— Nama Evelyn Clarissa Siregar menjadi perbincangan di media sosial setelah mengungkap rencana mencari sponsor untuk membiayai pendidikan Master of Business Administration (MBA) di Singapore Management University (SMU).

Perempuan asal Indonesia tersebut membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar untuk melanjutkan studi yang dijadwalkan dimulai pada Januari 2027. Permintaan sponsor yang disampaikan secara terbuka itu kemudian memunculkan beragam komentar dari warganet.

Sebagian mempertanyakan skema pendanaan yang ditawarkan, sementara lainnya menyoroti pilihan Evelyn mencari sponsor untuk pendidikan pribadi dibanding menggunakan jalur beasiswa, pinjaman pendidikan, atau mempersiapkan tabungan terlebih dahulu.

Biaya Kuliah Tersisa Rp1,16 Miliar

Melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu, 20 September 2026, Evelyn mengumumkan bahwa dirinya telah diterima dalam program MBA di Singapore Management University.

Ia mengungkap telah mendapatkan potongan biaya pendidikan ASEAN SMU sebesar 3.000 dolar Singapura. Namun, setelah potongan tersebut, biaya yang masih perlu ditanggung mencapai 82.840 dolar Singapura, atau sekitar Rp1,16 miliar

1/6
Dear People Of The Internet, Here Is My Pitch. Evelyn Clarissa
Sumber: IG @evelynclrs
Dear People Of The Internet, Here Is My Pitch. Evelyn Clarissa
Sumber: IG @evelynclrs
Dear People Of The Internet, Here Is My Pitch. Evelyn Clarissa
Sumber: IG @evelynclrs
Dear People Of The Internet, Here Is My Pitch. Evelyn Clarissa
Sumber: IG @evelynclrs
Dear People Of The Internet, Here Is My Pitch. Evelyn Clarissa
Sumber: IG @evelynclrs
Dear People Of The Internet, Here Is My Pitch. Evelyn Clarissa
Sumber: IG @evelynclrs

Besarnya kebutuhan dana tersebut mendorong Evelyn membuka peluang kerja sama dengan pihak yang bersedia menjadi sponsor pendidikannya.

Ia menjelaskan bahwa dukungan yang diterima tidak dapat dikembalikan dalam bentuk uang tunai. Sebagai gantinya, Evelyn menawarkan kemampuan dan pengalaman profesional yang dimilikinya, termasuk dalam bidang penjualan serta produksi konten.

“Tidak ada yang menghalangi saya untuk meraih kesuksesan kecuali pendanaan. Permintaan bantuan ini bukan hanya untuk sponsor tetapi juga untuk siapa pun yang percaya pada saya,” tulis Evelyn.

Warganet Pertanyakan Pilihan Mencari Sponsor

Unggahan tersebut kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial. Isu itu turut mendapat perhatian media Singapura, Mothership, pada Jumat, 25 September 2026.

Berbagai tanggapan muncul setelah nominal biaya pendidikan yang dibutuhkan Evelyn diketahui publik.

Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan alasan memilih mencari sponsor dibanding memanfaatkan pinjaman pendidikan atau student loan. Ada pula yang menyarankan Evelyn bekerja dan mengumpulkan dana terlebih dahulu sebelum memulai pendidikan MBA.

Tidak hanya persoalan pendanaan, aktivitas dan perjalanan yang sebelumnya pernah ditampilkan di media sosial juga ikut menjadi perhatian sebagian warganet.

Hal tersebut memunculkan perdebatan mengenai kondisi finansial serta prioritas pengeluaran seseorang ketika meminta dukungan dana dari publik.

Tetap Berusaha Mendapatkan Pendanaan

Di tengah kritik yang bermunculan, Evelyn tetap melanjutkan upaya mendapatkan dukungan untuk membiayai studinya.

Ia menyebut sedang memperbaiki materi presentasi yang akan digunakan saat menawarkan kerja sama kepada calon sponsor. Sejumlah pertemuan dengan pihak yang berpotensi memberikan dukungan pendanaan juga mulai dipersiapkan.

Evelyn menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari usahanya mengejar rencana pendidikan yang telah disusun.

“Sebut saja saya sombong jika Anda mau, tetapi saya hanyalah seorang gadis yang mengetuk setiap pintu untuk memperjuangkan mimpi saya,” tulisnya.

Evelyn Sampaikan Permohonan Maaf

Sekitar empat hari setelah permintaan sponsor tersebut menjadi perhatian luas, Evelyn menyampaikan permohonan maaf kepada publik.

Ia mengatakan telah mempertimbangkan berbagai kritik dan masukan yang disampaikan kepadanya selama beberapa hari terakhir.

Meski demikian, Evelyn tetap berpandangan bahwa mencari sponsor untuk pendidikan bukan sesuatu yang keliru. Ia mengakui bahwa penyampaian permintaan dana dalam nominal yang sangat besar di ruang publik dapat dinilai kurang sensitif.

“Dengan melakukan itu, saya meremehkan perjalanan dan perjuangan yang telah dilalui banyak orang untuk mencapai posisi mereka saat ini,” ungkap Evelyn.

Skema Imbalan Sponsor Ikut Dipertanyakan

Permohonan maaf tersebut tidak sepenuhnya menghentikan perdebatan. Salah satu hal yang kemudian banyak dibahas adalah bentuk manfaat yang akan diperoleh pihak yang bersedia memberikan pendanaan.

Sebagian warganet mempertanyakan nilai ekonomi dari jasa maupun pembuatan konten yang ditawarkan Evelyn apabila dibandingkan dengan kebutuhan dana pendidikan sekitar Rp1,16 miliar.

Mereka menilai calon sponsor memerlukan penjelasan yang lebih terukur mengenai bentuk kerja sama, manfaat komersial, hingga nilai yang diperoleh dari pendanaan tersebut.

Kasus Evelyn akhirnya berkembang menjadi perdebatan lebih luas tentang cara mencari pendanaan pendidikan melalui media sosial. Selain kemampuan menawarkan nilai kepada calon sponsor, transparansi skema kerja sama dan sensitivitas dalam menyampaikan kebutuhan dana kepada publik juga menjadi aspek yang mendapat perhatian.