Topik.id — Kementerian Agama (Kemenag) telah menyiapkan 4.301 titik lokasi ujian (tilok) untuk pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 yang serentak digelar berbasis Computer-Based Test (CBT) pada 7-9 September 2026. Langkah ini diambil untuk mendekatkan akses bagi 229.592 siswa yang telah lolos verifikasi dan berasal dari 34 provinsi serta 492 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menyatakan bahwa peningkatan partisipasi dalam OMI mencerminkan minat siswa yang kuat untuk mengembangkan kemampuan dan berkompetisi secara sehat. OMI dibangun sebagai bagian dari ekosistem manajemen talenta madrasah, yang tidak hanya mencari juara, tetapi juga menemukan potensi terbaik siswa untuk dikembangkan menjadi generasi unggul.
“OMI kita bangun sebagai bagian dari ekosistem manajemen talenta madrasah. Yang kita cari bukan sekadar juara, tetapi bagaimana menemukan potensi terbaik peserta didik, memberikan ruang untuk berkembang, dan menyiapkan mereka menjadi generasi yang unggul,” ujar Amien Suyitno di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Amien menambahkan bahwa madrasah memiliki potensi besar dalam pengembangan talenta akademik, riset, sains, dan inovasi. Oleh karena itu, kompetisi seperti OMI harus terus dikembangkan sebagai ruang sehat bagi siswa untuk menguji kemampuan sekaligus membangun karakter yang berintegritas, sportif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat.
Partisipasi Peserta Meningkat
Jumlah peserta OMI 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada OMI 2025, tercatat 202.117 peserta terverifikasi, sementara OMI 2026 diikuti oleh 229.592 siswa. Peningkatan ini mencapai sekitar 13,6 persen, menunjukkan bahwa OMI semakin diterima sebagai sarana aktualisasi prestasi siswa madrasah.
“Pertumbuhan partisipasi ini menggembirakan. Artinya, semakin banyak siswa yang berani mengambil kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Tugas kita adalah memastikan kesempatan itu tersedia secara adil dan berkualitas,” kata Amien.
OMI 2026 mengusung tema “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.” Tema ini menekankan arah OMI sebagai wadah pengembangan talenta yang menghubungkan kemampuan akademik dengan karakter, inovasi, dan kepedulian lingkungan.
Akses Kompetisi yang Lebih Dekat
Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, menjelaskan bahwa perluasan titik lokasi menjadi strategi penting dalam OMI 2026. Dengan 4.301 titik lokasi yang tersebar di 492 kabupaten/kota, peserta tidak perlu menempuh perjalanan jauh.
“Desain OMI tahun ini kita arahkan agar akses peserta semakin dekat. Kita tidak ingin jarak dan kondisi geografis menjadi penghalang bagi anak-anak madrasah untuk berkompetisi,” ujar Nyayu Khodijah.
Pelaksanaan CBT memungkinkan proses kompetisi yang terukur dan terdokumentasi, namun kesiapan teknologi harus dibarengi pengawasan yang kuat. Prinsipnya, kompetisi harus berlangsung adil, transparan, dan berintegritas.
Secara nasional, kapasitas kursi yang disiapkan mencapai 346.895, sementara peserta terdata sebanyak 229.592 siswa. Tingkat pemanfaatan kapasitas nasional mencapai 66,2 persen, menyisakan ruang cadangan sekitar 33,8 persen untuk antisipasi kondisi operasional.
Distribusi Titik Lokasi dan Tingkat Okupansi
Ketua Panitia OMI 2026, Solla Taufiq, melaporkan bahwa konsentrasi titik lokasi terbesar berada di provinsi dengan jumlah peserta dan madrasah tinggi. Jawa Timur memimpin dengan 663 lokasi, diikuti Jawa Tengah (404), Jawa Barat (281), Sumatera Barat (231), dan Sumatera Utara (201).
Secara keseluruhan, disiapkan 4.301 titik lokasi, 9.181 ruang ujian, dan 13.207 alokasi sesi. Kapasitas kursi mencapai 346.895 untuk 229.592 peserta.
Beberapa provinsi menunjukkan tingkat pemanfaatan kapasitas di atas 75 persen, antara lain Sulawesi Selatan (81,2 persen), Jawa Tengah (80,8 persen), Banten (80,5 persen), Lampung (79,8 persen), DKI Jakarta (78,1 persen), dan Jawa Barat (76,4 persen).
“Karakter setiap wilayah berbeda. Di daerah dengan konsentrasi peserta tinggi, perhatian utama adalah kapasitas jaringan dan beban sistem. Sementara di wilayah kepulauan dan 3T, tantangannya bisa berupa konektivitas, listrik dan akses transportasi. Karena itu, mitigasi kami lakukan berbasis data titik lokasi,” kata Solla Taufiq.
Kapasitas kursi yang belum terisi sekitar 117.303 atau 33,8 persen dari total kapasitas nasional, ditempatkan sebagai instrumen mitigasi untuk penanganan teknis atau mekanisme ujian cadangan sesuai ketentuan.
Ikuti Topik.id
