Saham

Bank Mandiri Nilai Buyback Saham Jadi Strategi Menjaga Nilai Pemegang Saham, Ditopang Laba Rp37,5 Triliun

Bank Mandiri menilai buyback saham sebagai strategi korporasi untuk menjaga nilai pemegang saham, ditopang laba Rp37,5 triliun hingga Agustus 2026.

Bank Mandiri Nilai Buyback Saham Jadi Strategi Menjaga Nilai Pemegang Saham, Ditopang Laba Rp37,5 Triliun
Foto: Bloomberg/Dimas Ardian

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memandang pembelian kembali saham atau buyback sebagai salah satu langkah strategis untuk menjaga nilai investasi pemegang saham. Kebijakan tersebut didukung kinerja keuangan yang solid serta keyakinan terhadap prospek bisnis jangka panjang, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan modal dan rencana ekspansi perusahaan.

Dalam pelaksanaannya, Bank Mandiri tidak hanya berfokus pada pengelolaan saham, tetapi juga memastikan struktur permodalan tetap sehat. Pada program buyback terakhir, perseroan merealisasikan pembelian kembali 91,75 juta saham yang kemudian dialihkan melalui program Kepemilikan Saham bagi Karyawan pada 24–29 Juni 2026.

Buyback Saham Jadi Bagian Strategi Perseroan

Pengalihan saham hasil buyback tersebut ditujukan untuk meningkatkan rasa memiliki karyawan sekaligus menyelaraskan kontribusi mereka dengan pertumbuhan perusahaan. Sesuai persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026, saham hasil pembelian kembali dapat dialihkan melalui program kepemilikan saham karyawan dengan mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain buyback, Bank Mandiri juga mengandalkan pembagian dividen untuk memberikan imbal hasil kepada investor. Sepanjang kalender 2026, total dividen yang dibagikan mencapai sekitar Rp50,63 triliun, terdiri atas dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun dan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp6,16 triliun.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengatakan pembagian dividen interim merupakan bentuk apresiasi terhadap kepercayaan pemegang saham. Namun, keputusan tersebut tetap memperhitungkan kebutuhan modal untuk ekspansi bisnis dan antisipasi risiko agar pertumbuhan perusahaan tetap terjaga.

Kinerja Kredit dan Laba Menopang Buyback Saham

Hingga Agustus 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.592 triliun, tumbuh 17,6% secara tahunan atau year on year (yoy). Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 17,6% yoy menjadi Rp1.687 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri sebesar 13,7%.

Kualitas aset perseroan turut menunjukkan kondisi yang terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 1,00%, sedangkan NPL coverage ratio mencapai 240,6%.

Dari sisi profitabilitas, laba bersih Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp37,5 triliun hingga Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 22,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank Mandiri Tetap Perhatikan Kebutuhan Modal

Ke depan, Bank Mandiri akan mempertimbangkan kebijakan buyback saham dan pembagian dividen dengan memperhatikan kondisi keuangan serta kebutuhan pengembangan usaha. Pendekatan tersebut ditujukan agar pemberian imbal hasil kepada pemegang saham tetap sejalan dengan kemampuan perseroan memperluas kredit, menjaga kualitas aset, dan mengantisipasi risiko.

Dengan fundamental bisnis yang tetap kuat, Bank Mandiri berupaya menjaga keseimbangan antara pengelolaan modal dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.