Topik.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian pemerintah Indonesia karena berpotensi mengganggu perdagangan dan distribusi energi internasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai, meluasnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, dan kelompok Houthi hingga wilayah Arab Saudi dapat memperbesar risiko terhadap rantai pasok global.
Bahlil menyampaikan kekhawatiran tersebut di Jakarta, Senin (12/10/2026). Menurutnya, perkembangan konflik sulit diperkirakan, termasuk waktu penyelesaiannya. Situasi itu mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Ketergantungan Impor Minyak Jadi Tantangan
Bahlil menjelaskan, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak siap jual atau lifting berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Selisih antara kebutuhan dan produksi tersebut membuat Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap hari.
Ketergantungan ini membuat gangguan di kawasan penghasil minyak maupun jalur pelayaran strategis berpotensi memengaruhi pasokan nasional. Sebelum konflik meningkat, sekitar 23% pasokan minyak mentah Indonesia disebut melewati Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan energi dunia.
Pemerintah karena itu berupaya memperluas sumber pasokan minyak mentah, termasuk menjajaki pasokan dari kawasan Afrika. Langkah diversifikasi tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko apabila distribusi dari wilayah tertentu mengalami hambatan.
Program Biodiesel B50 untuk Mengurangi Impor Solar
Selain memperluas sumber impor, pemerintah mengandalkan pemanfaatan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel. CPO diolah menjadi fatty acid methyl ester (FAME) yang digunakan dalam program B50.
Bahlil menyatakan, pemanfaatan bahan baku domestik tersebut membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan energi ketika situasi internasional masih tidak menentu.
Meski demikian, kebutuhan minyak nasional secara keseluruhan tetap menjadi tantangan karena produksi dalam negeri belum menyamai tingkat konsumsi. Pemerintah perlu menjaga keberlanjutan pasokan sekaligus mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi pasar global.
Serangan Houthi Memperbesar Risiko Keamanan Kawasan
Kekhawatiran terhadap energi global muncul bersamaan dengan laporan serangan Houthi di Arab Saudi. Puing-puing rudal yang dicegat dilaporkan merusak bangunan taman kanak-kanak dan kompleks medis di Riyadh.
AFP juga melaporkan kerusakan pada pesawat komersial milik Saudia setelah ledakan di sekitar Bandara Internasional Raja Khalid. Serangan turut dilaporkan menyasar bandara di Najran dan pangkalan udara Khamis Mushait. Kelompok Houthi bahkan mengeluarkan peringatan kepada pekerja agar meninggalkan fasilitas minyak di Arab Saudi.
Peningkatan serangan tersebut memperumit situasi keamanan kawasan. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi pasokan, peningkatan pemanfaatan sumber daya domestik, dan kesiapan menghadapi gangguan perdagangan internasional.


