TOPIK.ID — Pada Selasa, 8 September 2026, pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai yang signifikan, mencapai Rp 192,4 miliar.
Data RTI menunjukkan sebanyak 284.974 lot saham BBCA diperdagangkan di pasar negosiasi BEI dengan harga Rp 6.753 per saham. Transaksi ini berlangsung dalam satu kali frekuensi.
Sementara itu, di pasar reguler, saham BBCA ditutup menguat 1,13% ke level Rp 6.700. Perdagangan di pasar reguler melibatkan 44,99 juta saham dengan 9.053 frekuensi transaksi, menghasilkan nilai perdagangan Rp 300,22 miliar.
Pergerakan saham BBCA pada Selasa ini berbeda dari dua hari sebelumnya, yakni 4 dan 7 September, di mana saham tersebut ditutup melemah masing-masing 1,11% dan 1,12%. Selama dua hari itu, tercatat net sell asing sebesar Rp 63,59 miliar dan Rp 39,25 miliar.
Menariknya, pada sesi I perdagangan Selasa, data Stockbit Sekuritas mencatat adanya net buy asing untuk saham BBCA dari segi volume, mencapai 16,87 juta saham atau setara Rp 112,57 miliar.
Rekomendasi Saham BBCA
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 9.480. Target ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 41,5% dari harga penutupan terakhir.
Target harga tersebut didasarkan pada valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar sedang menurun, kondisi valuasi saat ini membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham, terutama jika katalis positif mulai terealisasi.
Potensi Katalis Positif
KB Valbury mengidentifikasi beberapa katalis yang berpotensi mendukung pergerakan harga saham BBCA. Salah satunya adalah pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang diprediksi lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat Net Interest Margin (NIM).
Faktor pendukung lainnya adalah potensi cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, yang dapat terjadi jika kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik.
Selain itu, perbaikan sentimen pasar, baik domestik maupun global, juga turut diperhitungkan sebagai katalis positif.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meskipun demikian, KB Valbury juga mencatat sejumlah risiko yang dapat menekan proyeksi kinerja saham BBCA. Risiko utama meliputi kemungkinan pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari estimasi.
Biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari perkiraan juga berpotensi membebani kinerja BCA. Penurunan NIM yang lebih dalam dari estimasi juga menjadi salah satu faktor risiko yang patut dicermati.
KB Valbury turut menyoroti potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko yang dapat memengaruhi proyeksi kinerja BCA (BBCA).
Ikuti TOPIK.ID
