Berita

Karhutla Indonesia Picu Kabut Asap di Singapura, Kualitas Udara Memburuk Hingga Kategori Sangat Tidak Sehat

Kabut asap dari karhutla Sumatra dan Kalimantan membuat kualitas udara Singapura memburuk, dengan PSI diperkirakan mencapai 190.

Karhutla Indonesia Picu Kabut Asap di Singapura, Kualitas Udara Memburuk Hingga Kategori Sangat Tidak Sehat
Foto: REUTERS/Ore Huiying

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali melintasi batas negara dan mengganggu kualitas udara Singapura. Kondisi tersebut membuat negara tetangga itu menghadapi periode polusi berkepanjangan, dengan sejumlah wilayah mengalami kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

AFP melaporkan pada Senin (19/10/2026), Singapura mencatat durasi kualitas udara tidak sehat terpanjang sejak krisis kabut asap pada 2015. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) menyebut kondisi tersebut telah berlangsung sejak 5 Oktober, sementara asap dari Sumatra dan Kalimantan terus terbawa angin menuju kawasan sekitarnya.

Kualitas Udara Singapura Memburuk akibat PM2.5

Wakil Direktur NEA Jason Evans Tan mengatakan periode polusi kali ini menjadi yang terpanjang sejak 2015. Situasi tersebut memperlihatkan dampak karhutla Indonesia yang tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga meluas ke negara tetangga.

Pemantau kualitas udara IQAir pada Minggu (18/10) sore menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia, dalam daftar lima kota besar dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.

Di wilayah barat Singapura, konsentrasi partikel halus PM2.5 masih tinggi. Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) selama 24 jam juga beberapa kali mencapai tingkat sangat tidak sehat.

PM2.5 merupakan partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru. Partikel ini menjadi salah satu polutan utama dalam kabut asap. Meski berkaitan, konsentrasi PM2.5 berbeda dari PSI karena indeks tersebut dihitung menggunakan enam indikator kualitas udara.

NEA menyatakan arah angin memengaruhi pergerakan asap. Dalam pembaruan pada 17 Oktober, angin tenggara dilaporkan membawa asap dari Kalimantan menuju Singapura, sementara kebakaran juga terpantau di Sumatra.

Untuk Senin (19/10/2026), NEA memperkirakan PSI berada pada rentang 100 hingga 190, yang berarti kualitas udara masih berpotensi berada dalam kategori tidak sehat.

El Niño Membuat Api Sulit Dipadamkan

Kondisi kering akibat fenomena Super El Niño turut memperburuk kebakaran di Asia Tenggara. Wang Jingyu, pakar ilmu atmosfer dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, menjelaskan bahwa suhu permukaan laut yang lebih dingin dari biasanya mengurangi penguapan dan membatasi pasokan uap air pembentuk hujan.

Minimnya curah hujan membuat proses pemadaman semakin sulit. Kebakaran di lahan gambut juga berisiko bertahan di bawah permukaan tanah dan menghasilkan asap dalam waktu lama.

Wang turut menyoroti sistem topan di Asia Timur yang dapat mengalihkan kelembapan dari wilayah yang membutuhkan hujan.

Singapura Identifikasi Tujuh Perusahaan

Pemerintah Singapura juga menelusuri sumber kebakaran yang menyebabkan kabut asap lintas batas. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu menyatakan tujuh perusahaan di Indonesia diduga memiliki lahan yang menjadi sumber sebagian asap.

Singapura berencana mengirimkan pemberitahuan kepada perusahaan-perusahaan tersebut untuk meminta penanganan kebakaran serta rencana pencegahan. Namun, dugaan keterkaitan lahan perusahaan dengan asap masih perlu ditindaklanjuti melalui proses pemeriksaan lebih lanjut.