 atau mengalami pertumbuhan 1,3% secara tahunan, meningkat dibandingkan catatan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,1%.

Sementara itu, kinerja penjualan eceran secara bulanan pada Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,8%, berbalik naik dari bulan sebelumnya yang sempat mengalami kontraksi sebesar 0,1%.