TOPIK.ID — Garuda Indonesia melakukan pergantian kepemimpinan pada Kamis, 8 Oktober 2026, di tengah upaya transformasi maskapai nasional yang menunjukkan perbaikan kinerja setelah melewati masa restrukturisasi. Meskipun kondisi keuangan dan kapasitas armada mulai membaik, tantangan untuk memperkuat daya saing perusahaan masih terus berjalan.
Dalam dinamika tersebut, dua figur yang mengawal pemulihan Garuda menyelesaikan masa tugas dan beralih peran. Fadjar Prasetyo mengakhiri masa jabatannya sebagai Komisaris Utama setelah memimpin pengawasan selama lebih dari dua tahun. Sementara itu, Glenny H. Kairupan beralih posisi dari Direktur Utama menjadi Komisaris Utama, dan estafet kepemimpinan eksekutif kini diteruskan oleh Thomas Sugiarto Oentoro.
Peran Strategis Dewan Komisaris
Fadjar Prasetyo bergabung sebagai Komisaris Utama pada Mei 2024 dengan membawa pengalaman sebagai penerbang militer dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2020–2024. Penunjukannya hadir pada fase krusial ketika maskapai membutuhkan pembenahan fundamental untuk menjaga kelangsungan usaha dan struktur keuangan pascarestrukturisasi.
Selama masa pengawasannya, Garuda melanjutkan agenda penyehatan melalui dukungan permodalan dari BPI Danantara Indonesia senilai Rp23,67 triliun. Program tersebut dirancang untuk menopang pemulihan armada dan operasional perusahaan.
“Bagi saya, komisaris adalah penjaga arah, integritas, dan keberlanjutan perusahaan,” ungkap Fadjar dalam keterangannya di Jakarta kepada Investor Daily.
Ia juga menambahkan pandangannya mengenai tanggung jawab pengawasan korporasi. “Jabatan komisaris bukanlah puncak karier. Jabatan tersebut adalah puncak tanggung jawab,” tegasnya.
Stabilisasi Bisnis dan Kinerja Keuangan
Di sisi lain, Glenny Kairupan memegang kepemimpinan sebagai Direktur Utama sejak Oktober 2025 untuk memastikan agenda transformasi diterjemahkan menjadi stabilitas operasional. Fokus utamanya mencakup percepatan pemulihan pesawat, penguatan disiplin operasional, dan peningkatan produktivitas di tengah keterbatasan armada.
Publikasi Danantara Diaries: Rebuilding Garuda, One Minute at a Time mencatat keterlibatan Glenny dalam memantau perbaikan mesin pesawat di fasilitas GMF AeroAsia, Cengkareng. Pendekatan kepemimpinannya turut menekankan apresiasi kepada karyawan, termasuk para teknisi senior.
Upaya stabilisasi tersebut tecermin pada capaian semester I 2026. Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan sebesar USD1,80 miliar atau tumbuh 16 persen secara tahunan. Laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT naik 12,7 persen menjadi USD74 juta, sementara rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi USD113 juta, di tengah kenaikan biaya avtur sebesar 43,6 persen.
Estafet ke Kepemimpinan Baru
Thomas Sugiarto Oentoro, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025, resmi melanjutkan estafet kepemimpinan eksekutif. Melalui unggahan media sosial pada Jumat, 9 Oktober 2026, Thomas menyampaikan apresiasi kepada Glenny yang memandang maskapai bukan sekadar entitas bisnis.
“Estafet kepemimpinan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa transformasi Garuda Indonesia merupakan perjalanan lintas periode kepemimpinan. Kemajuan yang mulai terlihat yang tentu tidak terlepas dari kiprah para pengurus perseroan yang telah menyelesaikan masa tugasnya, kini menjadi pijakan bagi manajemen baru untuk memastikan pembenahan yang telah dirintis,” pungkasnya.


