Harga Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak naik hingga akhir 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi meskipun harga minyak global masih tinggi. Kepastian itu disampaikan dalam konferensi pers tentang ketahanan energi nasional di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Bahlil menyebut kebijakan harga BBM bersubsidi mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto. Harga Pertalite dipertahankan sebesar Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar Rp6.800 per liter, dengan keputusan berlaku hingga 31 Desember 2026.
Pemerintah juga menyatakan cadangan BBM nasional masih mencukupi kebutuhan masyarakat meskipun ketahanan persediaan Pertalite berada di kisaran 16–18 hari. Ketersediaan pasokan tetap didukung pengadaan, produksi, dan distribusi secara berkelanjutan.
“Rakyat Indonesia, tenang. Insyaallah saya akan memberikan jaminan, atas arahan dan perintah Presiden Prabowo, bahwa cadangan BBM kita dalam standar minimum nasional, harga tidak akan naik untuk BBM subsidi,” kata Bahlil sebagaimana diberitakan dalam keterangan Kementerian ESDM pada 26 Oktober 2026.
Bahlil pastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak naik
Bahlil menegaskan harga BBM subsidi tidak disesuaikan sampai akhir tahun. Kebijakan ini mencakup Pertalite, bensin RON 90 yang masuk Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP), serta Biosolar sebagai Jenis BBM Tertentu (JBT).
Penegasan pada 26 Oktober memperkuat keputusan pemerintah yang telah disampaikan pada April 2026, yakni menjaga harga kedua jenis BBM hingga 31 Desember 2026. Pemerintah membedakan kebijakan ini dari mekanisme harga BBM nonsubsidi yang dapat mengalami penyesuaian.
Harga Pertalite tetap Rp10.000, Biosolar Rp6.800 per liter
Pada Oktober 2026, Pertalite dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Pertamina Patra Niaga sebelumnya menyatakan tidak ada penyesuaian harga pada awal Oktober dibandingkan September 2026.
| Jenis BBM | Harga per liter | Kategori |
|---|---|---|
| Pertalite (RON 90) | Rp10.000 | Penugasan pemerintah |
| Biosolar | Rp6.800 | Subsidi |
| Pertamax (RON 92) | Rp15.950 | Nonsubsidi |
| Pertamax Green 95 | Rp19.150 | Nonsubsidi |
| Pertamax Turbo (RON 98) | Rp19.600 | Nonsubsidi |
| Dexlite | Rp23.700 | Nonsubsidi |
| Pertamina Dex | Rp25.200 | Nonsubsidi |
Catatan: Harga nonsubsidi mengacu pada wilayah DKI Jakarta untuk Oktober 2026 dan dapat berbeda di wilayah lain.
Daftar berikut mencantumkan harga subsidi dan sejumlah BBM nonsubsidi di wilayah DKI Jakarta pada Oktober 2026. Produk nonsubsidi dapat memiliki harga berbeda di wilayah lain dan pada periode berikutnya.
Cadangan Pertalite nasional berada di kisaran 16–18 hari
Selain harga, Bahlil menjelaskan ketahanan stok Pertalite berada di kisaran 16–18 hari pada Oktober 2026. Cadangan bensin RON 92, RON 95, RON 98 serta solar disebut berada di atas 20 hari.
| Jenis BBM | Ketahanan stok |
|---|---|
| Pertalite (RON 90) | 16–18 hari |
| Bensin RON 92 | Di atas 20 hari |
| Bensin RON 95 | Di atas 20 hari |
| Bensin RON 98 | Di atas 20 hari |
| Solar | Di atas 20 hari |
Ketahanan stok adalah perkiraan daya tahan persediaan pada tingkat konsumsi tertentu, bukan tanggal berakhirnya pasokan.
Ukuran ketahanan stok menggambarkan jumlah hari kebutuhan yang dapat ditutup oleh persediaan pada tingkat konsumsi tertentu. Angka 16–18 hari bukan berarti BBM akan habis setelah jangka waktu itu karena pasokan baru terus datang melalui produksi dan pengadaan.
Mengapa cadangan Pertalite turun menjadi 16–18 hari?
Bahlil sebelumnya mengaitkan penurunan ketahanan cadangan Pertalite dengan perpindahan sebagian konsumen dari bensin nonsubsidi ke Pertalite. Perbedaan harga yang semakin besar mendorong perubahan pola konsumsi dan meningkatkan permintaan RON 90.
Pada 16 Oktober 2026 Bahlil menjelaskan stok Pertalite yang sebelumnya di atas 20 hari turun ke kisaran 16–18 hari. Pemerintah menyatakan kegiatan pencampuran bahan bakar atau blending untuk produksi Pertalite tetap dilaksanakan di kilang guna memulihkan persediaan.
“Yang terjadi pergeseran dari 16–18 hari itu adalah RON 90 (Pertalite),” kata Bahlil dalam penjelasannya tentang cadangan BBM. Perkiraan pemulihan menuju ketahanan sekitar 20 hari yang pernah disampaikan merupakan target saat itu, bukan bukti bahwa targetnya telah dicapai.
BPH Migas sebelumnya mencatat konsumsi Pertalite meningkat 12,92 persen pada Juli 2026 setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Angka tersebut menjadi konteks perubahan permintaan yang perlu diantisipasi pemerintah.
Harga minyak dunia tinggi, subsidi BBM berpotensi bertambah
Keputusan mempertahankan harga BBM subsidi diambil ketika harga minyak mentah dunia masih tinggi. Bahlil menyebut rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berada di sekitar US$92 per barel, lebih tinggi dibandingkan asumsi US$90 per barel yang digunakannya dalam pembahasan anggaran energi.
Perbedaan harga acuan dapat memengaruhi kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Namun, besaran tambahan anggaran tidak bisa dihitung hanya dari selisih ICP karena juga dipengaruhi kurs, volume konsumsi, serta skema perhitungan pemerintah.
Pemerintah tetap menyatakan harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah hingga akhir 2026, meskipun tekanan terhadap biaya pengadaan energi terus dipantau.
Pemerintah cari kontrak pasokan BBM jangka panjang
Untuk memperkuat ketahanan energi, Bahlil mengungkapkan pemerintah menyiapkan pengadaan BBM melalui kontrak pasokan jangka panjang dengan sejumlah negara. Kerja sama juga dijajaki dengan mitra seperti India dan China.
Menurut Kementerian ESDM, Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026 mengubah pendekatan pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG dari luar negeri melalui kerja sama antarpemerintah (government-to-government atau G2G) dan kerja sama pemerintah dengan badan usaha (government-to-business atau G2B).
Kebijakan pengadaan ini ditujukan untuk memperkuat kepastian pasokan ketika Indonesia masih membutuhkan impor sebagian minyak mentah dan bensin. Pemerintah menyatakan pasokan produk solar saat itu telah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Indonesia siapkan fasilitas penyimpanan minyak mentah
Selain kontrak jangka panjang, pemerintah merencanakan fasilitas penyimpanan minyak mentah di Indonesia untuk memperkuat cadangan energi dan tata kelola pengadaan. Bahlil menjelaskan perlunya pengiriman impor langsung ke dalam negeri tanpa melalui penyimpanan di negara lain.
Rencana fasilitas penyimpanan berkaitan dengan perubahan sistem pengadaan serta kemungkinan kerja sama Badan Layanan Umum (BLU) dengan mitra usaha. Karena masih berupa rencana, kapasitas fasilitas tersebut belum boleh dihitung sebagai cadangan yang telah beroperasi.
Harga BBM subsidi dan nonsubsidi memiliki kebijakan berbeda
Penetapan harga Pertalite dan Biosolar tidak sama dengan produk nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Harga BBM penugasan atau subsidi mengikuti keputusan pemerintah, sedangkan BBM nonsubsidi dapat disesuaikan berdasarkan mekanisme harga yang berlaku.
Wakil Menteri ESDM Yuliot sebelumnya juga menyampaikan bahwa Pertalite tetap dipertahankan hingga akhir 2026, tetapi harga BBM nonsubsidi dapat berubah mengikuti perkembangan pasar. Karena itu, kepastian tidak naik hanya berlaku pada jenis BBM yang secara khusus disebut dalam kebijakan.
ESDM sebelumnya bantah kabar Pertalite naik menjadi Rp13.500
Kementerian ESDM juga telah membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai rencana kenaikan Pertalite menjadi Rp13.500 per liter pada 26 September 2026. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia pada 24 September menyatakan kabar tersebut tidak benar.
Klarifikasi itu sejalan dengan penegasan Bahlil pada Oktober 2026 mengenai harga yang tetap berlaku hingga akhir tahun. Masyarakat dapat memeriksa pengumuman resmi ESDM atau Pertamina untuk memastikan perubahan harga BBM.
Harga Pertalite dan Biosolar tetap hingga 31 Desember 2026
Harga Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak naik sampai 31 Desember 2026 menurut kebijakan yang disampaikan pemerintah. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Di sisi pasokan, ketahanan cadangan Pertalite yang berada di kisaran 16–18 hari masih didukung produksi, distribusi, dan pengadaan. Pemerintah juga menyiapkan kontrak pasokan serta fasilitas penyimpanan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan apakah harga Pertalite naik adalah tidak berdasarkan penegasan terbaru Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kebijakan harga yang tetap ini harus dibedakan dari kemungkinan penyesuaian pada produk BBM nonsubsidi.









