TOPIK.ID — Harga minyak dunia kembali menghadapi tekanan kenaikan setelah meningkatnya serangan terhadap fasilitas energi dan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah. Goldman Sachs memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 120 per barel apabila gangguan terhadap aktivitas pelayaran terus meluas.
Di sisi lain, Goldman Sachs masih melihat peluang harga minyak kembali terkoreksi apabila kondisi pasokan dari Timur Tengah berangsur normal. Dalam skenario tersebut, harga minyak dunia diperkirakan dapat turun menuju US$ 80 per barel.
Goldman Sachs Waspadai Gangguan Pelayaran
Salah satu kepala riset komoditas global Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan perkembangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya peningkatan risiko terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
“Peristiwa dalam beberapa hari terakhir mengindikasikan bahwa risiko meluas dan meningkatnya gangguan pelayaran merupakan hal yang signifikan,” ujar Daan Struyven, dikutip dari Kitco News, Rabu (9/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi produksi, tetapi juga risiko distribusi dari kawasan Timur Tengah. Apabila gangguan pelayaran semakin meluas, pasar berpotensi menghadapi kekhawatiran baru terhadap ketersediaan pasokan minyak mentah.
Goldman Sachs memperkirakan kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak hingga US$ 120 per barel. Sebaliknya, apabila ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah kembali berjalan pada tingkat normal, harga diproyeksikan turun ke sekitar US$ 80 per barel.
Harga Brent dan WTI Menguat Tajam
Kekhawatiran terhadap pasokan tersebut mulai tercermin dalam perdagangan minyak pada Selasa (8/9/2026). Harga minyak mentah dunia mencatat level tertinggi dalam enam pekan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 92 sen atau 0,9% menjadi US$ 97,92 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) meningkat US$ 1,55 atau 1,7% ke posisi US$ 93,03 per barel.
Kenaikan tersebut membawa kedua harga acuan minyak ke wilayah overbought secara teknikal. Dari sisi pergerakan harga, penutupan Brent menjadi yang tertinggi sejak 23 Juli untuk hari kedua berturut-turut.
Sementara itu, WTI mencatat harga penutupan tertinggi sejak 4 Juni. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sentimen pasar minyak semakin sensitif terhadap perkembangan keamanan dan distribusi energi di Timur Tengah.
Selat Hormuz Jadi Titik Perhatian Pasar
Gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk sebelumnya telah berlangsung cukup serius. Kondisi tersebut terjadi setelah Iran menyerang infrastruktur energi di kawasan tersebut serta kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Serangkaian gangguan itu berlangsung setelah serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari 2026. Perkembangan tersebut kemudian meningkatkan perhatian pasar terhadap kelancaran arus perdagangan minyak melalui salah satu jalur penting di kawasan Teluk.
Arab Saudi, yang merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS, juga telah menghindari penggunaan Selat Hormuz untuk pengiriman minyak. Negara tersebut mengalihkan pengiriman melalui jalur barat menuju Laut Merah.
Bagi pasar minyak, perkembangan keamanan di kawasan tersebut menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Jika gangguan pelayaran terus meningkat, risiko terhadap pasokan dapat semakin besar dan membuka ruang bagi kenaikan harga minyak menuju proyeksi US$ 120 per barel dari Goldman Sachs.
Namun, apabila ekspor Timur Tengah kembali normal, tekanan terhadap harga dapat berbalik arah dan membuka peluang minyak turun menuju US$ 80 per barel.
Ikuti TOPIK.ID
