— PT AKR Indonesia Tbk (AKRA) dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) sama-sama memperbesar pijakan di bisnis gas alam cair atau Liquified Natural Gas (LNG). Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi kedua emiten untuk mencari sumber pertumbuhan baru di tengah perkembangan kebutuhan energi dan industrialisasi.

AKRA memilih jalur kemitraan strategis dengan BW FSRU VII Pte. Ltd., entitas yang berada di bawah BW Group, untuk membangun bisnis LNG melalui perusahaan patungan bernama PT Andalanesa Energi Primer. Sementara itu, RAJA memperkuat eksposur LNG melalui aksi akuisisi saham PT Layar Nusantara Gas (LNG) yang sebelumnya dimiliki Genting LNG Pte. Ltd.

AKRA Siapkan Investasi LNG Rp7,92 Triliun

Melalui perusahaan patungan tersebut, AKRA dan BW Group akan menggarap proyek floating storage regasification unit (FSRU) LNG dengan nilai investasi sekitar US$400 juta hingga US$450 juta.

Dengan menggunakan asumsi kurs Rp17.620 per dolar AS, investasi tersebut setara dengan sekitar Rp7,92 triliun. Proyek ini ditargetkan memasuki tahap operasi komersial pada semester II-2029.

FSRU yang disiapkan memiliki kapasitas 170 ribu meter kubik dan akan dibangun oleh HD Hyundai Heavy Industries. Infrastruktur tersebut diharapkan mendukung terminal LNG dengan kapasitas hingga 4 juta ton per tahun atau MTPA.

Pengembangan ini juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, serta kawasan industri di sekitarnya.

Kepala Investor Relations AKR Corporindo Ignatius Teguh Prayoga mengatakan perseroan terus membuka peluang kemitraan untuk mengembangkan bisnis LNG. Sebelumnya, AKRA juga telah menjalin kerja sama dengan BP Gas & Power Investments Limited.

Selain LNG, AKRA menyiapkan sejumlah bisnis pendukung pertumbuhan jangka panjang, seperti utilitas industri, energi surya, BBM ritel, dan avtur. Pengembangan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan pelanggan, kelayakan investasi, serta disiplin dalam mengalokasikan modal.

JIIPE Jadi Penopang Pertumbuhan AKRA

AKRA masih akan mempertahankan bisnis perdagangan dan distribusi BBM serta kimia dasar sebagai fondasi utama dalam tiga hingga lima tahun mendatang.

Perseroan juga melanjutkan monetisasi JIIPE melalui penjualan lahan, peningkatan aktivitas pelabuhan, dan pengembangan pendapatan berulang dari bisnis utilitas.

Pada semester I-2026, JIIPE mencatat penjualan lahan sekitar 58 hektare kepada perusahaan kimia dan manufaktur asal Tiongkok serta perusahaan pengolahan gandum domestik.

RAJA Tambah Kepemilikan di Layar Nusantara Gas

Di sisi lain, RAJA mengambil langkah berbeda untuk memperbesar bisnis LNG. Melalui PT Raharja Gas Kasuri, perseroan mengakuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas yang sebelumnya dimiliki Genting LNG Pte. Ltd.

Transaksi tersebut diselesaikan pada 4 September 2026, sementara perjanjian jual beli saham telah ditandatangani pada 29 April 2026.

Manajemen RAJA menyebut aksi tersebut berkaitan dengan pengembangan bisnis sekaligus bagian dari kemitraan strategis bersama Grup Genting Berhad dalam pengembangan dan pengoperasian Floating LNG (FLNG).

Nilai transaksi tidak diungkapkan. Namun, manajemen memastikan aksi tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan usaha perseroan.

Per 30 Juni 2026, RAJA memiliki ekuitas US$263,56 juta dan liabilitas US$362,59 juta. Perseroan juga mencatat kas dan setara kas sebesar US$123,77 juta.

Saham AKRA Dapat Target Rp1.565

Dari sisi pasar modal, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham AKRA dengan target harga 12 bulan sebesar Rp1.565 per saham. Target tersebut diturunkan dari sebelumnya Rp1.690.

Kiwoom menilai koreksi harga saham AKRA belakangan ini justru membuat profil risiko dan imbal hasil menjadi lebih menarik. Target price tersebut menggunakan asumsi P/E 12 kali, lebih rendah dari sebelumnya 14 kali.

Risiko yang tetap perlu diperhatikan mencakup volatilitas harga komoditas, persaingan, ketergantungan terhadap sektor industri, perubahan regulasi, gangguan logistik, fluktuasi kurs, serta tantangan ESG dan transisi energi.

Di tengah ekspansi tersebut, AKRA juga mempertahankan fokus terhadap keberlanjutan dan tata kelola. Perseroan mencatat peringkat MSCI ESG AA serta skor risiko ESG Sustainalytics 20,9 yang masuk kategori Medium Risk.

AKRA juga mempertahankan kebijakan pembagian dividen dengan rasio pembayaran sekurang-kurangnya 30% dari laba bersih.