— Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih menarik minat investor dalam negeri meski tekanan jual dari pemodal asing membayangi pergerakan harganya. Dalam periode satu bulan hingga 13 Oktober 2026, investor domestik tercatat melakukan pembelian bersih senilai Rp2,95 triliun, tertinggi dibandingkan saham lain berdasarkan data Stockbit Sekuritas.

Di sisi lain, harga saham BMRI belum menunjukkan penguatan. Pada perdagangan Selasa (13/10/2026), saham bank pelat merah tersebut ditutup turun 0,50 persen ke level Rp3.990. Dalam sebulan terakhir, BMRI telah terkoreksi 8,49 persen, sementara investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp120,07 miliar.

Valuasi BMRI Berada di Bawah Rata-Rata Historis

Pada perdagangan 13 Oktober, sebanyak 110,24 juta saham BMRI berpindah tangan melalui 33.788 transaksi dengan nilai keseluruhan Rp437,64 miliar. Pelemahan harga tersebut terjadi ketika investor domestik justru mengakumulasi saham Bank Mandiri.

Data Stockbit menunjukkan rasio price to book value (PBV) BMRI berada di level 1,31 kali. Angka itu lebih rendah dibandingkan ambang minus satu standar deviasi PBV selama tiga tahun terakhir yang mencapai 1,47 kali.

Sementara itu, rasio price earning ratio (PER) tercatat sebesar 5,98 kali, di bawah batas minus satu standar deviasi PER tiga tahunan pada level 7,31 kali. Data tersebut memperlihatkan valuasi saham BMRI berada di bawah rentang pembanding historis tersebut, meski tidak dengan sendirinya menjamin kenaikan harga saham.

Pengalaman Repo Membentuk Strategi Andry Hakim

Investor sekaligus pendiri dan Chief Investment Officer Hakimson.id, Andry Hakim, mengungkapkan bahwa keputusannya mengoleksi BMRI tidak semata-mata didasarkan pada potensi dividen. Saham tersebut juga diposisikan sebagai aset penopang strategi pendanaan melalui transaksi repurchase agreement (repo).

Andry mulai membeli BMRI secara bertahap ketika harganya berada di kisaran Rp4.500 hingga Rp5.000. Ia menilai saham tersebut lebih sesuai menjadi aset jangkar setelah mengalami tekanan akibat penggunaan saham berfluktuasi tinggi sebagai jaminan repo.

Pengalaman itu berkaitan dengan investasinya pada PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI). Andry menyebut saham PANI pernah bergerak di kisaran Rp10.000–Rp12.000 sebelum mencapai Rp19.000. Namun, koreksi pada Maret membuat harganya turun di bawah Rp12.000 dan memicu margin call. PANI bahkan sempat menyentuh Rp6.800 sebelum kembali menguat.

Situasi tersebut memaksanya melepas sebagian aset untuk memenuhi kewajiban pendanaan. Dari pengalaman itu, Andry menyimpulkan bahwa pemilihan saham sebagai jaminan repo perlu mempertimbangkan risiko penurunan harga.

Dividen BMRI untuk Menambah Investasi

Selain menjadi aset penopang repo, BMRI dipilih untuk membangun pendapatan dividen. Andry memperkirakan investasi bernilai ratusan miliar rupiah dengan imbal hasil dividen sekitar 10 persen berpotensi menghasilkan penerimaan puluhan miliar rupiah.

Sebagian dividen dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, sedangkan sisanya diinvestasikan kembali. Dana tersebut juga bisa diarahkan ke saham lain yang dinilai berpeluang menjadi multibagger. Dengan strategi itu, BMRI ditempatkan sebagai sumber dividen sekaligus bagian dari pengelolaan pendanaan, bukan semata-mata untuk mengejar kenaikan harga.