Pendidikan

Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib untuk Siswa Kelas 3 SD dan MI Mulai 2027, Kemenag Siapkan Pelatihan Guru

Kemenag menyiapkan pelatihan guru MI untuk menghadapi kewajiban bahasa Inggris kelas 3 mulai tahun ajaran 2027.

Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib untuk Siswa Kelas 3 SD dan MI Mulai 2027, Kemenag Siapkan Pelatihan Guru
Foto: Devita Savitri/detikEdu

Penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 3 sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) mulai tahun ajaran 2027/2028 menjadi tantangan bagi Kementerian Agama (Kemenag). Salah satu pekerjaan utama yang harus disiapkan adalah memastikan guru memiliki kemampuan untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada peserta didik.

Keterbatasan tenaga pengajar dengan latar belakang pendidikan bahasa Inggris membuat Kemenag perlu mencari pendekatan berbeda. Alih-alih merekrut guru baru, kementerian akan mempersiapkan guru kelas MI agar mampu mengampu mata pelajaran tersebut melalui program pelatihan dan dukungan bahan ajar.

Kemenag Hadapi Tantangan Menyiapkan Guru MI

Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan MI dan MTs Direktorat GTK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Rini Rizki Rahmayani, mengakui persiapan kebijakan ini tidak sederhana.

Menurut Rini, sebagian besar guru kelas MI memiliki latar belakang pendidikan seperti Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), bukan pendidikan bahasa Inggris. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah karena mereka harus dipersiapkan dalam waktu relatif singkat sebelum kebijakan mulai berlaku.

Hal itu disampaikan Rini setelah peluncuran program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP) di Kantor Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Kemenag menyambut dukungan British Council melalui program pelatihan yang dinilai memiliki tahapan terstruktur dan dapat digunakan sebagai model untuk pengembangan program serupa.

British Council Terapkan Pendekatan Komunitas Guru

School Systems Lead British Council, Buyung Sudrajat, menjelaskan bahwa pelatihan menggunakan pendekatan Community of Practice (CoP). Model ini mendorong guru belajar dan berbagi pengalaman bersama rekan sejawat, dengan fasilitator yang memahami kebutuhan pendidikan di lapangan.

Pendekatan serupa, menurut Buyung, telah diterapkan di Mesir dan Vietnam dengan jumlah peserta mencapai 16.000 orang. Untuk program di Indonesia, fasilitator dapat berasal dari kalangan guru, pengawas sekolah, dosen, maupun praktisi pendidikan yang memiliki kemampuan mendampingi pembelajaran.

Dengan pendekatan tersebut, pelatihan diharapkan tidak hanya memberikan materi secara satu arah, tetapi juga membangun ruang berbagi praktik mengajar yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing madrasah.

Guru Dibekali Modul dan Materi Pembelajaran

British Council turut menyiapkan beragam sumber belajar untuk membantu guru menyampaikan bahasa Inggris kepada siswa. Materi tersebut mencakup booklet, rencana pembelajaran, aktivitas kelas, hingga lagu yang disesuaikan dengan capaian pembelajaran dalam kurikulum.

Guru nantinya akan mempelajari cara mengakses materi, menentukan sumber yang sesuai, serta menyesuaikannya dengan kondisi kelas masing-masing.

Buyung menilai satu bahan ajar tidak selalu cocok diterapkan secara seragam di setiap sekolah. Karena itu, kemampuan guru dalam mengadaptasi materi menjadi bagian penting dari pelatihan.

Melalui STEPS-CoP, Kemenag dan British Council berupaya mempersiapkan tenaga pendidik menghadapi penerapan bahasa Inggris wajib di MI. Kesiapan guru menjadi salah satu faktor penting agar kebijakan tersebut dapat berjalan sesuai kebutuhan peserta didik pada tahun ajaran 2027/2028.