TOPIK.ID — PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpeluang membuka sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan bisnis pusat data. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha yang sepenuhnya dimiliki, PT DSST, yang merupakan bagian dari Sinar Mas Group.
DSST, yang telah beroperasi sejak 1996, berfokus pada infrastruktur digital, data center, solusi teknologi informasi (TI), serta pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (AI). Perusahaan ini juga berperan sebagai holding company bagi sejumlah bisnis telekomunikasi dan digital yang terdaftar di bursa, seperti PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).
Ekspansi Kapasitas Data Center SM+
Salah satu lini bisnis utama DSST adalah SM+, merek data center yang saat ini mengelola 24 lokasi dengan total kapasitas 10 megawatt (MW). Kapasitas ini diproyeksikan akan meningkat signifikan menjadi 43 MW pada akhir tahun buku 2026.
Peningkatan kapasitas tersebut didukung oleh fasilitas baru, termasuk unit berkapasitas 12 MW di Tangerang dan data center 21 MW di Kuningan, Jakarta. Fasilitas di Kuningan merupakan hasil kerja sama strategis joint venture (JV) dengan LG CNS, yang bertindak sebagai penasihat teknologi sekaligus operator.
Seluruh kapasitas 21 MW di fasilitas Kuningan dilaporkan telah terserap oleh pasar. Sekitar 1 MW dialokasikan untuk pelanggan korporat (enterprise), sementara 20 MW sisanya ditujukan untuk hyperscaler, khususnya perusahaan dari sektor teknologi.
Menariknya, fasilitas data center Kuningan masih memiliki potensi ekspansi hingga mencapai 60 MW. Hal ini membuka peluang penambahan kapasitas sekitar 40 MW setelah tahap awal yang dijadwalkan beroperasi pada kuartal IV-2026.
Dari sisi keekonomian, bisnis data center SM+ menawarkan prospek yang menjanjikan. DSST mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar US$ 9 juta per MW, termasuk biaya lahan, atau sekitar US$ 7 juta per MW jika biaya lahan tidak diperhitungkan.
Kontrak bisnis data center umumnya memiliki jangka waktu tiga hingga tujuh tahun, dengan tarif sewa yang lebih tinggi untuk tenor yang lebih pendek. Manajemen menargetkan margin EBITDA berkisar antara 50%-60% dan internal rate of return (IRR) di kisaran belasan persen.
Model Bisnis Build-to-Suit dan Peluang AI
Selain menambah kapasitas yang telah terencana, DSST juga tengah menjajaki penerapan model build-to-suit (BTS) untuk pengembangan data center selanjutnya. Model ini memungkinkan pembangunan fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pelanggan yang telah berkomitmen sejak awal, sehingga meminimalkan spekulasi permintaan.
Strategi BTS diharapkan memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap tingkat utilisasi dan potensi imbal hasil dari setiap tambahan belanja modal.
Berdasarkan hasil pengecekan kanal (channel checks), kapasitas data center DSST dalam jangka panjang diproyeksikan dapat mencapai 1 gigawatt (GW).
Lebih lanjut, DSST tidak hanya fokus pada data center konvensional, tetapi juga mulai mengeksplorasi peluang untuk merambah ekosistem AI. Area yang sedang dijajaki mencakup infrastruktur GPU, komputasi (compute), hingga penyimpanan (storage).
Ekspansi di segmen AI ini berpotensi membuka sumber pertumbuhan baru, seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan dan pemrosesan AI.
Potensi Valuasi Bisnis Data Center
Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus, dalam risetnya pada Rabu (9/9/2026), menghitung potensi valuasi bisnis data center DSSA jika DSST berhasil mengembangkan kapasitas hingga 1 GW.
Dengan asumsi biaya investasi US$ 9 juta per MW, tarif sewa US$ 150 per kilowatt per bulan, serta struktur pembiayaan 70% utang dan 30% ekuitas, nilai ekuitas bisnis data center DSST diperkirakan mencapai Rp 338,9 triliun. Perhitungan ini menggunakan asumsi multiple 20 kali EV/EBITDA.
Jika DSSA memiliki 100% kepemilikan atas bisnis ini, potensi total nilai pasar DSSA dapat mencapai Rp 397 triliun, jauh melampaui kapitalisasi pasar DSSA saat ini yang berkisar Rp 223,5 triliun.
Namun, jika DSST hanya memiliki 50% kepemilikan atas pengembangan data center tersebut, nilai implisit DSSA diperkirakan sekitar Rp 245 triliun.
Aurelia menjelaskan bahwa pasar tampaknya sudah memperhitungkan ekspektasi DSST untuk mencapai kapasitas data center sebesar 1 GW. Oleh karena itu, ruang kenaikan valuasi lebih lanjut akan sangat bergantung pada realisasi ekspansi kapasitas dan tingkat kepemilikan DSST atas proyek-proyek tersebut.
Pergerakan harga saham DSSA pada Rabu (9/9/2026) pukul 15.17 WIB menunjukkan kenaikan 0,86% ke level Rp 1.170 per saham. Dalam sebulan terakhir, saham DSSA telah menguat 18,17%.
Ikuti TOPIK.ID
