— Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Indonesia telah mengalami transformasi signifikan, berkembang dari sekadar kebiasaan membaca Al-Qur’an di tengah masyarakat menjadi sebuah tradisi nasional yang dilembagakan oleh pemerintah. Awalnya hanya sebatas majelis para qari, kegiatan ini kini telah menjelma menjadi ajang kompetisi yang komprehensif, menguji berbagai aspek kemampuan terkait Al-Qur’an, mulai dari membaca, menghafal, memahami, menafsirkan, hingga menyampaikannya.

MTQ kini menjadi agenda rutin yang diselenggarakan secara berjenjang di seluruh penjuru Indonesia. Pada tahun 2026, penyelenggaraan MTQ Nasional telah memasuki edisi ke-31 dan diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah.

Berawal dari Gerakan Masyarakat

Jejak awal MTQ di Indonesia dapat ditelusuri sejak era 1940-an, seiring dengan pendirian Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz oleh Nahdlatul Ulama. Di berbagai daerah, kegiatan pembacaan Al-Qur’an dengan seni suara mulai tumbuh, digerakkan oleh masyarakat dan organisasi keislaman. Perkembangan ini kemudian memicu gagasan untuk mengembangkannya menjadi sebuah musabaqah yang lebih terorganisasi dan akhirnya mendapatkan penguatan dari pemerintah.

Menteri Agama periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, pernah menjelaskan bahwa cikal bakal MTQ berawal dari inisiatif para qari di Masjid Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1950-an. Majelis tersebut bertujuan untuk menjiwai Al-Qur’an agar umat Islam dapat menjadi manusia yang berbudaya, sebuah tradisi yang juga dijalankan oleh para Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam.

Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, salah satu penggagas majelis tersebut, Kiai Bashori Alwi, mengusulkan kepada pemerintah agar kegiatan ini diubah menjadi sebuah lomba yang lebih terstruktur. Usulan ini menjadi momentum awal transformasi kegiatan yang tumbuh di masyarakat menjadi sebuah musabaqah yang lebih formal.

Dari Majelis Qari Menjadi Musabaqah Internasional

Gagasan yang muncul dari masyarakat ini mendapatkan respons positif dari pemerintah. Presiden Soekarno merespons dengan menyelenggarakan musabaqah bertaraf internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Peristiwa ini menandai penyelenggaraan MTQ pertama kali yang langsung berskala internasional.

Setelah ajang internasional tersebut, Presiden Soekarno menugaskan 11 qari Indonesia untuk melakukan kunjungan ke beberapa negara sahabat. Pengalaman ini menunjukkan betapa besar manfaat syiar Al-Qur’an melalui seni suara.

Pemerintah kemudian secara resmi melembagakan MTQ sebagai kegiatan rutin yang diselenggarakan secara bergilir di berbagai daerah. Penyelenggaraan MTQ nasional pertama kali dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tahun 1968. Pada awal pelaksanaannya, cabang yang dilombakan masih terbatas pada tilawah dewasa. Ajang perdana ini melahirkan qari-qari ternama seperti Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.

Menjadi Tradisi Nasional yang Berkelanjutan

Sejak 1968 hingga 1981, MTQ nasional diselenggarakan setiap tahun. Setelah penyelenggaraan di Aceh pada 1981, frekuensi pelaksanaannya berubah menjadi dua tahun sekali. Seiring waktu, MTQ berkembang dari inisiatif masyarakat menjadi kompetisi berjenjang yang dimulai dari tingkat kampung, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Para pemenang di tingkat provinsi kemudian berhak mewakili daerahnya untuk berlomba di tingkat nasional.

Pola berjenjang ini memastikan proses pembinaan dan seleksi peserta berlangsung secara berkelanjutan di berbagai daerah. Selain MTQ, pemerintah juga memperkenalkan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) yang mempertandingkan Tilawah Al-Qur’an, Tahfidz Al-Qur’an, dan Tafsir Al-Qur’an bi Al-Arabiyyah. MTQ sendiri memiliki cabang yang lebih luas, mencakup Syarh Al-Qur’an, Khath Al-Qur’an, dan Cerdas Cermat Al-Qur’an atau Musabaqah Fahm Al-Qur’an.

Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Jumat (11/9/2026) mengumumkan perubahan pola penyelenggaraan MTQ Nasional menjadi agenda tahunan. Keputusan ini diambil karena kesamaan persiapan yang dilakukan daerah untuk MTQ dan STQ, serta untuk mengurangi daftar tunggu provinsi yang ingin menjadi tuan rumah. Jawa Tengah, misalnya, baru kembali menjadi tuan rumah setelah 47 tahun.

“Kita sudah memutuskan bahwa setiap tahun akan dilaksanakan MTQ. Sebab, energi yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan STQ relatif sama dengan MTQ. Karena itu, sekalian saja kita ubah menjadi MTQ,” ujar Menag Nasaruddin Umar usai menghadiri Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.

Pada pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Semarang, Menag Nasaruddin Umar kembali menegaskan keputusan tersebut dan menyatakan bahwa STQ tidak akan diadakan lagi demi syiar MTQ yang lebih intensif. “Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegasnya.

Perkembangan Cabang Lomba: Dari Tilawah ke Pemahaman Mendalam

Pada awal penyelenggaraannya, MTQ sangat menekankan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan seni suara dan lagu. Namun, seiring perkembangan zaman, cabang lomba semakin meluas. Kini, MTQ tidak hanya menjadi ajang menampilkan seni baca Al-Qur’an, tetapi juga mencakup Musabaqah Hifdz Al-Qur’an (menghafal), Musabaqah Syarh Al-Qur’an (memahami dan menyampaikan), Musabaqah Fahm Al-Qur’an (cerdas cermat), Khath Al-Qur’an (kaligrafi), Tafsir Al-Qur’an (menafsirkan), serta Musabaqah Menulis Ilmiah Al-Qur’an.

Lukman Hakim Saifuddin menilai keragaman cabang ini menunjukkan cakupan MTQ yang lebih luas daripada sekadar seni membaca. “Saat itu selain tilawah sudah ada beberapa cabang yang diperlombakan semisal kaligrafi, tafsir, tahfidh, dan syarhil Qur’an. Keragaman lomba ini menandakan bahwa MTQN bukan hanya kegiatan yang menampilkan seni suara saja. Namun menjadi forum ilmiah bagaimana menafsir, menalar, dan menarasikan Al-Quran,” paparnya.

Perkembangan cabang perlombaan ini mencerminkan bahwa ide dasar MTQ telah meluas, mencakup aktivitas membaca, menghafal, menulis, memahami, menafsirkan, dan menyampaikan tuntunan Al-Qur’an secara lebih menyeluruh. Ini menunjukkan perjalanan MTQ bukan sekadar perluasan kompetisi, tetapi juga perluasan cara umat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Inklusi Disabilitas Tuli di MTQ 2026

MTQ Nasional XXXI yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah, pada 11-20 September 2026, juga menandai perkembangan penting dalam inklusivitas. Untuk pertama kalinya, MTQ menyertakan Eksibisi Disabilitas Tuli sebagai ruang partisipasi dan upaya memperluas akses layanan keagamaan yang inklusif. Sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim berpartisipasi dalam golongan Tilawah dan Kitabah Al-Qur’an Isyarat pada 14-16 September 2026.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa MTQ Nasional XXXI di Semarang menjadi momentum untuk lebih memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat kepada masyarakat. Penyelenggaraan eksibisi ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang menjamin akses penyandang disabilitas, termasuk dalam pelayanan keagamaan.

“Al Quran adalah tuntunan bagi seluruh umat. Kita harus memastikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas juga memiliki ruang dan akses yang semakin luas untuk mempelajari, memahami, dan mencintai Al Quran,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Daftar Tuan Rumah MTQ Nasional

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1968, MTQ Nasional telah digelar sebanyak 31 kali dengan daftar tuan rumah sebagai berikut:

NoTahunKota Tuan RumahProvinsi
11968MakassarSulawesi Selatan
21969BandungJawa Barat
31970BanjarmasinKalimantan Selatan
41971MedanSumatera Utara
51972JakartaDKI Jakarta
61973MataramNusa Tenggara Barat
71974SurabayaJawa Timur
81975PalembangSumatera Selatan
91976SamarindaKalimantan Timur
101977ManadoSulawesi Utara
111979SemarangJawa Tengah
121981Banda AcehAceh
131983PadangSumatera Barat
141985PontianakKalimantan Barat
151988Bandar LampungLampung
161991YogyakartaDI Yogyakarta
171994PekanbaruRiau
181997JambiJambi
192000PaluSulawesi Tengah
202003PalangkarayaKalimantan Tengah
212006KendariSulawesi Tenggara
222008SerangBanten
232010BengkuluBengkulu
242012AmbonMaluku
252014BatamKepulauan Riau
262016MataramNusa Tenggara Barat
272018Medan-Deli SerdangSumatera Utara
282020Padang PariamanSumatera Barat
292022Banjarbaru, Banjar, BanjarmasinKalimantan Selatan
302024SamarindaKalimantan Timur
312026SemarangJawa Tengah